Minggu, 26 Desember 2010

Letters to Juliet (2010)


Cast: Amanda Seyfried, Gael García Bernal, Vanessa Redgrave, Christopher Egan
Director: Gary Winick
Genre: Drama, Romance
Overall: 6/10

Sophie (Amanda Seyfried) melakukan perjalanan bersama kekasihnya Victor (Gael García Bernal) menuju kota Verona untuk sebuah urusan menjelang pernikahannya. Yang seharusnya hari-hari mereka habiskan bersama, justru keduanya asyik dengan kegiatan masing-masing. Victor sibuk dengan wisata kulinernya, sementara Sophie menikmati kegiatannya yang disebut sebagai sekretarisnya Juliet. Tugasnya adalah membalas setiap surat yang masuk ke sebuah rumah yang dikenal sebagai Juliet's House. Suatu hari ia menemukan sepucuk surat yang telah tersimpan bertahun-tahun lamanya. Dengan diliputi rasa penasaran ia pun mencoba menyelidiki dan berhasil bertemu sang empunya surat, Claire (Vanessa Redgrave). Dari pertemuan tersebut, akhirnya Sophie bersedia membantu Claire dalam mencari sang pujaan hati yang dimaksud dalam surat tersebut, ditemani cucunya Claire, Charlie (Christopher Egan). Dari perjalanan pencarian inilah, akhirnya Sophie akan mengerti dan menemukan cinta sejati.

Daya tarik dari film arahan Gary Winick ini, selain setting kota Eropa yang begitu indah dan menarik, pastinya datang dari sang cast utama, Amanda Seyfried. Bukan apa-apa, aktris yang namanya mulai mencuri perhatian lewat Mamma Mia!, penampilannya di sini begitu menyejukan mata bagi kaum adam yang menontonnya. Bukan karena kemolekan tubuhnya yang berani buka-bukaan, karena memang tidak ada hal seperti itu disini, melainkan aura manis dari dirinya yang begitu jelas terlihat ditambah dukungan suasana sekitarnya. Setiap hal sampai ke hal kecil, seperti mata atau rambut (pirang) indahnya bagi saya adalah sesuatu yang betah untuk dilihat. Sehingga aneh rasanya dan saya menganggap bodoh Victor, yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama kuliner ketimbang bersama seorang gadis semanis Sophie. Dan jika ditilik pun, Gael García Bernal yang melakoni sebagai sang pacar rasanya kurang klik jika disandingkan bersama Amanda Seyfried.

Dari segi cerita sebenarnya tidak ada yang baru, namun naskah ringan buatan Jose Rivera dan Tim Sullivan cukup menarik untuk disimak meski kenyataanya akhir kisahnya sendiri bisa ditebak. Tontonan semacam ini pastinya akan disukai oleh kaum hawa, namun bagi audience pria sajian ala Letters to Juliet ini dipastikan tidak akan menarik apalagi jika menontonnya seorang diri ditambah suasana hati yang bisa dibilang kurang mendukung dalam hal dunia percintaan. Lain hal jika anda sebagai pria yang sedang merasakan yang namanya jatuh cinta dan menikmati film ini bersama orang yang anda sayang, pastinya anda akan menyukai tontonan yang satu ini. Percayalah, karena itu yang saya rasa. Yukkk...!!!

Sabtu, 25 Desember 2010

TRON: Legacy (2010)


Cast: Garrett Hedlund, Jeff Bridges, Olivia Wilde, Michael Sheen
Director: Joseph Kosinski
Genre: Adventure, Action, Sci-Fi
Overall: 5/10

Satu alasan paling tepat dalam menjabarkan kekecewaan terhadap satu film yang diantisipasi jauh-jauh hari sebelum rilis adalah karena terlalu tingginya ekspektasi yang ditaruh terhadap film yang dimaksud. Hal itulah yang terjadi kepada TRON: Legacy. Bagaimana tidak, dengan menyimak trailer yang ada, sebuah pengharapan akan sajian visual menakjubkan plus kisah memuaskan sehingga menjadi sebuah tontonan terbaik sebagai penutup akhir tahun, pastinya tertumpu pada TRON: Legacy. Namun sayangnya, apa yang didapat penonton terpaksa harus gigit jari begitu usai menyaksikan proyek ambisius milik Disney ini.

TRON: Legacy sendiri adalah sebuah sekuel dari film produksi Walt Disney Pictures tahun 1982 bertajuk Tron. Filmnya sendiri sebenarnya kurang beruntung dalam hal peredarannya begitu juga tanggapan dari para kritikus. Namun belakangan, Tron sendiri banyak meraih simpati dari para penggemarnya sehingga merubah status film ini menjadi cult classic. Melihat antusias tersebut, akhirnya Disney selaku pihak studio mengumumkan mengenai proyek kelanjutan Tron, yang sayangnya bukanlah remake melainkan sebuah sekuel. Mengingat rentang waktu yang begitu panjang 28 tahun, pastinya tidak banyak audience muda yang tahu mengenai kisah sci-fi tahun 80-an ini. Lalu apakah para penonton muda tersebut kebingungan ketika memasuki dunia TRON: Legacy?

Di sinilah awal kesalahan muncul dari naskah buatan Edward Kitsis dan Adam Horowitz yang tidak menjelaskan sama sekali mengenai apa-apa yang telah ada di film pertama. The Grid, User, Programs adalah beberapa istilah yang memaksa penonton untuk menerjemahkannya sendiri. Atau mungkin penonton juga dibuat kebingungan mengapa seorang manusia ujug-ujug bisa masuk dalam sebuah dunia digital. Bukan hanya itu saja, plot kisahnya pun terbilang terlalu biasa tanpa ada greget sama sekali sehingga amat mungkin membuat penonton mengantuk karena bosan dalam menyaksikan adegan yang kurang menarik. Karena di sini pun, action yang disajikan tidak terlalu seru malah cenderung standar.

Mengenai visualisasi atau spesial effect pastinya TRON: Legacy sudah jauh melebihi pendahulunya. Di awal kita pasti akan terkagum-kagum dengan dunianya Tron termasuk peralatan canggih di dalamnya seperti benda menyerupai tongkat kecil yang bisa berubah wujud menjadi motor super keren sekaligus pesawat. Siapa yang tidak takjub dengan hal itu? Namun sepertinya hal itu tidaklah berlangsung lama, rasa takjub yang muncul di awal-awal perlahan mulai menguap tanpa ada kesan dan menjadikan apa yang kita saksikan seolah-olah adalah barang biasa. Lalu bagaimana dengan 3Dnya sendiri? Bagi saya tidak ada istimewanya sama sekali. Efeknya tidak begitu terasa, hampir semuanya hanya diisi cahaya-cahaya lampu neon belaka. Jadi intinya saya sarankan bagi anda yang berniat menonton, cukup menikmati lewat tampilan 2D saja.

Dari barisan cast, tidak ada yang tampil berkesan namun tidak bisa dibilang buruk juga. Aktor muda Garrett Hedlund lumayan baik tampilannya, tapi sayangnya perannya di sini tampaknya tidak akan bisa membuat namanya menjadi aktor muda pendatang yang patut diperhitungkan, perannya disini terlalu biasa. Begitu pun dengan barisan cast lain yang tampil ala kadarnya, tidak terkecuali aktor peraih Oscar, Jeff Bridges atau Michael Sheen yang terlalu British.

Sayang memang, apa yang ditampilkan oleh Disney lewat produk terbarunya kali ini kembali di luar pengharapan. Setelah menuai sukses gila-gilaan lewat Alice in Wonderland dan Toy Story 3, Disney dibuat kecewa dengan hasil dari film adaptasi game Prince of Persia: The Sands of Time dan The Sorcerer's Apprentice. Kini kita lihat saja sendiri apa studio raksasa tersebut bisa menuai sukses lewat produk terakhirnya di 2010 ini, mengingat proyek ini sudah disuntik dana sekitar $200 juta lebih.

Kamis, 16 Desember 2010

Babies (2010)


Cast: Panijao, Bayar, Hattie, Mari
Director: Thomas Balmes
Genre: Documentary
Overall: 6,5/10

Bayi selalu saja memperlihatkan tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan yang pastinya akan disukai oleh orang dewasa, hal itulah yang ingin disampaikan oleh Thomas Balmes lewat karya dokumenternya bertajuk Babies. Dengan durasi yang cukup sekitar 80 menit, Balmes menyuguhkan kehidupan 4 bayi dari 4 negara diantaranya, Panijio yang hidup di tengah gersangnya tanah Namibia, Afrika. Kemudian Bayar yang tinggal di pedesaan terpencil Mongolia, lalu Mari seorang bayi Jepang dan terakhir ada Hattie yang hidup di kota San Fransisco.

Bagi yang kurang berminat akan film dokumenter, anda patut mencoba karya yang satu ini. Babies, boleh dibilang sangatlah berbeda dengan film dokumenter kebanyakan, hal ini terlihat jelas dari tidak adanya sumbangsih suara sang narator guna menjabarkan setiap situasi yang sedang kita tonton. Sepanjang film kita hanya disuguhi tingkah polah dari keempat bayi, baik itu sedang tertidur, menangis, tertawa, berceloteh hingga belajar berjalan. Meski begitu, seperti yang saya bilang tadi apapun yang dilakukan oleh seorang bayi pastinya selalu menbuat orang-orang gemas melihatnya. Dan hal ini berhasil ditampilkan oleh Balmes, di mana usahanya patut kita acungi jempol. Bayangkan saja, Balmes pastinya membutuhkan ekstra kesabaran dalam menyorot kehidupan masing-masing bayi sedari lahir hingga mencapai waktu kira-kira setahun guna mendapatkan moment-moment bagus dari sang bayi.

Satu paling utama yamg membuat dokumenter ini menjadi menarik adalah perbandingan kehidupan dari keempat bintang utamanya. Di satu sisi Hattie, Bayar dan Mari mendapatkan apa yang seharusnya didapat oleh seorang bayi, meski Bayar memang sedikit tidak terpantau. Satu contoh, seperti seringnya ia berinteraksi dengan hewan peliharaan keluarganya. Namun hal itu tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan bersama kehidupan Panijao yang sungguh berbanding terbalik dengan ketiga bayi lain dan rasanya bayi dari Afrika inilah yang lebih membekas di hati penonton. Bukan karena "keterbukaan" dari orang-orang dewasa di sekitarnya melainkan lebih ke arah keprihatinan akan hidupnya. Bayangkan, ketika ia sedang merangkak di tanah, memungut tulang lalu mengulumnya atau bahkan saat ia meminum air tanah. Dan dari pemandangan itulah, kita sudah cukup tahu mengenai penyebab mengapa selama ini bayi-bayi/anak-anak dari Afrika selalu mengalami kesehatan yang buruk.

Di luar kelucuan yang saya jabarkan tadi, sebenarnya Babies menyimpan satu kekurangan. Babies memang tidak tampak seperti film dokumenter pada umumnya, isi dari film ini tidaklah memberikan pengetahuan atau berupa pesan saperti yang biasa kita dapatkan lewat film-film dokumenter kebanyakan. Sekedar lucu-lucuan dan mungkin memang itulah tujuan dari Balmes yang awalnya membuat proyek ini hanyalah untuk menghibur penonton lewat adegan lucu nan imut dari seorang bayi. Menghibur, santai dan tidak perlu bersusah payah dalam mencerna film ini ketika kita menyantapnya.

Sabtu, 11 Desember 2010

Scott Pilgrim vs. the World (2010)


Cast: Michael Cera, Mary Elizabeth Winstead, Ellen Wong, Kieran Culkin, Anna Kendrick
Director: Edgar Wright
Genre: Adventure, Comedy, Fantasy
Overall: 6/10

Jika hanya berbekal menilik dari posternya saja dimana seorang pria sedang memainkan gitarnya dan mengetahui bahwa film ini adalah satu film yang disadur dari sebuah komik, dipastikan bagi siapapun akan kesulitan untuk menerka seperti apa jalan cerita dalam film ini. Film yang diangkat berdasarkan seri komik karya Bryan Lee O'Malley ini memang bukanlah suatu karya populer seperti halnya Spiderman, Batman atau Superman. Jadi tidak heran jika akhirnya ketika film ini mulai dirilis tidak banyak orang yang tahu.

