Sabtu, 26 Februari 2011

Let Me In (2010)


Cast: Kodi Smit-McPhee, Chloe Moretz, Elias Koteas, Richard Jenkins
Director: Matt Reeves
Genre: Horror, Drama
Overall: 7/10

Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah anak laki-laki yang acap kali sering menjadi bulan-bulanan keisengan anak jahat disekolahnya, ketika pulang ke rumahnya pun ia tidak bisa menemukan kenyamanan bagi dirinya. Hanya halaman depan rumahnya lah yang sering kali ia gunakan untuk menghabiskan waktu ketika waktu malam datang. Hingga suatu hari, ia kedatangan tetangga baru, seorang lelaki tua beserta gadis kecil sebayanya bernama Abby (Chloe Moretz). Merasa cocok, akhirnya keduanya pun sering kali menghabiskan waktu bersama hingga menimbulkan ketertarikan satu sama lain. Dari kebersamaan itu terungkaplah tentang siapa jati diri Abby sebenarnya.

Bagi yang hanya sekedar tahu bahwa Let Me In adalah satu film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan inti kisahnya mengenai hubungan seorang manusia dengan vampir, mungkin akan beranggapan bahwa film ini hanyalah sekedar ingin mengekor kesuksesan yang telah dicapai oleh satu film, yang juga menuturkan kisah percintaan dua individu beda dunia, Twilight Saga. Dan memang film yang menghadirkan sesosok vampir charming juga manusia serigala berperut super keren itu kini telah menjadi sebuah fenomena luar biasa di kalangan remaja. Namun, Let Me In jelas hadir dengan paket yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang disuguhkan lewat franchise unggulan milik Summit Entertainment tersebut. Let Me In mampu hadir sebagai tontonan horror yang menempati level baik dari segala film horror yang akhir-akhir ini dibuat, lewat segala aspek pendukungnya.

Salah satu keunggulan film ini terletak pada penjabaran kisah ikatan kedua tokoh utama Abby dan Owen. Interaksi antar keduanya menghasilkan senyawa yang baik. Dan hal ini tidak terlepas dari hasil kedua pemeran utamanya, Kodi Smit-McPhee dan Chloe Moretz, yang dengan mulus mampu menampilkan setiap emosi dari masing-masing karakter yang dilakoni. Keduanya saling mengisi satu sama lain, karena dari background kehidupan keduanya pun sama-sama jauh dari yang namanya interaksi sosial dengan orang-orang sekitar. Di samping itu, film ini pun tidak lantas menanggalkan satu aspek penting yang dibutuhkan oleh sebuah film horror, dimana Let Me In masih menyajikan beberapa scene sadis dengan tidak lupa menyertakan puncratan darah, namun masih dalam tingkatan yang normal.

Låt den rätte komma in, itulah judul novel yang diadaptasi oleh film ini. Dimana sebelum Let Me In, novel karya John Ajvide Lindqvist ini sendiri, pernah juga diangkat ke layar lebar oleh sineas asal Swedia, Tomas Alfredson, dengan judul yang sama atau secara internasionalnya Let the Right One In di tahun 2008. Hasil adapatasinya ini merupakan sebuah karya yang bermutu dengan bukti mampu ikut serta di berbagai ajang festival bergengsi dunia. Dan hal ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi Matt Reeves selaku sutradara Let Me In. Meski berdalih apa yang dikerjakannya bukanlah suatu remake, melainkan sebuah adaptasi pada satu media buku, tetap saja para penikmat film akan masih menganggap Let Me In adalah sebuah pembaharuan Let the Right One In dan mau 'tak mau pastinya akan dibandingkan dengan film pendahulunya yang sama-sama bermula pada satu sumber. Apalagi jika kita mengingat hasil dari daur ulang beberapa film yang telah dicap bagus untuk dipoles ala Hollywood seenak hatinya, menjadikan rencana akan dibuatnya versi baru Låt den rätte komma in ini, mendapat banyak cibiran dimana-mana. Dan pada kenyataannya pun kesederhanaan dengan paket berkualitas yang terbangun lewat Let the Right One In, tidak mampu disamai oleh Let Me In. Meski film ini sendiri masih menggunakan jasa penulis naskah yang sama dari film pendahulunya, John Ajvide Lindqvist. Mungkin nilai lebih yang dimiliki Let Me In adalah kemasannya yang sedikit komersil atau tampil dengan khasnya film-film Hollywood hingga setidaknya mampu diterima oleh penonton awam. Namun, hal ini sayangnya menjadikan Let Me In tampil hanya sekedar film horror biasa yang 'tak istimewa.

Let Me In sebenarnya berpotensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan jika mengingat alur yang cenderung lambat dalam menyampaikan jalinan cerita. Belum lagi ditambah oleh visualisasi atmosphere musim dingin yang tampak begitu sunyi. Dan hal ini akan begitu terasa oleh penonton yang sebelumnya pernah menikmati Let the Right One In. Karena apa yang dihadirkan oleh Let Me In pun, hampir 90% sama dengan apa yang disajikan film pendahulunya, sehingga tiap scene demi scene tidak memberikan kejutan yang berarti. Terlepas dari itu semua, dengan tanpa membandingkan film adaptasi sebelumnya, sebenarnya Let Me In adalah satu tontonan horror berbeda jika mengingat bagaimana hasil film-film horror Hollywood belakangan ini. Sebuah adaptasi yang mulus. Dan jika akhirnya banyak orang beranggapan bahwa ini adalah salah satu film remake, Let Me In jelas jauh dari kesan Hollywood yang sering kali mengobrak-abrik keorisinilan film pendahulunya. Good job Reeves!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar