Selasa, 14 September 2010

City of God (2002)


Cast : Alexandre Rodrigues, Leandro Firmino, Phellipe Haagensen
Director : Fernando Meirelles
Genre : Drama, Crime
Rating : 8/10

Siapapun pasti tidak ingin menetap di Kota Tuhan (City of God).Sebuah kota yang terletak di Rio de Janeiro, Brasil. Kota yang diperuntukan bagi orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal atau pekerjaan. Kota yang begitu kacau akan kondisinya yang ada. Kriminal secara terang-terangan meraja lela, peredaran narkotika begitu lancar berjalan begitupun dengan seks bebas. Kota sepenuhnya dikuasai oleh para gangster. Salah satu yang paling berpengaruh dan berkuasa sekaligus paling berbahaya adalah Li'l Ze. Semua aturan di Kota Tuhan sepertinya berjalan sesuai kehendaknya dan menjadikan ia merasa sebagai orang yang paling tinggi kedudukannya di kota tersebut. Hingga pada satu kesempatan ada sesuatu yang rasanya dianggapnya masih belum berjalan dengan semestinya. Dalam hal ini mengenai soal perdagangan narkoba yang memang bisnis tersebut merupakan lahan basah yang begitu menggiurkan. Ada satu saingan yang dianggapnya masih menghalangi jalan menuju kesuksesannya. Satu pengedar yang telah lama bergelut di dunia narkotik ini bernama Carrot. Telah lama ia merencanakan untuk segera memberesakan rivalnya tersebut namun niat tersebut selalu terhalang partnernya bernama Benny. Lalu satu insiden terjadi yang menyebabkan Benny tewas dan Li'l Ze mengganngap kawanan Carrot lah para pelakunya. Hal ini kemudian menimbulkan perang antar kubu dan makin membesar. Pertikaian ini menarik minat media massa untuk mengulasnya dan menjadikan kasus di Kota Tuhan ini mendapat sorotan begitu besar.

Aneh memang jika kita menilik judulnya yang bertajuk City of God dan pastinya sedikit memberikan gambaran kepada kita mengenai cerita yang akan tersaji di dalamnya. Namun prediksi cerita tadi akhirnya terbuyarkan ketika kita dengan seksama menyimak tampilan poster yang ada. Nuansa suram dengan gerombolan pemuda mengacungkan pistol tentunya memunculkan pertanyaan apa maksud dari gambar ini. Dan akhirnya ketika kita selesai dalam menyaksikan kisah dalam film ini ternyata kata God disini sebenarnya tidak ditujukan kepada Tuhan melainkan lebih tertuju bagi para gangster. Tuhan memiliki kuasa penuh atas jalan kehidupan manusia dan di sini pun para gangster sedikitnya digambarkan bertindak layaknya Tuhan yang mengendalikan apa-apa yang ada di sana. Untuk lebih mengerti dalam menafsirkan apa yang saya maksudkan tadi anda bisa cari tahu ketika menonton filmnya kelak.

City of God
menggunakan alur flashback dalam menuturkan cerita. Tapi tidak seperti kebanyakan film-film beralur sama yang kadang membuat pusing penonton justru film ini memberikan keasyikan tersendiri dalam penuturan jalan cerita. Sama sekali tidak membuat pusing yang bisa menyebabkan penonton harus berpikir keras di awal-awal karena hal tersebut dibantu oleh narasi dari karakter Rocket yang menjabarkan satu persatu asal muasal tempat atau julukan yang ada di Kota Tuhan. Mungkin anda akan bingung sekaligus kaget menyimak opening scenenya justru dari sinilah keasyikan tersebut dimulai karena didalamnya juga terkandung beberapa twist yang tidak kita duga sebelumnya.

Dari segi teknis film ini begitu unggul dalam sisi sinematography dan setting kota yang divisualisasikan terasa begitu nyata akan kondisi yang benar-benar kacau dan mengerikan. Editingnya pun terbilang rapi ditambah tata musik yang ada membuat film semakin hidup.

Menonton City of God membuat saya serasa masuk ke dalam dunia yang tanpa ada pesan moral sedikitpun dalam menikmatinya. Dan jelas hal ini karena kepintaran Fernando Meirelles selaku sutradara yang telah mempersembahkan kisah nyata mengerikan yang disadur ke dalam sebuah film dan hasilnya menjadi sebuah tontonan terbaik dan sempurna lewat kisah juga dari segala aspek segi yang ada.

Fernando Meirelles masuk dalam jajaran nominasi sutradara terbaik di ajang Oscar begitupun dengan sinematography, naskah serta proses editingnya yang dianggap sempurna. Mungkin saya belum menyimak ke 5 film yang masuk dalam jajaran nominasi Best Foreign Language Film tapi rasanya memang aneh mengapa City of God tidak ikut serta dalam jajaran sebagai yang terbaik.

Memang tidak ada pesan moral yang bisa kita contoh dalam rentetan kisah di film ini namun setidaknya kita bisa mencontoh dari karakter yang boleh dibilang pasif di sini yaitu Rocket. Meski hidupnya berada ditengah-tengah segala hal yang tidak bermoral namun dengan keteguhan hati ia pun bisa mencapai atas apa yang dicita-citakannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar