Kamis, 28 April 2011

Crazy Little Thing Called Love (2011/Indonesia)


Cast: Pimchanok Leuwisetpaiboon, Mario Maurer, Sudarat Butrprom, Acharanat Ariyaritwikol
Directors: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn, Wasin Pokpong
Genre: Comedy, Romance
Overall: 7/10

Dari ke-6 film yang sedang diputar di Blitzmegaplex Bandung, 3 diantaranya diisi oleh film yang berasal dari negara tetangga kita, Thailand. Memang dalam sebulan terakhir ini, film dari negara yang memiliki julukan negeri gajah putih itu terasa begitu mendominasi dan banyak diminati oleh para penikmat film belakangan ini. Hal ini mungkin didasari juga oleh belum adanya keputusan antara pemerintah dengan MPA mengenai masuknya film-film barat ke bioskop kita. Meski ada beberapa film yang hadir, namun rasanya film-film tersebut kurang begitu menarik untuk dijajal. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat penonton kita lebih memilih film-film Thailand ini sebagai tontonan alternatif mereka.

Tidak bisa kita pungkiri juga, bahwa perfilman Thailand sekarang ini sedang mengalami masa jayanya. Tahun 2010 lalu, 2 film Thailand bergenre komedi romantis, Bangkok Traffic Love Story dan Hello Stranger menjadi salah satu film favorit karena kisahnya yang berkesan bagi saya pribadi. Kini kembali romkom Thai yang saya saksikan bulan lalu, menjadi satu-satunya film yang paling menghibur dan membekas sampai saat ini di tahun 2011. Jika Bangkok Traffic Love Story bertutur mengenai dilema cinta pasangan yang sudah berumur, sedang Hello Stranger mengisahkan cinta pasangan muda-mudi, kini giliran Crazy Little Thing Called Love yang mengangkat cerita romantika para remaja belia. Nam (Pimchanok Leuwisetpaiboon) adalah seorang siswi sekolah tingkat pertama dengan penampilan dan kepribadian yang terbilang sangatlah biasa, dimana untuk pertama kalinya ia merasakan ketertarikan kepada lawan jenisnya. Tidak tanggung-tanggung siswa yang disukainya adalah siswa paling populer disekolahnya, Shone (Mario Maurer). Dibantu para sahabatnya plus panduan buku petunjuk mengenai cinta, Nam berusaha mendapatkan perhatian sang pujaan.

Dari itik buruk rupa menjadi seekor angsa yang cantik itulah gambaran yang pas bagi karakter Nam. Dan sang pelakon, Pimchanok Leuwisetpaiboon (susah banget 'kan namanya) berhasil membawakan karakternya dengan sangat mulus dan mampu bersenyawa dengan baik bersama ketiga sahabatnya. Sementara karakter sang pangeran, dalam kisah klise seperti ini, seperti biasa perannya tidak harus menuntut kemampuan akting yang mendalam. Cukup dengan dengan tingkat ke-charming-an yang tinggi dan mampu membuat para gadis tergila-gila. Dan hal ini, Mario Maurer punya poin penting itu. Penampilan Sudarat Butrprom sebagai Guru Inn pun cukup membekas (beungeut-nya itu lho :D)

Secara keseluruhan film ini memang berada di bawah dua pendahulunya. Namun jika berbicara soal cerita, Crazy Little Thing Called Love sebenarnya akan sangat dengan mudah mengena pada setiap audiencenya. Hal ini dikarenakan, kisah yang diangkat boleh dibilang sangat mungkin bisa mengingatkan penonton pada moment-moment zaman dulu ketika mulai timbul rasa tertarik kepada seseorang atau lebih tepatnya merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hal ini terbukti cukup berhasil lewat naskah buatan kedua sutradara, Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong, yang mampu mengembangkan premis sederhana menjadi begitu mengena. Dan hal ini dibantu pula oleh humor-humornya. Meski tidak sekonyol Bangkok Traffic Love Story atau Hello Stranger, unsur komedi Crazy Little Thing Called Love masih tetap efektif menghasilkan tawa pada penontonnya.

Bagi saya pribadi, film ini asyik dan berhasil mengajak saya bernostalgia waktu umur masih belasan dan mulai memasuki masa beuger. Meski memang eksekusinya terasa sangat biasa, namun setidaknya suguhan beberapa fakta akan perasaan Shone terhadap Nam sangatlah menarik dan sedikitnya mengingatkan pada ending dari Bangkok Traffic Love Story. Bukan suatu karya yang terbilang istimewa memang, namun setidaknya film ini mampu memberikan kesegaran ditengah-tengah gersangnya perfilman Hollywood yang mandeg datang ke bioskop kita.