Scott Pilgrim vs. the World pun tidak tampil seperti film adaptasi komik pada umumnya jika dilihat dari sisi cerita. Inti kisahnya terbilang biasa dan dipastikan tidak akan menarik rasa penasaran akan film ini. Seorang pemuda bernama Scott (Cera) harus berjuang keras dalam mendapatkan cinta seorang gadis bernama Ramona (Winstead) namun usahanya tersebut tidaklah mudah dikarenakan Scott haruslah melawan ke-7 mantan pacar sang gadis pujaan.

Dari premisnya tentu kita sudah sering temui dalam film-film remaja. Lalu, apa jadinya jika tema seperti pengejaran cinta seorang remaja yang biasanya dituturkan secara biasa-biasa saja, kini disisipi semisal adu kekuatan ala superhero? Di sinilah letak dimana saya sedikitnya tidak bisa menerima apa yang disuguhkan oleh Scott Pilgrim vs. the World atas keabsurdan dan tidak masuk akalnya cerita. Sebagai bahan perbandingan, jika kita menonton pertarungan superhero dengan kekuatan impossiblenya bahkan melebihi apa yang dimiliki Scott, kita sebagai penonton tidaklah memandang bahwa itu adalah sesuatu yang dianggap absurd, karena apa yang ada didalamnya sudah didukung oleh situasi, orang-orang sampai tempat yang membuat kita langsung menerima tanpa bantahan sama sekali atas satu peristiwa tidak masuk akal yang sedang kita tonton. Lain hal dengan Scott Pilgrim vs. the World, cerita anehnya tidak didukung oleh poin yang saya sebutkan tadi. Satu contoh, saat Scott bertarung seperti saling pukul, ditendang, dilempar ke atas kemudian terhempas ke bawah, tidak ada satupun cedera/luka kecil yang didapatnya. Itulah satu keanehan yang tidak bisa saya terima dari film ini.

Di luar itu, sebenarnya film garapan Edgar Wright ini adalah suatu tontonan yang unik dalam hal penyajiannya. Menonton Scott Pilgrim vs. the World layaknya kita sedang menikmati sebuah komik. Hal ini terlihat dari editingnya yang berpindah cepat khususnya ketika muncul caption sebagai penambah efek suara seperti pukulan, telepon atau bel pintu. Unik, seru dan fun mungkin dirasa oleh sebagian orang atas film ini, namun bagi saya pribadi film ini hanyalah suatu tontonan yang unik dengan daya imajinasi tinggi tanpa cerita yang berarti.

Selasa, 30 November 2010

Tangled (2010)


Cast (voice): Mandy Moore, Zachary Levy, Donna Murphy
Director: Nathan Greno, Byron Howard
Genre: Animation, Comedy, Family
Overall: 7,5/10

Disney sepertinya kini harus mulai percaya diri dalam menciptakan suatu tontonan animasi menghibur sekaligus memiliki kualitas jempolan tanpa adanya campur tangan dari Pixar. Seperti kita tahu sendiri, duet Disney-Pixar boleh dibilang memiliki suatu formula yang tidak dimiliki oleh studio animasi lain sehingga rasanya sulit untuk disaingi. Dari segi cerita bolehlah produk mereka terbilang unggul dengan terdapatnya pesan moral di dalamnya. Namun jika ditilik kembali, meski pesan moral yang ada terbilang bagus rasanya jika mengingat target penontonnya adalah anak-anak, walhasil pesan moral tersebut jadinya terkesan berat. Lalu, kemanakah Disney zaman dulu yang murni menghadirkan tontonan fun bagi anak-anak tanpa adanya sisipan semacam sisi idealis ala Pixar? Terakhir produk murni dari Disney yang paling mengena ada di tahun 2008 yaitu Bolt. Kemudian tahun lalu ada proyek kuno namun dengan hasil manis, The Princess and the Frog. Dengan dua pencapaian yang memuaskan itu, pastinya harus membuat Disney bisa lebih berdiri sendiri dan mengembalikan kejayaan sebagai ahlinya studio spesial animasi.

Tahun ini, Disney kembali hadir dengan proyek animasi terbarunya mengenai kisah fairy tales yang dibalut teknologi CGI ditambah fasilitas 3D. Tangled, itulah judul animasinya. Kisahnya sendiri, bercerita mengenai seorang putri bernama Rapunzel (Mandy Moore) yang sedari kecil diculik oleh seorang wanita bernama Mother Gothel (Donna Murphy). Niat Mother Gothel sendiri adalah untuk memamfaatkan kekuatan yang dimiliki rambut Rapunzel agar dirinya tetap muda. Lalu, suatu hari Rapunzel bertemu dengan seorang pencuri bernama Flynn Rider (Zachary Levy) yang secara tidak sengaja memasuki menara tempat dikurungnya Rapunzel. Rapunzel yang sebelumnya begitu ingin melihat dunia luar, akhirnya memamfaatkan situasi ini dengan meminta si pencuri tersebut untuk menjadi pemandunya. Dari sinilah dimulai petualangannya dalam menemukan kebenaran dan cinta.

Menonton Tangled, boleh dibilang sebagai obat kerinduan bagi siapa saja yang memang menyukai kisah putri-putrian yang dulu selalu disajikan oleh Disney dengan begitu bersahaja dan mengena. Dengan balutan CGI plus 3D tentunya animasi ini akan terasa lebih up to date mengingat tema fairy tales rasanya sudah sangat terbiasa kita saksikan lewat teknik 2 dimensi. Jika sebelumnya The Princess and the Frog dengan percaya diri muncul meski teknik yang dipakai terbilang kuno, itu karena animasi tersebut memiliki modal yang bisa dijadikan sebagai sesuatu yang wajib diantisipasi. Lain hal dengan Tangled, meski animasi tetap berada dalam track cerita yang benar namun terkesan tidak adanya gebrakan baru yang cukup mengejutkan seperti yang dimiliki The Princess and the Frog. Jadi, jika Tangled tetap mengikuti cara The Princess and the Frog dalam hal teknik penyajian, rasanya akan sulit untuk membuat animasi ini dijadikan sebagai suatu tontonan yang layak tunggu.

Efek 3D yang dipakai memang hasilnya tidak begitu mengena, namun hasil dari animasinya terbilang halus ditambah warna-warna yang memanjakan mata. Sementara dari jalinan kisahnya sendiri terbilang seru dan berhasil membuat intensitas penonton terjaga. Unsur humornya lebih berasa jika dibandingkan dengan The Princess and the Frog. Sekuens komedi yang muncul dari tiap karakter terutama saat tok tak Rapunzel dan Flynn terasa begitu segar begitu pula dengan kehadiran si kuda Maximus dan si bunglon Pascal yang benar-benar mengocok perut. Jangan lupa pula, seperti biasa animasi Disney khususnya dengan tema seperti ini selalu disuguhi oleh musikal yang easy listening. Di sini, tentu saja kredit khusus kita alamatkan pada Mandy Moore, bagi saya hal ini sedikitnya mengobati kerinduan saya akan suara manisnya ia saat bernyanyi dan itu terasa begitu pas. Tapi, jangan lupakan pula sumbang suara yang pas dari cast lain seperti Zachary Levy dan Donna Murphy yang selain berdialog merekapun turut bersenandung.

Fun itulah yang saya dapat dari Tangled. Tontonan yang pasti akan disukai oleh anak-anak dan pastinya akan diminati oleh penonton dewasa pula. Lupakan plot cerita yang terbilang biasa, yang pasti saya jamin anda beserta keluarga akan terhibur oleh keseluruhan yang terkandung didalamnya.

Rabu, 24 November 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1


Cast: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter,
Director: David Yates
Genre: Action, Adventure, Fantasy
Overall: 8/10

Jika di bulan Juli lalu ada satu fenomena dimana para remaja putri dibuat klepek-klepek karena kedatangan sebuah franchise yang berisikan para vampir pucat nan charming beserta manusia serigala super keren karena perut kotak-kotaknya, di bulan ini tepatnya tanggal 19 saatnya kita menyambut kedatangan fenomena lain melalui sebuah franchise tersukses dari seri pamungkas bagian pertamanya. Mulai dari bocah, remaja hingga dewasa rasanya tersihir oleh seluruh aspek yang ada di dalamnya. Fenomena tersebut 'tak lain dan 'tak bukan adalah Harry Potter.

Seperti yang kita tahu, jilid terakhir dari petualangan Harry cs yang bertajuk Harry Potter and the Deathly Hallows, dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama dirilis bulan ini tepatnya tanggal 19 sementara bagian ke 2 dipatok untuk edar bulan Juni tahun depan. Kecewa dan ada pula yang senang. Kecewa, karena itu artinya para penonton harus rela bersabar kembali demi menyaksikan aksi Harry dan kawan-kawan dalam menuntaskan tugasnya. Tapi, di sisi lain bagi para fans berat yang tidak rela idolanya cepat berakhir di layar lebar tentunya dengan senang hati menerima kabar tersebut.

Antusias dan sedikit ragu, itu yang saya rasa dalam menanti seri ke-7 bagian pertama ini. Antusias tentunya sudah pasti, mengingat ceritanya yang makin mendekati klimaks. Namun jika mengingat hasil dari seri sebelumnya yaitu Harry Potter and the Half-Blood Prince rasanya sangsi terhadap David Yates selaku sutradara pastinya akan ada. Menuai sukses dan dibarengi oleh pujian para kritikus tidak lantas membuat saya ikut-ikutan menyanjung jilid ke-6 tersebut. Bagi saya The Half-Blood Prince adalah seri film yang paling lemah dari ke-5 jilid sebelumnya.

Bagi yang kurang puas atau sepenuhnya kecewa dengan The Half-Blood Prince, tampaknya jilid ke-7 bagian pertama ini boleh dibilang sebagai obat penghilang kekesalan dan rasanya akan melebihi ekspektasi pula. Memuaskan! Itulah yang saya sematkan untuk Deathly Hallows. Bagi saya, komentar yang dialamatkan tidaklah berlebihan. Deathly Hallows, saya anggap sebagai adaftasi Harry Potter terbaik, itu saya lihat dari berkembangnya cerita yang kini berasa dewasa dan sepenuhnya menanggalkan kesan kekanakan. Steve Kloves yang masih dipercaya sebagai penulis naskah rasanya patut diberi kredit pertama atas skrip adaftasinya yang terbilang berhasil, terlepas dari kejeniusan J.K Rowling selaku penulis novelnya. Setelah itu, David Yates lah yang bertanggung jawab penuh atas suksesnya ia dalam menangani seri ini.

Jika sebelumnya Yates dianggap sebagai orang yang beruntung karena ketidak gagalannya dalam membesut Harry Potter and the Order of the Phoenix, namun entah mengapa ketika menangani jilid berikutnya, ia seakan kurang telaten dalam menerjemahkan seri dari novel yang dianggap paling kelam menjadi suatu tontonan yang cenderung komedi dan membosankan. Menengok apa yang ditorehnya itu, wajarlah jika kemudian tidak sedikit pihak yang menyangsikan atas dipercayanya kembali Yates guna mendalangi Harry Potter the series.

Seperti sebuah penebusan, dengan dibagi duanya seri pamungkas ini, Yates begitu memamfaatkan sebaik-baiknya dengan lebih detail mengarahkan termasuk mengatur barisan cast-nya. Hal ini, tentu saja khusus kita tujukan bagi Radcliffe, Watson dan Grint yang menunjukan tajinya. Sementara yang lain, seperti dukungan dari para bintang Inggris ternama, meski rela tampil minim rasanya mereka pun tidak tampil ala kadarnya. Seperti karakter baru Rufus Scrimgeour yang dilakoni Bill Nighy, kemudian Imelda Staunton, Ralph Fiennes sampai Alan Rickman. Dan tentu saja yang paling menonjol dari jajaran tersebut adalah Helena Bonham Carter. Disini ia kembali bermain total seperti saat pertama kali ia muncul di Order of The Phoenix. Dan rasanya jika kita berbicara mengenai villain, tahun ini sudah pasti milik istri dari Tim Burton tersebut. Seperti kita tahu, tempo hari ia tampil memorable dalam Alice in Wonderland yang menutupi cast lainnya termasuk kharisma dari Johnny Depp.

Harry Potter and the Deathly Hallows bagi saya sudah jelas adalah tontonan yang mengena sebagai film hiburan. Porsi dari action, drama dan komedi hadir dengan porsi yang pas. Kehadiran tokoh Ron yang di seri sebelumnya dirasa annoying dengan kisah cinta konyolnya, kali ini munculnya ia justru menjadi sekuens komedi yang terasa cukup menggelitik. Dari segi action pun jilid ini memiliki amunisi yang cukup sehingga penonton pun tetap terjaga dan tidak dibuat terkantuk-kantuk dari durasi yang terbilang panjang. Terakhir, Deathly Hallows bagi saya adalah film terbaik dari Harry Potter the series yang pernah saya tonton. Hal ini mungkin juga dikarenakan oleh tidaknya saya membaca novelnya sebelum saya menonton filmnya sendiri. Dengan begitu kita sebagai penonton tidak akan terganggu oleh perbedaan/pembabatan plot cerita yang biasa terjadi dari sebuah film yang disadur dari media buku/novel.

Kamis, 11 November 2010

Eat Pray Love (2010)


Cast: Julia Roberts, Billy Crudup, Viola Davis, James Franco, Hadi Subiyanto, Javier Bardem, Christine Hakim
Director: Ryan Murphy
Genre: Drama, Romance
Overall: 5/10

Kegundahan hati Liz Gilbert (Julia Roberts) terhadap kelangsungan rumah tangganya bisa saja terpengaruh oleh seorang peramal Bali bernama Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) yang menyebutkan pernikahannya tidaklah berjalan lancar, hal tersebut diperkuat oleh tidak kunjung hadirnya seorang anak di tengah-tengah kehidupan mereka. Dengan kebingungan yang makin menjadi akhirnya Liz memutuskan untuk bercerai. Pasca perceraiannya, Liz bertemu dengan sosok pemuda bernama David (James Franco) yang kemudian menjadi kekasihnya. Namun apa yang dirasa kemudian olehnya tetaplah tidak menemukan satu kepuasan dalam hidup. Dengan keadaan itu, frustasi makin melandanya dan akhirnya ia memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke luar negeri dalam mencari keceriaan yang ia lampiaskan lewat makanan di Italia kemudian dilanjutkan dalam pencarian ketenangan spiritual di India selanjutnya berakhir di Bali guna menemukan cinta sejati.

Jujur, sebenarnya apa yang membuat anda tertarik untuk menyimak film terbaru dari Julia Roberts ini? Apa karena faktor Roberts kah? Atau mungkin anda termasuk yang kadung kesengsem akan kisah yang diangkat dari novel karya Elizabeth Gilbert, di mana (katanya) semua cerita di dalamnya adalah kejadian yang dialaminya sendiri. Jika ada yang berniat menonton film ini semata-mata hanya karena faktor Roberts, saya rasa hal itu pastinya sedikit. Mengapa? Karena sepertinya nama seorang Julia Roberts, kini bukanlah menjadi satu jaminan suatu film akan menarik dan bagus. Pasca kemenangannya di ajang Oscar lewat Erin Brokovich rasanya taji dari dirinya sudah mulai memudar, walhasil rata-rata dari film yang ia bintangi boleh dibilang terasa biasa dan 'tak istimewa.

Apa yang didapat dari keseluruhan film ini, bagi saya dan mungkin bagi yang sudah membaca novelnya rasanya sangatlah biasa dan tidak ada yang istimewa. Satu nilai plus hanyalah datang dari vusualisasi keindahan setting kota Italia dan panorama Bali, sementara India hanyalah kekacauan dan frustasi yang dirasa. Sejenak kita ikut terbawa oleh kepuasan Liz lewat serba-serbi makanan yang ia santap beserta tata kota Italia yang menarik, namun setelah dirasa-rasa apa yang kita simak hanyalah eat, eat and eat. Dan jika ditilik kembali sepertinya lebih asyik menonton perjalanan kulinernya Pak Bondan yang memang terasa lebih maknyus. Dilanjutkan menuju India, wisata spiritualnya sama sekali tidak mengena dan teu ngarti 'kalo kata basa sunda mah. Apa yang saya dapat lebih ke arah frustasi dan kacau. Mungkin hal ini dipengaruhi sebelumnya oleh keriangan Italia. Terakhir, inilah yang ditunggu-tunggu dan rasanya hal ini pula yang menjadi tujuan utama untuk menonton film ini yaitu Bali. Di sini, sudah jelas keindahan panorama Bali lah yang lebih banyak berbicara. Sementara segment terakhir dari petualangan Liz yang akhirnya menemukan cinta sejati sama sekali tidak berkesan. Kisah cintanya terlalu terburu-buru dan jika diperhatikan chemistry antara Roberts dan pasangan cintanya dari mulai Crudup, Franco dan Bardem tidaklah kentara.

Penampilan Julia Roberts sebenarnya tidaklah mengecewakan, akan tetapi apa yang disuguhkan lewat kemampuannya tidaklah istimewa. Hal ini dikarenakan karakter yang ia lakoni memang tidak menuntut akting yang berlebih. Sementara dukungan dari cast lain, yang namanya cukup menjual seperti Viola Davis, James Franco sampai Javier Bardem terasa tidak berarti. Satu yang mengena bagi saya, karakter Ketut Liyer yang dimainkan oleh Hadi Subiyanto. Saya suka akan senyum sumringahnya, hal itu secara tidak langsung mengingatkan saya akan sosok Mbah Kakung saya yang juga selalu memberi wejangah-wejangan yang dibarengi senyuman 'polos'nya.

Di luar serba biasanya Eat Pray Love, rasanya kita patut berbangga dengan dieksposenya Bali sebagai latar cerita. Keeksotisan pulau Dewata diperlihatkan dengan cukup baik oleh Ryan Murphy sebagai pembesut dan rasanya hal ini dipastikan akan lebih mengangkat nama Bali (Indonesia) ke tingkat dunia. Hmmmmm satu Indonesia bilang amin...AMIIINNNNN!!!!

Senin, 08 November 2010

Shutter Island (2010)


Cast: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams, Jackie Earle Haley, Patricia Clarkson, Emily Mortimer
Director: Martin Scorsese
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Overall: 9/10

Baru-baru ini kekecewaan datang dan rasanya bukan hanya dialami oleh penonton Bandung saja melainkan di beberapa luar kota pun, terpaksa harus gigit jari dikarenakan ketidak pastian datangnya The Social Network di layar bioskop. Bukan hanya kali ini saja, di tahun ini bisa kita sebut ada beberapa film yang rentang waktu rilis boleh dibilang terlampau jauh dengan rilis wilayah Jabotabek khususnya Jakarta. Sebut saja The Lovely Bones dan Shutter Island. Dua film tersebut tentunya begitu ditunggu mengingat nama sineas yang berada di belakangnya. Jika kepenasaran akan Bones perlahan pudar disebabkan review yang kurang positif lain hal dengan Island justru sebagian besar penilaian yang ada terhadap film ini relatif bagus. Di Jakarta tertanggal 3 Maret, Island sudah mulai bisa dinikmati lain hal dengan kota-kota lainnya termasuk Bandung. Butuh waktu sekitar 5 bulan lebih penonton diharuskan sabar dengan sedikit kemungkinan tidak tergoda akan media bootleg ataupun hasil download-an. Apakah hal ini dikarenakan kesalahan teknis dalam segi pemasaran ataukah memang film ini dianggap kurang komersil hingga ditakutkan dijauhi penonton?

Shutter Island mengisahkan seputar kasus penyelidikan yang dilakukan Teddy Daniels (DiCaprio) dan partnernya Chuk Aule (Mark Ruffalo) dalam mencari hilangnya seorang pembunuh secara misterius di sebuah tempat semacam penjara namun berkesan seperti Rumah Sakit Jiwa dengan tingkat keamanan paling ketat bernama Ashecliffe Hospital. Namun setelah beberapa hari penyelidikan tersebut mulai muncul keganjilan di benak Teddy ditambah bayang-bayang kelam masa lalu sang istri yang akhirnya berujung pada sebuah fakta yang benar-benar mengejutkan.

Dengan nama Scorsese sebagai penggarap dan DiCaprio melakoni peran utama tentunya penonton mengharapkan satu tontonan dengan paket berbobot jaminan mutu. Dan dengan berbekal trailer pula rasanya penonton pun dihadapkan satu sajian yang kelak membutuhkan tingkat konsentrasi penuh saat menyimaknya. Walhasil, antisipasi yang timbul sebelumnya memang terbukti. Scorsese sekali lagi menyuguhkan satu sajian yang memuaskan, dimana ini adalah film kedua darinya yang saya tonton setelah The Departed. Meski secara keseluruhan menurut saya Island berada di bawah Departed, namun apa yang saya dapat dari film ini justru melebihi dari ekspektasi saya sebelumnya.

Keberhasilan ini tentunya tidaklah digawean Scorsese sendiri. Dimulai dari barisan cast, tercatat paling utama ada nama Leonardo DiCaprio. DiCaprio di sini sekali lagi berhasil dalam menghadirkan aktingnya yang berkelas dan jauh lebih matang dan sukses menampilkan karakter depresi Teddy. Selain DiCaprio, dukungan nama lain pun seperti Michelle Williams terutama Ben Kingsley tidak ada yang tampil secara mubazir tidak terkecuali para pendukung lain yang meski kebagian porsi yang minim sebut saja Jackie Earle Haley, Patricia Clarkson dan Emily Mortimer.

Dukungan cast memang dirasa paling penting tetapi bantuan dari orang-orang yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya semisal penulis naskah dan sinematografer rasanya jadi poin yang wajib diperhatikan. Untuk sinematografer, Scorsese memakai jasa Robert Richardson yang pernah meraih Oscar lewat JFK dan The Aviator, dimana setiap apa yang ia tangkap berhasil dalam memberikan suasana misteri filmnya sendiri. Sementara untuk urusan naskah dipercayakan pada Laeta Kalogridis yang sukses menyadur kisah dari novel Dennis Lehane menjadi satu sajian yang penuh teka-teki beserta twist yang mantap.

Shutter Island bagi saya memang merupakan salah satu tontonan yang memberikan kepuasan dengan semua unsur yang ada di dalamnya. Cerita yang tanpa celah bagi penonton untuk menerka-nerka kira-kira apa yang tengah dan akan terjadi berikutnya bagi saya adalah sesuatu yang bisa membuat betah untuk terus menyimak, namun bagi sebagian penonton mungkin hal tersebut malah membuat rasa lelah keburu hinggap, akan tetapi rasanya kelelahan tersebut akan terbalas dengan ending mengejutkan yang bagi saya ini adalah eksekusi terbaik yang pernah saya dapat. Dengan kenyataan bahwa film ini pernah mengalami pengunduran jadwal rilis dan disinyalir merupakan awal dari kegagalan suatu film, nyatanya hal itu tidaklah terbukti. Dengan hasil box office yang tembus diatas $100juta dibarengi review yang bagus Shutter Island tentunya merupakan sebuah proyek dengan hasil yang sempurna. Sementara bagi saya, yang dibarengi penantian panjang, tentunya tidak sia-sia karena akhirnya kita diberi satu kata, MEMUASKAN!!!

Kamis, 28 Oktober 2010

How to Train Your Dragon (2010)


Cast (voice): Jay Baruchel, Gerard Butler, America Ferrera, Craig Ferguson etc
Director: Dean DeBlois, Chris Sanders
Genre: Animatoin, Adventure, Comedy, Family
Overall: 8/10

Hiccup (Jay Baruchel) adalah seorang pemuda keturunan bangsa Viking dimana sang ayah merupakan petinggi di daerahnya. Namun jika dibandingkan dengan pemuda yang lainnya, Hiccup justru terlihat paling lemah dan tidak tampak seperti seorang keturunan bangsa Viking yang tangguh khususnya dalam melawan seekor naga karena di sini diceritakan bahwa bangsa Viking selalu bertarung melawan para naga. Namun dibalik penampilannya, justru Hiccup menyimpan satu kelebihan yang 'tak dimiliki oleh yang lain. Perlakuan terhadap naga yang dianggapnya salah berhasil ia luruskan dengan menerapkan beberapa cara yang ia temukan lewat seekor naga Night Fury bernama Toothless, jenis naga paling berbahaya yang berhasil ia jinakan. Dari sinilah dimulai usaha Hiccup untuk mengubah pandangan bangsa Viking terhadap naga selama ini termasuk membuktikan kepada sang ayah yang cenderung kecewa akan pribadinya.