Minggu, 24 April 2011

127 Hours (2010)


Cast: James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn, Clemence Poesy
Director: Danny Boyle
Genre: Adventure, Biography, Drama
Overall: 8/10

Bagi para pecinta alam khususnya yang gemar melakukan pendakian gunung, pastinya sudah tahu persis bagaimana kisah mengenai perjuangan seorang petualangan asal Amerika Serikat bernama Aron Ralston (James Franco). Di tahun 2003, ketika dirinya melakukan sebuah penjelajahan ke satu lembah di Canyonlands National Park, ia terjebak pada sebuah celah yang sempit dikarenakan lengan kanannya terjepit oleh sebuah bongkahan batu berukuran cukup besar. Hal itu terjadi ketika ia hendak menuruni celah tersebut dan tiba-tiba saja bongkahan batu itu ikut bergerak dan sialnya tepat berhenti dan jatuh menimpa lengannya. Selama kurang lebih 5 hari dirinya terjebak, ia pun mencoba berbagai usaha guna membebaskan tangannya, juga bertahan hidup dengan perlengkapan dan bekal seadanya. Hingga akhirnya satu keputusan paling berani dan nekat pun harus ia ambil, yang mana hal tersebut akan ia kenang sepanjang hidupnya kelak, begitupun oleh orang-orang yang kagum akan kisah perjuangannya.

Kisah survival dari Aron Ralston inilah yang kemudian oleh Danny Boyle coba diangkat dan dihadirkan kehadapan para penikmat film lewat karya terbarunya bertajuk 127 Hours. Dalam ajang tahunan Academy Awards yang digelar 27 Februari 2011 lalu, film ini sukses dalam memeriahkan bursa Oscar dengan perolehan nominasi sebanyak 6 buah. Meski pada akhirnya, 127 Hours harus terpaksa menjadi pecundang pada malam perhelatan akbar itu dikarenakan dari raihan nominasi yang ada, tidak satu pun piala yang dihasilkan. Namun terlepas dari itu semua, tetap saja 127 Hours merupakan salah satu film dan karya terbaik di tahun 2010 dari seorang Boyle.

Untuk proyek terbarunya ini, Boyle kembali memboyong tiga orang yang berada dibalik kesuksesan karya terakhirnya Slumdog Millionare tahun 2008 lalu. Pertama, penulis naskah Simon Beaufoy diikut sertakan guna membantunya dalam penyusunan skrip. Kedua untuk urusan musik, Boyle mempercayakan kembali pada komposer asal India, A.R Rahman. Terakhir, untuk sinematografi ia serahkan pada Anthony Dod Mantle. Kita tahu sendiri Slumdog Millionare sukses menyabet delapan gelar terbaik diajang Oscar. Selain Best Picture dan Best Director bagi Boyle, gelar terbaik pun didapat lewat ketiga nama yang disebutkan tadi lewat kategori Best Adapted Screenplay, Best Cinematography serta Best Original Song dan Best Original Score. Jadi tidak heran jika akhirnya Boyle kembali mengajak kerjasama ketiganya dan menciptakan satu tim solid dalam mempersembahkan satu tontonan berkualitas di 2010.

Premis terjebaknya seseorang di satu tempat sempit dan terisolir, mengingatkan kita pada satu film yang juga dirilis di tahun yang sama milik sineas asal Spanyol, Rodrigo Cortes, Buried. Dengan pola yang seperti itu 127 Hours sebenarnya memiliki potensi membosankan. Namun berkat naskah cerdas buatan Boyle dan Beaufoy, 127 Hours berhasil keluar dari kemungkinan akan monotonnya cerita. Jika Buried dirasa terlalu menyesakan oleh sebagian penonton karena sangat minimnya setting dan karakter, justru 127 Hours mampu menjaga intensitas penonton berkat kecerdikan Boyle dan Beaufoy yang mampu mengembangkan premis setting yang sempit, menjadi sebuah kisah emosional dan menegangkan, dengan dimasukannya beberapa karakter serta tampilan visual yang mampu memanjakan mata, tanpa harus meninggalakan kesan terisolir dan depresi yang dialami sang tokoh utama.

A.R Rahman pun sukses dalam memberikan sumbangsih musiknya yang unik dalam menghidupkan suasana atau keadaan seseorang yang terjepit. Sinematografi-nya pun terbilang jempolan dengan menampilkan beberapa angle-angle yang menarik. Tidak ketinggalan, James Franco pun ikut andil dalam mensukseskan film ini berkat penampilan ciamiknya. Setiap ekspresi yang ia tampilkan berhasil membawa penonton ikut hanyut dan merasakan tiap emosinya Aron Ralston. Miris rasanya melihat kondisi Ralston dari hari ke hari terlebih ketika dirinya mulai sulit membedakan antara yang nyata dan halusinasi belaka. Dan hal ini membuktikan bahwa Franco sukses melakukan tugas peran utama perdananya dan berhasil membuktikan bahwa kelak ia pun layak diberi porsi utama dalam sebuah film dan rasanya cukup bagi Franco untuk terus berkutat di ruang aktor pendukung saja.