Rugi dan menyesal, itulah yang saya rasakan ketika selesai menonton animasi ini. Bukan karena jalan cerita ataupun animasinya tapi lebih karena saya tidak menonton film ini dari awal-awal ketika film ini baru rilis. Saya memang termasuk salah satu yang kurang begitu semangat dengan produk-produknya Dreamworks, misal sebut saja Shrek dan Kung Fu Panda. Kedua film tersebut saya tonton jauh dari waktu rilisnya. Dan walhasil sama seperti yang saya rasa ketika menikmati How to Train Your Dragon (HtTYD), merugi karena telat.

Mengagumkan, itulah yang saya sematkan akan keseluruhan film ini. Fun factor yang dimiliki mungkin masih di bawah Shrek atau Panda namun dari segi cerita justru HtTYD jauh lebih enak untuk dinikmati. Dari awal hingga akhir intensitasnya tetap terjaga. Ceritanya benar-benar menarik. Dan yang paling unggul dari segala sisi adalah hasil dari animasi yang ada. Seperti yang saya sebutkan tadi, mengagumkan dan jika boleh saya bilang HtTYD adalah animasi tahun ini yang paling bagus dalam hal visualisasi sampai saat ini. Setiap gambar yang tersaji begitu detail dan indah. Dan rasanya akan lebih luar biasa jika menikmatinya lewat suguhan format 3D.

Mungkin ada beberapa diantara anda yang sama seperti saya, masih menunda-nunda untuk menonton film ini atau bahkan ada yang tidak tertarik. Mungkin bisa saja dikarenakan anda pecinta berat produk Disney-Pixar dan rasanya sedikit tidak rela film ini menuai pujian dimana-mana, mengingat juga Dreamworks adalah rival terberat dan sepertinya harus berhati-hati juga karena bisa jadi HtTYD akan jadi saingan berat Toy Story 3 (TS3) di ajang Oscar nanti. Saya akui HtTYD memang memiliki hasil animasi yang jempolan tapi jika dibanding TS3 dalam hal kisah, saya pikir lebih mengena animasi milik Diney-Pixar itu. Itu penilaian saya pribadi, tapi yang jelas jika anda menginginkan satu tontonan keluarga yang tidak hanya masuk bagi anak-anak saja tapi juga cocok bagi penonton dewasa, anda wajib mencoba mencoba animasi yang satu ini.

Senin, 25 Oktober 2010

Eternal Summer (2006)


Cast: Bryant Chang, Hsiao-chuan Chang, Kate Yeung
Director: Leste Chen
Genre: Drama
Overall: 7/10

Unsur seksualitas, saat ini memang sangat lumrah digunakan dalam sebuah film. Baik itu hanya sekedar tempelan belaka ataupun sebagai sajian menu utama. Penyajian secara normal atau heteroseksual tentunya sudah sangat umum, namun ada pula unsur yang dihadapkan pada penonton adalah sesuatu yantg boleh dibilang menyimpang, dalam hal ini yaitu homoseksual. Sudah banyak film yang menyisipkan ataupun sepenuhnya mengangkat tema yang masih dianggap tabu ini walaupun sebenarnya keberadaan homoseksual sekarang ini sudah mulai berani secara terang-terangan muncul kepermukaan. Termasuk di dunia film yang rasanya memang begitu banyak yang sudah hadir dan secara tidak langsung memberi tahu kepada kita tentang keeksisan kaum ini. Ada yang dibuat pure sensual belaka tapi tidak sedikit pula yang hadir dengan paket bermutu. Beberapa film bisa kita sebut seperti Maurice (1987), Brokeback Mountain (2005), Milk (2008) serta wakil dari Asia, No Regret (2006) dan Eternal Summer (2006).

No Regret pernah saya review sebelumnya dengan segala keberanian dan kejujurannya. Kini giliran Eternal Summer yang hadir dengan segala kesederhanaannya namun mengena. Bercerita tentang cinta segitiga lebih tepatnya cinta segitiga 'tak normal antara tiga sahabat Jonathan, Shane dan Carrie. Jonathan dan Shane sudah bersahabat dari bangku sekolah dasar, ketika memasuki sekolah menengah munculah Carrie yang diam-diam menyukai Jonathan hingga pada suatu hari ia mengajak Jonathan untuk menyewa sebuah kamar dan mengajaknya untuk melakukan hubungan intim. Namun entah mengapa tiba-tiba Jonathan menolak dan dari sini muncul kecurigaan Carrie yang mengisyaratkan bahwa Jonathan adalah penyuka sesama jenis dan di sini mungkin saja ia menyukai sahabatnya Shane. Waktu berjalan sampai mereka memasuki bangku kuliah, ketiganya masih menjalin persahabatan hanya saja kini Carrie menjalin hubungan bersama Shane tanpa diketahui oleh Jonathan, namun lama kelamaan hubungan mereka pun diketahui juga olehnya. Sakit hati dan kecewa menyelimuti Jonathan hingga akhirnya melakukan sebuah 'kenekatan' sementara itu rasa menyesal menyelimuti Shane dan Carrie hingga berbuah 'tindakan' Shane yang semakin memperburuk jalinan persahabatan mereka.

Bagi penonton umum, khususnya yang kurang begitu suka akan genre drama apalagi jika kita mengingat tema yang ada, walhasil mungkin rasa bosanlah yang akan didapat. Mengapa demikian? Ini dikarenakan oleh alur dari film ini berjalan dengan begitu perlahan, namun justru disinilah kuncinya. Dengan tidak terburu-buru, kita sebagai penonton akan lebih merasakan sisi emosional dari cerita yang ada dan kita pun seperti ikut terbawa oleh apa yang dirasakan dari ketiga tokoh utama. Dan hasilnya disini tentu saja, cara ini berhasil dalam menggali cerita dan pengembangan karakter secara maksimal. Ketiga tokoh utama pun menyatu hingga menciptakan chemistry yang pas. Satu lagi poin plus dari film ini adalah penggambaran sosok gay di sini tidaklah stereotype seperti yang diperlihatkan di film-film sejenis.

Eternal Summer memang sebuah tontonan pure drama. Dan bagi anda pecinta drama bermutu rasanya patut untuk menjajal film yang satu ini. Memang temanya tabu, tapi disini tidaklah dijabarkan dengan begitu gamblang namun hadir dengan porsi pas sehingga menciptakan suatu cerita yang terasa real dan mampu membuat penonton dengan mudah bisa menerima. Sederhana namun mengena, itulah Eternal Summer.

Rabu, 20 Oktober 2010

Aftershock (2010)


Cast: Jingchu Zhan, Chen Li, Fan Xu
Director: Xiaogang Feng
Genre: Drama
Overall: 5,5/10

Aftershock merupakan sebuah film yang ceritanya sendiri berdasarkan kisah nyata dimana China pernah diguncang gempa terbesar di tahun 1976. Dan film ini juga di buat berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Zhang Ling. Filmnya sendiri berkisah tentang sebuah tragedi yang menyebabkan satu kelurga terpisah karena bencana gempa. Gempa dengan kekuatan besar meluluhlantakan kota Tangshan dan memakan banyak korban termasuk keluarga Fang Qiang, dimana ketika ia hendak menyelamatkan anak kembarnya, malang ia malah tertimpa reruntuhan gedung sementara kedua anaknya pun ikut tertimbun di reruntuhan itu. Sang istri kemudian berusaha untuk menyelamatkan kedua anaknya yang didapati masih hidup, namun akhirnya ia dihadapkan pada keputusan yang teramat sulit untuk ia ambil.

Di awal film kita disuguhi oleh visualisasi gempa yang boleh dibilang cukup meyakinkan untuk ukuran film Asia. Namun jangan samakan dengan 2012 misalnya, karena memang sangat jauh (mungkin mengingat dari budget yang ada juga kali ya). Ceritanya sendiri tidak menitik beratkan pada tragedi gempa. Bencana tersebut hanyalah latar belakang untuk jalinan kisah yang akan disampaikan sepanjang film, dimana porsinya lebih banyak menyuguhkan drama keluarga sebagai sajian utama yang sayangnya hasil yang ada (bagi saya) justru membosankan.

Awal-awal film sebenarnya kita sudah disuguhi oleh kisah yang mengharu biru. Akan tetapi, setelah menuju cerita dua plot utama antara Fang Deng dan Fang Da yang beranjak dewasa, intensitas dari film ini terasa kedodoran dengan dipenuhinya durasi film oleh keseharian mereka yang sebenarnya tidaklah penting dan menarik. Film ini pun dieksekusi dengan kurang memuaskan dan itu terasa dari scene-scene yang dihadirkan dengan cepat hingga kesannya ingin segera menyudahi film yang durasinya sudah terlalu panjang itu. Hal ini semakin dibuat kecewa dengan dicomotnya tragedi lain sebagai penghubung kisah untuk membuat klimaks yang ada dan rasanya hal ini malah terkesan dipaksakan.

Aftershock bagi sebagian orang memang merupakan film yang begitu emosional namun bagi saya film ini termasuk yang mengecewakan khususnya dari segi naskah. Kendati begitu film ini masih menyimpan nilai yang cukup dari para pemainnya dalam menyampaikan emosi dari karakter yang mereka lakoni ke hadapan penonton. Menyimak Aftershock rasanya seperti menyaksikan serial drama Korea/China beberapa episode dalam satu waktu.

Sabtu, 16 Oktober 2010

New York, I Love you (2009)


Cast: Bradley Cooper, Andy Garcia, Hayden Christensen, Orlando Bloom, Christina Ricci, Natalie Portman, Ethan Hawke, Maggie Q, Julie Christie, Shia LeBeouf, etc
Director: Mira Nair, Natalie Portman, Brett Ratner, etc
Genre: Drama, Romance
Overall: 5,5/10

Ada satu film di tahun 2006 yang bagi saya film tersebut memang memberikan kesan tersendiri atas apa yang disuguhkan lewat jalinan kisah cinta beragam di kota yang disebut-sebut sebagai kota paling romantis yaitu Paris. Film tersebut disutradarai oleh beberapa sineas handal dan dibintangi oleh aktor/aktris yang tentunya menyedot perhatian para moviegoers. Film yang saya maksud bertajuk Paris, je t'aime.

Tidak memuaskan memang jika kita menengok hasil laba yang diperoleh film tersebut tapi harus kita akui Paris berhasil dalam menyajikan kisah cinta berkesan pada penontonnya. Mungkin berkaca pada apa yang diperoleh Paris pula dan berharap mampu menuai lebih, sang kreator Emmanuel Benbihy memutuskan untuk memulai proyek terbaru dimana konsepnya memang sama persis dengan menyajikan beragam kisah cinta dalam durasi pendek namun berbeda kota. Kali ini kota yang digali love story-nya adalah New York. Dan proyeknya ini diberi judul New York, I Love You.

Dari barisan cast, New York memang jauh lebih menarik dibanding Paris. Namun sayang hal tersebut tidaklah membuat filmnya sendiri ikut menarik dalam segi cerita. Beberapa segmen kisah cinta yang hadir, nyatanya terasa biasa dan kurang asyik untuk disimak. Ada satu yang membingungkan bagi saya datang dari jalinan cintanya Natalie Portman. Jujur saya tidak bisa menangkap maksud tujuan dari segmen yang satu itu. Meski begitu, ada juga beberapa bagian yang tidak mengecewakan seperti segmennya Anton Yelchin, kisah cintanya Shu Qi dan yang paling menarik sekaligus menggelitik datang dari pasangan udzur Eli Wallach dan Cloris Leachman.

Secara keseluruhan jika dibandingkan, New York memang tidak mampu melampaui bahkan menyamai hasil dari Paris. Sineas yang ikut andil memang terasa asing namun berhasil dalam mengarahkan aktor/aktris ternama yang direkrut, sayangnya hasil dari film ini justru tidak maksimal jika tidak ingin disebut gagal dalam memberikan kesan pada penontonnya. Meski kisah cintanya bervariatif namun terasa kurang menarik sehingga cenderung membosankan, mungkin hal ini ditambah pula oleh setting kota yang memang kurang begitu berasa atmosphere romantisnya. Kira-kira untuk kedepannya akan ada kisah-kisah kota cinta lagi kah? Mungkin sineas kita ada yang latah dengan membuat proyek sejenis dan mungkin saja proyek tersebut bertajuk "Jakarta, Aku Cinta Kamu".

Kamis, 07 Oktober 2010

Superhero Movie (2008)


Cast: Drake Bell, Sara Paxton, Christopher McDonald
Director: Craig Mazin
Genre: Action, Comedy
Overall: 4,5/10

Yang namanya film parodi memang tidak bisa dinilai akan kualitas yang dimilikinya. Karena toh apa yang ada didalamnya pun hanyalah dari beberapa film hits yang dicomot kemudian diplesetkan. Kesuksesan Scary Movie dalam mengemban misinya sebagai film parodi yang memplesetkan beberapa film horror sukses dan memang boleh dibilang berhasil dalam mengocok perut ditambah raupan dollar yang cukup tinggi akhirnya memunculkan beberapa film dengan konsep sejenis yang tentunya berharap dapat melebihi apa yang dituai Scary Movie paling tidak mungkin menyamai. Sebut saja Date Movie, Epic Movie, Disaster Movie, Meet The Spartan dan terakhir yang baru saya tonton adalah Superhero Movie.

Rick Riker adalah sang tokoh utama yang dilakoni oleh Drake Bell dimana ketika ia hendak memotret beberapa hewan di laboratorium tanpa disadari olehnya, seekor capung yang terkena radio aktif menggigitnya. Cukup sampai di sini saya menjabarkan premisnya, karena pada kenyataannya premis dari film sejenis ini tidak begitu penting bukan? Dan saya yakin dari sedikit premis tadi anda bisa menebak kisah apa yang diambil oleh film parodi yang satu ini.

Menyaksikan film parodi tentunya bagi sebagian penonton yang menganggap film bukan hanya sekedar hiburan semata adalah suatu bencana namun di sisi lain tidak sedikit pula penonton yang merasa terhibur bahkan dibuat puas oleh kelucuan yang ada. Masih ingat rasanya dengan film parodi yang saya tonton, Meet The Spartans yang begitu over dimana niatnya melucu malah hasilnya sangatlah tidak lucu.

Apa yang ditoreh Superhero Movie bagi saya ada sedikit nilai plus jika dibandingkan dengan para pendahulunya . Meski film dipenuhi oleh adegan slapstick nyatanya hal tersebut terasa beda dan nilai lucunya sedikit diatas film-film sejenis. Nilai plus yang saya maksud tadi boleh jadi karena tidak ditemukannya semacam adegan-adegan parodi seks yang cenderung jorok seperti yang saya dapat di Scary Movie atau pun tema-tema kontroversial yang diolok-olok seperti dalam Meet The Spartans. Alur ceritanya pun cukup asyik untuk terus diikuti karena tidak banyaknya hal-hal yang dirasa memaksa seperti yang saya temukan difilm parodi sebelumnya hingga akhirnya terkesan over.

Sulit memang untuk menilai film yang berada dalam teritory ini. Karena mengingat isinya hanyalah olok-olok, parodi, plesetan, tanpa adanya ide original dan kreativitas tentunya kita tidak dapat menilai bagus atau tidaknya film jenis ini. Tidak bagus itu sudah pasti. Mungkin lebih tepatnya hanya dua penilaian yang bisa kita ambil, lucu atau tidak.

Selasa, 05 Oktober 2010

Killers (2010)


Cast: Asthon Kutcher, Katherine Heighl
Director: Robert Luketic
Genre: Action, Comedy
Overall: 3/10

Sangsi memang ketika mengetahui nyatanya Killers bukanlah suatu tontonan komedi romantis melainkan film bergenre action yang dibalut oleh komedi. Lalu apa pasal sebenarnya yang membuat saya beranggapan bahwa film yang digawangi oleh Robert Luketic ini adalah film komedi romantis? Melihat dari poster yang memajang Kutcher dan Heighl sebagai cast utama bagi saya pribadi sudah bisa yakin akan arah dari cerita film ini meski judulnya sendiri menggunakan kata yang lumayan 'sangar'. Selain itu dengan melihat filmography dari sang pemain begitupun sutradara adalah orang-orang yang lebih banyak berkutat di jalur komedi.

Lupakan Heighl karena sudah jelas kehadirannya disini hanyalah sebagai pemanis belaka. Kutcher lah yang dirasa paling meragukan. Menengok banyak peran tipikalnya sebagai pemuda/pria bodoh nan ceria plus wajah ganteng rasanya sedikit ragu ketika harus berperan sebagai (mantan) pembunuh bayaran. Lalu bagaimana dengan Luketic? Apa jadinya action comedy besutannya ini? Meski pernah menangani 21 tapi rasanya film itu sangatlah tidak mengena di hati penonton dan soal unsur komedinya sendiri tampaknya rasa humor dari film-filmnya semakin menurun semenjak Legally Blonde.

Kutcher tentunya masih terlihat begitu charming di mata para wanita namun di luar itu ia gagal total dalam menampilkan perannya di sini. Maunya bersikap serius tapi kok malah kaku dan ketika sedikit mengeluarkan humornya ia terlihat sedikit over dan makin kentara bahwa peran ini bukanlah untuknya. Sementara Heighl tampil apa adanya karena memang peran yang ia lakoni disini tidaklah penting dan 'tak menuntut akting yang lebih. Kebodohannya boleh lah tapi ketika menemani Kutcher dalam beraksi bukannya membantu tambah seru dan lucu malah terkesan mengganggu. Dan sudah jelas dengan melihat itu semua chemistry diantara keduanya, nihil.

Menonton Killers mengingatkan saya pada Knight and Day (KaD) yang memang belum berselang lama dalam perilisannya. Sama-sama hadir dalam balutan action comedy namun hasilnya begitu jauh berbeda. Jika KaD berhasil dalam mengemban misinya sebagai tontonan aksi ringan yang menghibur, sedang Killers jika diibaratkan berjalan hasilnya justru sempoyongan dalam keseluruhan penyajiannya. Setiap scene action yang ada terasa sangat tidak asyik untuk dinikmati. Terlalu standar dan sangat biasa. Tengok setiap aksi yang dilakukan Kutcher, maunya terlihat keren dan hebat malah kesannya jatuh seperti seorang amatiran. Begitu pula dengan sisi komedinya yang tidak mampu membuat penonton (bagi saya sih) tertawa puas. Walaupun ada, hanya senyum sungging yang muncul. Luketic sudah pasti gagal dalam mempersembahkan karya terbarunya ini, beberapa bagian yang 'tak menarik tadi belum seberapa dengan eksekusi yang dibuat. Ending dari film ini benar-benar 'tak masuk akal dan payah walhasil untuk sejauh ini, film inilah yang menurut saya memiliki ending yang paling buruk.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole


Cast (voice): Jim Sturgess, Helen Mirren, Ryan Kwanten, Hugo Weaving, Geofrey Rush, Anthony LaPlaglia, Sam Neil, Emily Barclay
Director: Zack Snyder
Genre: Animation, Adventure, Fantasy, Family
Overall: 7/10

Tahun ini boleh dibilang sebagai tahunnya film animasi. Dari list yang saya buat dimana 10 dari film berkesan yang saya tonton sudah ada 3 buah judul film animasi yang mengena. Tercatat Toy Story 3 yang paling unggul dalam hal cerita begitupun dengan animasinya. Diikuti oleh How To Train Your Dragon dan Despicable Me yang super ringan namun sarat akan hiburan yang tinggi. Kini hadir kembali satu animasi yang pastinya akan saya masukan dalam daftar karena memang apa yang saya tonton boleh dibilang memuaskan. Animasi yang baru saya tonton itu bertajuk Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole (LotG:TOoG)

Filmnya lebih menitik beratkan pada petualangan seekor burung hantu muda bernama Soren (Jim Sturgess) dalam menemukan para Guardian guna mencegah rencana jahat Metalbeak (Joel Edgerton) seekor burung hantu yang berniat menguasai sekaligus membalaskan dendam atas kekalahannya saat pertempuran dulu. Petualangannya diawali ketika dirinya beserta kakaknya Kludd (Ryan Kwanten) diculik oleh dua ekor burung hantu yang merupakan bawahan Metalbeak. Soren dan kakaknya di masukan ke dalam tempat dimana para burung hantu muda lain disekap dan akan dijadikan budak. Di sini ia bertemu Gylfie (Emily Barclay) yang berniat melarikan diri sementara kakaknya justru lebih memihak pada Metalbeak terlebih ketika ia dipuji oleh Nyra (Helen Mirren).

Menilik dari filmaker yang berada dibelakangnya yaitu Zack Snyder sebenarnya ada dua hal yang saya rasa. Pertama, dengan melihat hasil dari karya-karyanya semisal Dawn of the Dead, 300 dan terakhir Watchmen yang rata-rata mendapat sambutan baik dari para kritikus tentunya antusias kita terbilang tinggi akan proyek terbarunya ini. Namun, di satu sisi ada sedikit keraguan mengingat film ini tentunya diperuntukan bagi semua kalangan. Padahal jika kita lihat dari kemasan film-film miliknya, sarat akan muatan yang diperuntukan bagi audiens dewasa. Hal ini mengingatkan saya pada dua nama sineas yang memang pernah mencoba peruntungannya ketika beralih ke lahan baru yang bukan spesialis mereka yaitu Mike Newell dan M. Night Shyamalan. Bisa saja Snyder sukses seperti halnya Newell ketika mencoba genre adventure, fantasy, family lewat Harry Potter And the Goblet of Fire. Tapi bisa juga ia bernasib apes layaknya Shyamalan ketika menggarap The Last Air Bender kemarin. Nah, lalu bagaimana hasilnya ketika saya selesai menonton film anyarnya ini?

Bagi saya bisa dibilang puas meski cerita yang ada terbilang biasa. Namun saya kurang begitu yakin bagi anak-anak apakah mereka menikmati tontonannya kali ini? Ceritanya memang biasa dan jika ditilik lagi sedikitnya mengingatkan saya pada inti kisah dari trilogy The Lord of the Rings. Sebagai film animasi yang memang diperuntukan bagi semua umur LotG:TOoG serasa kekurangan satu amunisi yaitu fun factor, dalam hal ini mengenai humor-humor yang tentu saja khusus ditujukan bagi anak-anak. Kekurangan itulah yang menyebabkan LotG:TOoG cenderung kearah yang lebih berat dan serius. Dan dari segi inilah jika boleh saya katakan Snyder kurang begitu berhasil dalam mempersembahkan tontonan bagi keluarga.

Meski begitu apa yang disuguhkan Snyder jauh dari kata mengecewakan. Para burung hantu tampil dengan begitu lincah ketika melakukan berbagai aksinya. Dalam hal ini adalah ketika mereka melakukan sebuah pertempuran yang boleh saya bilang tidak kalah seru dengan battle-nya para Sparta dan akhirnya terasa berkesan ketika Snyder menyisipkan beberapa slow-motion kedalamnya. Memang ketika mengetahui bahwa para burung hantu ini akan menggunakan tameng juga cakar besi rasanya agak aneh. Namun, ketika melihat secara keseluruhan apa yang mereka pakai hasilnya terlihat keren dan pas. dan rasanya mulai saat ini anak-anak 'tak akan menganggap binatang yang satu ini termasuk kedalam golongan hewan yang menakutkan.

Dalam hal pengisi suara, saya lebih takjub akan Helen Miren yang mengisi suara tokoh antagonis Nyra. Sementara yang lain tidak kurang dan tidak lebih dalam sumbangsih suaranya. Lalu dari musik yang ada terasa sejalan dalam mengiringi setiap adegan, mungkin hanya di bagian lagu Jason Mraz yang agak sedikit mengganggu.

LotG:TOoG bolehlah saya bilang biasa dalam cerita tapi lain hal dengan animasinya yang jempolan. Animasi yang dihasilkan oleh Animal Logic yang sebelumnya sukses dalam membuat animasi Happy Feet dan pernah juga bekerja sama dengan Snyder lewat 300, hasilnya terbilang sempurna. Saya begitu kagum walau hanya menikmati melalui format 2D dan saya yakin jika ditonton dalam format 3D hasil animasinya pasti akan lebih mengagumkan.

LotG:TOoG akhirnya memang menjadi tontonan yang berkesan khususnya bagi para penonton dewasa yang sudah jenuh akan tontonan animasi yang begitu kental akan aura anak-anaknya. Tapi disatu sisi film ini juga kurang begitu menjangkau target sebelumnya. Namun melihat hasil yang ada begitupun dengan ending juga nyatanya bahwa film ini adalah saduran dari novel yang memiliki 15 episode pastinya untuk lanjut pada jilid berikutnya bisa saja terbuka lebar. Sekarang tinggal tunggu saja hasil laba dari film ini. Mengapa harus laba? Tentu saja karena faktor utama dibuatkannya sekuel adalah perolehan laba yang fantastis. Namun sayangnya jika kita lihat hasil dari box-office ketika tulisan ini saya buat, di minggu pertamanya raupan aksi para burung hantu ini cukup mengecewakan hanya sekitar $ 16,1 juta, termasuk jumlah yang sangat kecil untuk ukuran film animasi keluarga. Hmm...

Senin, 27 September 2010

Frozen (2010)


Cast: Emma Bell, Kevin Zegers, Shawn Ashmore
Directore: Adam Green
Genre: Drama, Thriller
Overall: 7/10

Malang bagi Parker (Emma Bell), Lynch (Shawn Ashmore) dan Dan (Kevin Zegers) ketika operator kursi lift ski yang mengizinkan kenekatan mereka untuk pulang di malam hari akhirnya malah menyerahkan tugas kerjanya pada rekannya yang menimbulkan kesalah pahaman sehingga menyebabkan mereka terjebak di kursi lift tersebut dengan kenyataan tidak ada seorang pun yang tahu akan keberadaan mereka di atas sana. Hal ini semakin diperparah akan ditutupnya tempat tersebut selama lima hari ke depan dikarenakan akan datangnya cuaca buruk. Dimulailah ketakutan dari tiga kawan tersebut dengan mengambil keputusan apakah akan bertahan dengan kemungkinan terserang hyportemia ataukan terjun dengan kemungkinan patah tulang.

Melihat dari premis dan trailer yang ada jelas Frozen sudah pasti diperkirakan bukanlah suatu tontonan thriller yang bisa membuat ketegangan berarti bagi penonton. Namun secara mengejutkan apa yang dihadirkan Adam Green selaku sutradara dan penggagas cerita boleh dikata sangatlah berhasil dalam menyajikan suatu ketegangan dengan ruang lingkup nyata tanpa harus menjejalkan scene-scene klise yang biasa ditampilkan oleh genre thriller kebanyakan dan hasilnya malah jauh lebih menegangkan. Ketegangan penonton berhasil dipancing dengan tensi yang terus berkembang ditambah emosi antar cast ketika berjuang bertahan begitu jelas terasa dengan dialog yang terlihat natural.

Minim setting, minim karakter dan minim durasi memang tapi hal itu jelas menjadikan suatu tontonan yang tergali secara maksimal untuk menciptakan suatu film thriller tegang yang jauh lebih berkesan menakutkan. Bosan dengan gadis seksi malang yang menjerit-jerit lalu modar karena dikejar-kejar monster atau psikopat? Cobalah Frozen eerrrrrr...

Passengers (2008)


Cast: Anne Hathaway, Patrick Wilson, Dianne Wiest, David Morse
Director: Rodrigo Garcia
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Overall: 6/10

Cukup mengejutkan memang ketika mengetahui film produksi dua tahun lalu dan di Indonesia sudah beredar satu tahun lalu yang dibintangi Anne Hathaway bertajuk Passengers nyatanya baru tayang dibioskop Bandung tahun ini. Rentang waktu yang amat panjang memang. Dan rasanya mungkin bagi sebagian penonton pun kurang begitu antusias akan kehadiran film ini karena pada kenyataannya pun film ini sudah ada dalam bentuk DVD yang bisa disewa atau bahkan bisa dinikmati lewat tv kabel yang biayanya jauh lebih murah ketimbang membeli tiket bioskop di XXI.

Passengers memang sebuah film drama thriller yang dalam peredarannya begitu terbatas. Hal itu mungkin disebabkan oleh kandungan isi film yang nyatanya bisa saja membuat penonton kebosanan akan alur cerita yang ada. Alurnya berjalan begitu lambat dan penonton yang terbiasa akan suguhan kisah thriller yang menegangkan dipaksa untuk terus tenang dan sabar dalam menyimak scene demi scene dari film yang aroma thrillernya kurang begitu terasa.

Namun sang sutradara Rodrigo Garcia memberikan klimaks pada ending dengan menyajikan twist ending yang tidak bisa ditebak sebelumnya oleh penonton. Dan hal ini rasanya sedikit mengobati suntuknya penonton akan kesabaran dalam menyimak kisah buatan Ronnie Christensen ini. Meski memang tidak semantap twist yang dimiliki The Others atau The Sixth Sense.

Passengers memang bukan suatu tontonan yang istimewa dan berkesan namun bagi para fans Anne Hathaway rasanya film ini patut dijajal karena sekali lagi disini ia membuktikan dirinya mampu berakting pasca penampilannya yang gemilang lewat Rachel Getting Married. Sebagai selingan tontonan boleh lah...silahkan coba.

Changeling (2008)


Cast: Angelina Jolie, John Malkovich, Jeffrey Donnofan, Michael Kelly, Jason Butler Harner
Director: Clint Eastwood
Genre: Drama, Thriller
Overall: 7,5/10

Clint Eastwood memang sudah tidak diragukan lagi kapasitasnya sebagai aktor terlebih ketika dirinya turun tangan menjabat sutradara. Dua gelar sutradara terbaik lewat Unforgiven (1992) dan Million Dollar Baby (2004) dalam ajang penghargaan tertinggi perfilman dunia Academy Awards adalah sebagai bukti nyata dan semakin mengukuhkan dirinya sebagai salah satu sineas terbaik dimana setiap karya yang ia telurkan hampir selalu memiliki kualitas yang jempolan. Selain membawa filmnya masuk dalam jajaran terbaik di setiap ajang festival, barisan cast yang ia arahkan pun dimana tercatat nama Sean Penn, Tim Robbins, Hillary Swank, dan Morgan Freeman sukses dalam membawa pulang Oscar termasuk nama-nama aktor/aktris lain yang digarap olehnya minimal masuk sebagai nominasi.

Melihat keberhasilan tersebut Eastwood pun dikenal sebagai sineas yang piawai dalam mengarahkan aktor/aktrisnya. Mungkin karena itu pula yang menjadikan Angelina Jolie tertarik dan bersedia diarahkan untuk melakoni peran seorang ibu yang kehilangan anaknya, dimana ceritanya sendiri diangkat berdasarkan kisah nyata di tahun 1928 dalam film yang bertajuk Changeling.

Jolie memerankan sosok single parents bernama Christine Collins yang tengah dilanda kegelisahan karena kehilangan anaknya ditambah tuduhan oleh pihak kepolisian setempat yang menyatakan dirinya mengalami depresi berat karena menolak putranya yang telah berhasil ditemukan karena kenyataannya bocah tersebut bukanlah putranya. Kasus Collins sendiri mendapat sorotan besar dari media dan mendapat dukungan simpati dari pendeta Gustav Briegleb (John Malkovich) beserta pengikutnya untuk menguak kebenaran yang ada.

Entah mengapa saya kurang begitu tertarik akan satu karya dari Eastwood ini dan bagi saya Changeling memang bukan pilihan utama dalam menikmati film-film yang masuk jajaran terbaik Oscar 2009. Baru minggu ini akhirnya saya menonton dan cukup menikmati tontonan drama berbalut thriller yang awalnya saya pikir akan cukup berat dalam menyantapnya. Namun walhasil Changeling boleh dibilang merupakan sebuah tontonan yang cukup ringan dengan jalinan kisah yang 'tak begitu rumit tapi tensinya tetap terjaga. Meski durasi yang ada memanglah panjang namun Eastwood cukup berhasil membuat penonton begitu bersimpati dan betah dalam menikmati suguhan cerita atas apa yang menimpa sosok yang dilakoni Jolie.

Satu kelemahan dari film ini, terletak pada eksekusi yang ada terasa terlalu dipanjang-panjangkan dan memaksa penonton menyimak suatu rentetan happy ending yang sebenarnya sudah cukup diakhiri ketika tokoh Collins sendiri bisa menerima kenyataan nasib tragis yang dialami putranya dan hal itu tentu saja terlepas dari kisah nyata yang ada.

Changeling memang bukan suatu film yang menonjol dalam naskah melainkan barisan cast lah yang menyelamatkan film ini dan hal ini tentu saja tidak terlepas dari keberhasilan Eastwood yang sekali lagi sukses dalam menggarap setiap pemain yang direkrutnya. Jolie memang yang paling disorot akan kesuksesannya dalam menyampaikan emosi namun bagi saya justru Jason Butler Harner (Gordon Northcott) lah yang terasa paling berkesan meski porsi tampilnya sangatlah sedikit. Mimik, gerak tubuh dan nada bicaranya terlihat brillian dan coba tengok siapa yang tidak merinding ketika ia menyanyikan lagu Holly Night menjelang eksekusinya.

Minggu, 19 September 2010

Hello Stranger (2010)


Cast: Nuengtida Sopon, Chantawit Thanasewee
Director: Banjong Pisanthanakun
Genre: Drama, Comedy, Romance
Rating: 7/10

Perfilman Thailand memang sudah terbukti mampu menembus pasar internasional dengan diterima baiknya film-film yang diedarkan di luar negaranya termasuk di Indonesia. Tahun ini penonton berhasil ditakut-takuti lewat Phobia 2 dan sukses dibuat tertawa oleh jalinan kisah romkom lewat Bangkok Traffic Love Story. Dan kini hadir kembali film terbaru dari negeri gajah putih ini yang kembali khusus diputar hanya di Blitzmegaplex lewat film bertajuk Hello Stranger.

Kita sebut saja Dia laki-laki (He) dan Dia perempuan (She) dua warga Thailand yang sedang berlibur ke Korea. He (Chantawit Thanasewee) mengikuti sebuah tour wisata yang sebenarnya guna menghindari masalah yang tengah dihadapinya sementara She (Nuengtida Sopon) berniat mengunjungi pernikahan temannya sambil mengunjungi tempat-tempat syuting serial Korea favoritnya. Secara tidak sengaja mereka bertemu yang diawali oleh mabuknya He dan pingsan di depan apartemen yang disewa She. Merasa kasihan padanya akhirnya She menariknya masuk dan membiarkannya tertidur diteras dalam apartemennya. Mabuk beratnya He membuat dirinya tertidur pulas sehingga tertinggal bus wisatanya. Mengingat He yang tidak tahu apa-apa mengenai Korea dan ini adalah perjalanan pertamanya ke luar negeri ditambah kurang fasihnya ia dalam berbahasa Inggris membuat She mau 'tak mau harus menemani teman asing senegaranya itu. Dari sini dimulai kebersamaan mereka yang uniknya selama bersama, mereka tak menyebutkan masing-masing nama mereka.

Sama seperti sebelumnya film Thailand bukanlah pilihan utama bagi saya. Dua film yang saya tonton sebelumnya murni karena pengaruh teman-teman juga ramainya sedang diperbincangkan. Begitupun dengan Hello Stranger yang akhirnya saya tonton setelah cukup banyak orang yang berpendapat bahwa film ini bagus. Dan nyatanya memang benar, meski dari cerita memang bukan hal yang baru namun apa yang tersaji di dalamnya adalah sebuah hasil ramuan kisah cinta yang berkesan. Ceritanya sederhana namun menghibur lewat tingkah konyol kedua cast utamanya. Tapi anda jangan kuatir, porsi kekonyolannya memang lumayan besar namun hal tersebut tidaklah mengganggu jalannya cerita. Cerita tetap berjalan lancar dan memberikan momen-momen yang terasa romantis dan berhasil membawa emosi penonton meski seperti yang tadi saya bilang banyak ditingkahi oleh kelakuan konyol diantara keduanya. Ekesekusinya pun terasa pas dan tidak terkesan memaksa seperti romkom kebanyakan.

Nuengtida Sopon dan Chantawit Thanasewee sebagai cast utama berhasil membuat penonton jatuh hati kepada mereka atas apa yang mereka tampilkan di layar. Chantawit Thanasewee hadir begitu menyebalkan bagi sebagian gadis dengan humor-humor garingnya tapi disatu sisi terlihat begitu manis dalam mengeluarkan ekspresi lewat senyum dan tawa lepasnya. Sementara Nuengtida Sopon tampil begitu manis dan makin manis ketika ia ikut-ikutan gila. Keduanya memang tampil begitu natural dan berhasil dalam menciptakan satu chemistry yang klop.

Berbicara mengenai sutradara coba anda tengok namanya. Sulit memang untuk mengenali atau mengingat bahkan melafalkan satu nama Thailand. Tapi sepertinya nama Banjong Pisanthanakun cukup tidak asing ditelinga kita khususnya bagi kita yang yang mulai menikmati sajian horror Thailand. Ya, Banjong Pisanthanakum adalah sineas dibalik suksesnya Shutter dan Alone juga mengisi salah satu segmen di 4bia. Jadi cukup mengejutkan ketika mengetahui Pisanthanakum adalah dalang dibalik Hello Stranger. Dengan melihat hasil pencapaiannya dalam mempersembahkan kisah komedi romantis perdananya Pisanthanakum berhasil dalam menyajikan tontonan yang ringan nan menghibur.

Bagi saya Hello Stranger sedikit mengingatkan saya kepada Before Sunrise yang memang sama-sama mengangkat kisah pertemuan dua orang asing 'tak saling kenal hingga menemukan kecocokan satu sama lain. Jika Before Sunrise lebih menonjolkan dialog cerdas dan berkesan sementara Hello Stranger lebih ketingkah konyol namun anehnya hal itu malah berkesan pula. Tapi tentu saja film ini belum bisa dikatakan sejajar dengan kisah cinta satu malamnya Ethan Hawke dan Julie Delpy tersebut. Jika anda suka dengan Bangkok Traffic Love Story yang sama-sama berangkat dari Thailand dipastikan andapun akan suka dengan film ini. Tertawa sekaligus menyentuh inilah yang saya rasakan ketika menonton film ini dan akhirnya berharap mungkin suatu saat akan mengalami hal yang serupa dan berucap "Hello Stranger"

Rabu, 15 September 2010

The Water Horse : Legend of the Deep (2007)


Cast: Alex Atel, Bruce Allpress, Geraldine Brophy, Ben Chaplin
Director: Jay Russel
Genre: Adventur, Family, Fantasi
Rating: 6,5/10

Kurang semangat. Itulah kesan pertama saya ketika akhirnya harus mengiyakan sepupu yang memilih The Water Horse : legend of the Deep sebagai tontonan untuk mengisi liburannya. Kurang semangatnya saya cukup beralasan mengingat filmnya sendiri kurang begitu bergaung sebagai tontonan keluarga dan melihat premis yang ada nyatanya terasa begitu klise karena sebelum-sebelumnya banyak film yang menggunakan tema mengenai persahabatan antara bocah dan makhluk asing.

Kisahnya sendiri dimulai ketika bocah bernama Angus (Alex Etel) menemukan sebuah telur aneh di pinggir pantai. Telur tersebut nantinya akan menetas menjadi seekor makhluk aneh dan misterius yang perkembangannya begitu pesat. Dengan pertumbuhannya yang semakin membesar akhirnya mau tidak mau Angus harus membiarkannya bebas di laut. Namun hal ini malah menimbulkan bahaya bagi makhluk itu sendiri karena seringnya memunculkan diri dan dilihat banyak orang sehingga banyak pihak yang berniat memburunya. Bagimana? Klise bukan?

Cukup mengejutkan atas hasil dari film ini. Yang awalnya saya memandang sebelah mata terhadap film ini tidak sepenuhnya terbukti. Hasilnya lumayan begitu manis. Memang hasil peredarannya tidak begitu menggembirakan namun hal itu bukan semata-mata karena tidak istimewanya film ini dalam berbagai segi.

The Water Horse : Legend of the Deep memiliki keunggulan tersendiri seperti dalam hal visualisasi yang memperlihatkan setting juga berupa pemandangan yang terasa begitu menyejukan mata. Kisahnya pun boleh dikata istimewa karena berada dalam kondisi perang dunia. Dalam hal ini sang sutradara lah yang harus pintar-pintar dalam mencampurkan kisah anak-anak tanpa harus terganggu oleh kisah perang dunia yang cenderung dipenuhi oleh kekerasan. Dan Jay Russel cukup berhasil dalam melakukan tugasnya. Sang bocah yaitu Alex Etel memang menjadi sorotan paling utama karena memang porsi tampilnya besar. Penampilannya disini begitu natural sama seperti yang diperlihatkannya lewat Millions.

The Water Horse : Legend of the Deep memang kurang begitu bergema menjadi sebuah tontonan keluarga. Namun film ini hadir dengan begitu pas kemasannya sebagai produk yang diperuntukan bagi seluruh keluarga. Jadi saya sarankan bagi siapapun yang memiliki adik, sepupu atau berniat ingin menghabiskan waktu bersama keluarga diselingi oleh tontonan yang tidak begitu rumit cobalah film ini.

Lars and the Real Girl (2007)


Cast: Ryan Gosling, Emily Mortimer, Paul Schneider, Kelli Garner, Patricia Clarkson
Director: Craig Gillespie
Writer: Nancy Oliver
Genre: Drama, Comedy
Rating: 7/10

Nampaknya beralasan mengapa orang-orang menganggap Lars (Ryan Gosling) adalah sosok pemuda yang aneh yang tampak begitu menikmati kesendiriannya dengan tinggal di garasi bekas kakaknya dan tidak berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Pandangan aneh pun semakin kuat ditujukan padanya ketika suatu saat ia memeperkenalkan seorang wanita yang diakui sebagai pacar kepada saudara lelaki dan kakak iparnya. Namun hal itu malah membuat syok mereka berdua. Mengapa demikian? Karena pada kenyataannya sosok wanita bernama Bianca itu adalah sebuah boneka seks yang ia beli lewat internet.

Tampak aneh memang ketika kita membaca premis ditambah tampilan salah satu poster yang ada memajang sosok boneka yang ditujukan sebagai alat kebutuhan seks pria dewasa. Dua hal tersebut pastinya memberikan gambaran kepada kita akan jalan cerita film ini yang kesannya mungkin lebih menjurus ke hal-hal yang cenderung jorok. Namun secara mengejutkan apa yang dipersembahkan sang sutradara berhasil dalam membawa penonton ikut masuk dalam cerita yang nyatanya begitu menyentuh dan jauh dari kesan yang diperkirakan sebelumnya. Film ini hadir dengan porsi yang begitu pas antara tema drama dan komedi. Dan yang paling utama, penilaian hebat tentunya kita tujukan bagi Ryan Gosling sebagai cast utama yang begitu berhasil dalam menghidupkan sosok Lars yang anti sosial juga aneh dan sukses dalam memancing empati penonton terhadap karakter yang ia mainkan.

Lars and the Real Girl memang suatu tontonan yang mengejutkan bagi saya dengan hasil yang didapat begitu manis. Walau sebenarnya cerita yang ada tergolong absurd namun ada keunikan tersendiri lewat pesan yang tersampaikan melalui interaksi antara Lars dan sang pacarnya yang ditimpali oleh sikap orang-orang disekitarnya. Anda pasti akan tertawa, terharu bahkan mungkin sampai menangis ketika menyimak kisah mengharukan ini.

Selasa, 14 September 2010

City of God (2002)


Cast : Alexandre Rodrigues, Leandro Firmino, Phellipe Haagensen
Director : Fernando Meirelles
Genre : Drama, Crime
Rating : 8/10

Siapapun pasti tidak ingin menetap di Kota Tuhan (City of God).Sebuah kota yang terletak di Rio de Janeiro, Brasil. Kota yang diperuntukan bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal atau pekerjaan. Kota yang begitu kacau akan kondisinya yang ada. Kriminal secara terang-terangan meraja lela, peredaran narkotika begitu lancar berjalan begitupun dengan seks bebas. Kota sepenuhnya dikuasai oleh para gangster. Salah satu yang paling berpengaruh dan berkuasa sekaligus paling berbahaya adalah Li'l Ze. Semua aturan di Kota Tuhan sepertinya berjalan sesuai kehendaknya dan menjadikan ia merasa sebagai orang yang paling tinggi kedudukannya di kota tersebut. Hingga pada satu kesempatan ada sesuatu yang rasanya dianggapnya masih belum berjalan dengan semestinya. Dalam hal ini mengenai soal perdagangan narkoba yang memang bisnis tersebut merupakan lahan basah yang begitu menggiurkan. Ada satu saingan yang dianggapnya masih menghalangi jalan menuju kesuksesannya. Satu pengedar yang telah lama bergelut di dunia narkotik ini bernama Carrot. Telah lama ia merencanakan untuk segera memberesakan rivalnya tersebut namun niat tersebut selalu terhalang partnernya bernama Benny. Lalu satu insiden terjadi yang menyebabkan Benny tewas dan Li'l Ze mengganngap kawanan Carrot lah para pelakunya. Hal ini kemudian menimbulkan perang antar kubu dan makin membesar. Pertikaian ini menarik minat media massa untuk mengulasnya dan menjadikan kasus di Kota Tuhan ini mendapat sorotan begitu besar.

Aneh memang jika kita menilik judulnya yang bertajuk City of God dan pastinya sedikit memberikan gambaran kepada kita mengenai cerita yang akan tersaji di dalamnya. Namun prediksi cerita tadi akhirnya terbuyarkan ketika kita dengan seksama menyimak tampilan poster yang ada. Nuansa suram dengan gerombolan pemuda mengacungkan pistol tentunya memunculkan pertanyaan apa maksud dari gambar ini. Dan akhirnya ketika kita selesai dalam menyaksikan kisah dalam film ini ternyata kata God disini sebenarnya tidak ditujukan kepada Tuhan melainkan lebih tertuju bagi para gangster. Tuhan memiliki kuasa penuh atas jalan kehidupan manusia dan di sini pun para gangster sedikitnya digambarkan bertindak layaknya Tuhan yang mengendalikan apa-apa yang ada di sana. Untuk lebih mengerti dalam menafsirkan apa yang saya maksudkan tadi anda bisa cari tahu ketika menonton filmnya kelak.

City of God
menggunakan alur flashback dalam menuturkan cerita. Tapi tidak seperti kebanyakan film-film beralur sama yang kadang membuat pusing penonton justru film ini memberikan keasyikan tersendiri dalam penuturan jalan cerita. Sama sekali tidak membuat pusing yang bisa menyebabkan penonton harus berpikir keras di awal-awal karena hal tersebut dibantu oleh narasi dari karakter Rocket yang menjabarkan satu persatu asal muasal tempat atau julukan yang ada di Kota Tuhan. Mungkin anda akan bingung sekaligus kaget menyimak opening scenenya justru dari sinilah keasyikan tersebut dimulai karena didalamnya juga terkandung beberapa twist yang tidak kita duga sebelumnya.

Dari segi teknis film ini begitu unggul dalam sisi sinematography dan setting kota yang divisualisasikan terasa begitu nyata akan kondisi yang benar-benar kacau dan mengerikan. Editingnya pun terbilang rapi ditambah tata musik yang ada membuat film semakin hidup.

Menonton City of God membuat saya serasa masuk ke dalam dunia yang tanpa ada pesan moral sedikitpun dalam menikmatinya. Dan jelas hal ini karena kepintaran Fernando Meirelles selaku sutradara yang telah mempersembahkan kisah nyata mengerikan yang disadur ke dalam sebuah film dan hasilnya menjadi sebuah tontonan terbaik dan sempurna lewat kisah juga dari segala aspek segi yang ada.

Fernando Meirelles masuk dalam jajaran nominasi sutradara terbaik di ajang Oscar begitupun dengan sinematography, naskah serta proses editingnya yang dianggap sempurna. Mungkin saya belum menyimak ke 5 film yang masuk dalam jajaran nominasi Best Foreign Language Film tapi rasanya memang aneh mengapa City of God tidak ikut serta dalam jajaran sebagai yang terbaik.

Memang tidak ada pesan moral yang bisa kita contoh dalam rentetan kisah di film ini namun setidaknya kita bisa mencontoh dari karakter yang boleh dibilang pasif di sini yaitu Rocket. Meski hidupnya berada ditengah-tengah segala hal yang tidak bermoral namun dengan keteguhan hati ia pun bisa mencapai atas apa yang dicita-citakannya.

Sang Pencerah (2010)


Cast : Lukman Sardi, Zaskia A. Mecca, Ikranegara, Slamet Rahardjo Djarot, Agus Kuncoro, Sudjiwo Tedjo
Director : Hanung Bramantyo
Genre : Drama, Biopik
Rating : 7/10

Sangat jarang rasanya perfilman Indonesia mengangkat tema film biopik ke layar lebar. Yang saya ingat hanya Raden Ajeng Kartini, Tjoet Nja' Dhien, Marsinah dan Gie. Dari film-film yang saya sebutkan tadi hanya Gie yang baru saya tonton. Jika kita membandingkan dengan perfilman Hollywood sangat jauh memang. Tapi rasanya kita patut bercermin pada perfilman disana khususnya jika kita berbicara mengenai film biopik.

Banyak film biopik yang sudah diproduksi dan rata-rata film dengan tema seperti ini selalu memiliki kualitas yang bagus. Dan biasanya pula selalu masuk dalam jajaran nominasi di ajang-ajang festival khususnya bagi aktor/aktrisnya sendiri yang melakoni tokoh yang diangkat. Rumah produksi disana rasanya tidak perlu ambil pusing soal peredarannya yang tidak meraup laba maksimal karena rasanya niat awal dari pembuatanpun memang senagaja diperuntukan ikut serta dalam berbagai festival. Mungkin inilah yang masih mengganjal di dunia perfilman kita. Rumah produksi kita rasanya masih harus pikir panjang untuk merealisasikan proyek tema seperti ini jika ingin kembali balik modal dan pada kenyataannya pun film dengan tema seperti ini rata-rata selalu dijauhi oleh mayoritas penonton karena tone-nya yang cenderung serius.

Menjelang libur lebaran tahun ini, akhirnya satu lagi film biopik karya sineas kita kembali hadir bertajuk Sang Pencerah. Filmnya sendiri bertutur mengenai sosok K.H Ahmad Dahlan seorang tokoh pendiri organisasi islam Muhammadiyah. Cerita dimulai dari Ahmad Dahlan muda yang sebelumnya bernama Muhammad Darwis (Ihsan Tarore) yang mulai dilanda kebingungan melihat kegiatan keagamaan di lingkungannya yang sering disangkut pautkan dengan tradisi/kebiasaan yang menjurus ke hal-hal yang berbau mistis. Hal ini membuatnya memilih untuk menunaikan ibadah haji guna mempelajari islam lebih dalam.

Lima tahun kemudian, Muhammad Darwis yang sudah berganti nama mejadi Ahmad Dahlan (Lukman Sardi) kembali ke kota kelahirannya dan masih melihat situasi yang sama malah kegiatan agamanya pun semakin banyak yang melenceng. Dan akhirnya Ahmad Dahlan berniat untuk melakukan perbaikan dan meluruskan hal-hal yang dianggapnya tidak benar. Dan tentu saja usahanya tersebut tidaklah mudah karena banyaknya tentangan dari para pemuka agama tua disana.

Hanung Bramantyo selaku sutradara sekaligus penulis naskah boleh saya bilang berhasil dalam menuturkan kisah seorang K.H Ahmad Dahlan. Penuturannya tidak terlalu berat seperti kebanyakan film biopik kebanyakan. Alur kisahnya mengalir dengan baik. Untuk mengatasi kebosanan penonton Hanung menyisipkan humor-humor didalamnya. Sinematografi juga setting kota Yogyakarta dimasa lampau terasa begitu nyata. Tata musik yang adapun menjadikan film semakin hidup. Khusus bagi Lukman Sardi sebagai cast utama, ia tampil begitu natural. Kharismanya sebagai seorang yang berwibawa dan pasrah berhasil ia tampilkan. Dan sekali lagi disini ia membuktikan diri sebagai aktor muda berbakat yang rata-rata berhasil dalam menghayati. Kelak ia akan menjadi aktor watak yang jempolan nantinya. Untuk jajaran pemeran lain tidak ada yang terasa mubazir, hampir semua bermain pas sesuai porsinya termasuk penampilan perdana Giring sebagai aktor. Mungkin hanya Zaskia A. Mecca lah yang kehadirannya agak kurang berkesan. Porsi tampilnya lumayan besar tapi minim dengan dialog. Ekspresi sedih atau musam mesemnya bolehlah tapi ketika mengucap dialog kok agak kurang ya. Tapi hal itu tidak terlalu mengganggu.

Diluar nilai-nilai plus yang saya sebutkan diatas sebenarnya pesan-pesan agama yang tersirat didalam rangkaian cerita kurang begitu berkesan bagi saya. Mungkin ini dikarenakan saya termasuk seorang yang lahir dan hidup dalam lingkungan keluarga Jawa yang memang masih melakukan berbagai tradisi yang rasanya harus tetap dilakukan. Dan tradisi yang dijalani pun rasanya tidak menjurus ke hal-hal berbau mistis. Namun diluar itu, kembali ke rentetan nilai plus yang saya sebutkan sudah pasti Sang Pencerah masuk dalam film yang sangat layak tonton. Bagi saya film ini berhasil memberikan saya banyak tahu akan sejarah khususnya sosok seorang K.H Ahmad Dahlan. Dan rasanya mungkin inilah persembahan karya Hanung yang paling baik dan film ini pula rasanya akan menjadi tontonan film Indonesia paling baik untuk tahun ini.

Selasa, 31 Agustus 2010

Across the Universe (2007)


Cast: Jim Sturgess, Evan Rachel Wood, Joe Anderson, Dana Funchs, Martin Luther, T.V. Carpio
Directed: Julie Taymor
Genre: Drama, Musical, Romance
Rating: 7/10

Menilik judulnya yang bertajuk Across the Universe, bagi saya atau yang kurang begitu suka akan band lawas The Beatles pastinya tidak akan langsung 'ngeh bahwa ternyata film ini murni seperti sebuah tribute bagi grup legendaris tersebut dan diharapkan mampu menghibur penonton khususnya para penggemar The Beatles.

Disutradarai oleh Julie Taymor yang sebelumnya membuat drama Tatus (1999) dan biopic Frida (2002). Adapun castnya, Across the Universe menempatkan bintang kurang terkenal diantaranya Jim Sturgess, Evan Rachel Wood, Joe Anderson, Dana Funchs dan sederet sekuter lainnya. Meski ada nama Evan Rachel Wood tapi nampaknya hal tersebut tidak menjadi suatu jaminan akan ketertarikan penonton akan film ini.

Across the Universe menyampaikan kisah percintaan antara Jude (Sturgess) dan Lucy (Rachel Wood) . Jude adalah pemuda asal Inggris yang pergi ke Amerika guna mencari ayah kandungnya dan disana ia bertemu dengan Lucy yang baru saja ditinggal mati kekasihnya karena perang Vietnam. Bukan hanya kisah percintaan saja yang lebih dikedepankan alur ceritapun diselingi isu seputaran politik dan perang.

Dari ceritanya sendiri sebenarnya sudah cukup menarik namun tampaknya sisi visual-lah yang lebih berbicara. Film ini lebih menunjukan artistik khususnya seperti yang saya katakan tadi visualisasi dalam film ini memang lebih menonjol dan menarik ketimbang alur kisahnya sendiri. Satu contoh, visualisasinya lagu "Because" hmmmmmm.....Untuk ramuan musiknya sendiri dengan lagu-lagu The Beatles yang digubah ulang terasa lebih muda dan tidak terkesan oldies. Sehingga bagi para penonton muda atau yang kurang begitu suka akan lagu-lagunya The Beatles sepertinya akan langsung menyukai karena terasa lebih modern. Sementara untuk para penonton dewasa angkatan The Beatles asli mungkin lagu-lagu aransemen dalam film ini tidak akan terasa tastenya. Hal yang saya maksud terbukti lewat komentar para orang tua dari ketiga teman saya yang kurang begitu suka akan ramuan musik yang ada. Walau hal tersebut tidak bisa dijadikan survey tapi setidaknya sedikit mewakili. Sementara para castnya sendiri patut kita acungi jempol, selain mereka cukup berhasil dalam menghayati perannya masing-masing mereka pun menyanyikan sendiri lagu-lagu The Beatles. Bagi saya, Joe Anderson-lah yang lebih menarik terutama ketika ia menyanyikan hits "Happines Is A Warm Gun" dan satu lagi Dana Funchs yang tampil begitu nge-rock.

Jika mengambil suatu perbandingan antar film sejenis mungkin Mamma Mia! bisa dijadikan sebagai objek pembanding bagi Across the Universe yang sama-sama diangkat dari grup legendaris. Jika Mamma Mia! berhasil menjadi suatu tontonan nostalgia bagi para penggemar ABBA lain hal dengan Across the Universe yang rasanya kurang begitu berhasil dalam menyampaikan tontonan nostalgia bagi para penggemar The Beatles. Across the Universe memang bukan film musikal layaknya Mamma Mia! yang lebih ceria nan menghibur namun dalam soal mutu Across the Universe boleh saya katakan lebih unggul berada satu level diatas Mamma Mia!

Minggu, 29 Agustus 2010

Love Me If You Dare (2003)


Cast: Guillaume Canet, Marion Cotillard
Director: Yann Samuell
Writer: Yann Samuell
Genre: Comedy, Drama, Romance
Rating: 7/10

Memperoleh predikat terbaik dalam ajang Academy Award tentunya menjadi suatu kebanggaan paling besar bagi aktor/aktris manapun. Bagaimana tidak, ajang pembagian patung Oscar tersebut tetap dan akan selalu dijadikan suatu patokan akan puncak karier seseorang yang bekerja di dunia perfilman khususnya bagi aktor dan aktris. Perubahan tentunya akan terjadi. Perubahan hidup terutama dalam pintu karier tentu akan terbuka lebar guna masuknya berbagai kesempatan untuk menerima proyek-proyek menjanjikan ditambah honor yang pastinya akan setingkat lebih tinggi.

Namun percaya atau tidak dengan diterimanya Oscar boleh dibilang akan ada semacam kutukan yang menghampiri. Tidak sedikit aktor/aktris yang berhasil membawa pulang Oscar, kelak film-film yang dibintanginya akan memiliki kualitas yang melempem. Contohnya, anda bisa cek sendiri film-film pasca kemenangan semisal Nicole Kidman, Halle Berry, Julia Roberts dan yang lain.

Namun lain hal bagi Marion Cotillard. Tampaknya keberuntungan masih menyertai pasca kemenangannya lewat La vie en rose. Karirnya terus meningkat dengan berbagai proyek bagus didapatnya. Menemani Johnny Depp dalam Public Enemies, ikut gabung dalam film musikal bertabur bintang Nine dan terakhir tampil dalam film musim panas terbaik tahun ini Inception. Kehadirannya tentu membuat penonton (termasuk saya) semakin jatuh hati akan sosok aktris Prancis yang satu ini. Selain penasaran akan proyek selanjutnya saya pun mulai mencari-mencari film-film apa saja yang pernah ia bintangi dulu. Salah satunya yang saya dapat adalah Love Me If You Dare.

Diceritakan dua anak kecil bernama Sophie Kowalsky (Cotillard) dan Julien Janvier (Canet) yang sudah bersahabat dari kecil dimana mereka selalu menciptakan suatu permainan berisikan tantangan dengan cara menukar miniatur carousel. Permainan tantangan tersebut terus berlanjut hingga mereka besar. Dan tantangannya semakin lama semakin gila. Hingga tanpa mereka sadari permainan tersebut menjadi penghalang akan perasaan sebenarnya antara mereka berdua yaitu cinta.

Marion Cottilard beserta Guillaume Canet sukses dalam menampilkan sosok muda-mudi yang begitu bebas akan kelakuan mereka, chemistry keduanya pun terbangun dengan begitu klop. Yann Samuell selaku sutradara sekaligus penulis naskah menyajikan suatu tontonan cerita cinta yang benar-benar beda. Love Me If You Dare bukanlah suatu tampilan kisah cinta yang mellow. Kesannya lebih ke arah ceria namun boleh dibilang gila. Itu bisa disimak sendiri lewat permainan yang dilakukan antara Sophie dan Julien. Bagi saya sendiri terkesan absurd memang menyimak cerita cinta di film ini yang dipenuhi akan kegilaan, kebebasan hingga kenekatan melepaskan kehidupan nyaman mereka yang sudah diraih hanya demi cinta. Begitupun dengan eksekusi film ini sendiri yang terkesan sangatlah nekat dan begitu tragis. Dan satu lagi visualisasi fantasi dari tokoh utama begitu unik dan menarik lewat warna-warna yang begitu kontras.

Akhirnya, Love Me If You Dare memang memberikan kesan tersendiri bagi saya akan tontonan romantis dengan taste yang berbeda. Namun, tidak memberikan inspirasi juga mengingat banyaknya kenekatan dan kegilaan yang pastinya membutuhkan modal nekat yang sangatlah besar untuk menjadikan film ini suatu inspirasi dalam kehidupan cinta kita.
Satu yang bisa saya simpulkan akan arti cinta dalam film ini. Cinta itu bebas, gila dan menjadikan kita buta. Meureun!!!