127 Hours adalah sebuah film yang berangkat dari kisah nyata yang luar biasa. Sebuah kisah survival yang memberikan inspirasi dan motivasi. Tentu saja bagi para petualang film ini banyak sekali mengandung pesan atau semacam pembelajaran tentang apa yang mesti dipersiapkan jika ingin melakukan penjelajahan. Film ini pun mengajarkan kepada kita agar jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan dengan orang terdekat kita serta perbanyaklah bersyukur.

Rabu, 30 Maret 2011

Lake Mungo (2010/After Dark Horrorfest)


Cast: Talia Zucker, Martin Sharpe, Rosie Traynor, David Pledger, Steve Jodrell
Director: Joel Anderson
Genre: Drama, Horror, Mystery
Overall: 8/10

Genre horror sepertinya kini mulai menemukan formula terbaru untuk menakuti para penontonnya. Jika hantu seram yang eksis serta doyan kejar-kejaran dirasa sudah tidak ampuh lagi, gaya mockumentary disertai found footage, rasa-rasanya akan cukup efektif dalam menciptakan suatu atmoser mencekam bagi para audiencenya. The Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2010/Indonesia) adalah dua dari beberapa film yang boleh dibilang sudah berhasil dalam menerapkan teknik semacam itu. Hal ini pulalah yang mungkin mendasari film produksi buatan Australia, yang akhir Januari lalu ikut memeriahkan Dark Horrorfest, Lake Mungo.

Kisah diawali dari laporan keluarga Palmer, yang menyatakan bahwa putrinya Alice Palmer (Talia Zucker), menghilang ketika sedang berenang di sebuah danau bersama adiknya. Pencarian yang alot membuat keluarga Palmer sedikit putus asa, namun selang beberapa hari akhirnya jasad Alice berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Cerita tidak berhenti sampai di sini. Kisah utama dimulai ketika keluarga Palmer mulai merasakan berbagai kejadian aneh paska dilakukannya proses pemakaman. Dan hal ini membawa mereka kepada Ray Kemeny (Steve Jodrell), yang dipercaya mampu menerangkan mengenai hal-hal ganjil yang terjadi di rumah itu. Dari sinilah akan terungkap satu persatu misteri dibelakang kematian Alice.

Mengejutkan, itulah kesan terakhir kita terhadap film ini. Dan cukup mengejutkan pula, jika kita menyimak dari poster yang ada serta dari trailer promosi After Dark Horrorfest, Lake Mungo nyatanya sama sekali jauh dari kesan gory. Hal ini juga yang mungkin menjadi alasan mengapa Lake Mungo begitu sedikit tampil di trailer promosi festival tersebut. Karena dari trailer filmnya sendiri pun, kurang begitu menarik.

Jika anda menggemari acara televisi semisal tayangan dokumenter khususnya yang mengangkat tema misteri mengenai keberadaan penghuni dunia lain yang acap kali selalu tertangkap keberadaannya oleh beberapa alat dokumentasi seperti kamera atau videotape, dipastikan anda akan langsung menyukai film berbudget minim asal benua kangguru ini. Lewat beberapa footage yang diselipkan, film arahan Joel Anderson ini berhasil menciptakan suatu kengerian yang berhasil membuat bulu kuduk kita merinding. Namun film horror indie ini pun sebenarnya tidak lepas dari faktor membosankan jika mengingat gaya dokumenter televisi yang diterapkannya. Di beberapa bagian, khususnya ketika dihadirkan scene wawancara, intensitas penonton sedikitnya akan mengalami penurunan. Namun Joel Anderson yang memang sekaligus merangkap tugas sebagai penulis naskah film ini, dengan cerdas membayar rasa boring tersebut dengan beberapa twist yang jempolan.

Jika anda menganggap Paranormal Activity adalah satu sajian horror berbeda dan berhasil membuat anda ketakutan, coba pikirkan kembali. Dibandingkan dengan Paranormal Activity, footage dari Lake Mungo terasa lebih real dan jauh lebih menyeramkan, hingga akhirnya menjadikan footage palsu dari Paranormal Activity semakin terlihat biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Hal ini pula yang membuat lake Mungo bisa disejajarkan bersama film-film horror yang memiliki level kualitas jauh diatas, khususnya jika disandingkan dengan bebrapa film horror yang dibuat belakangan ini.

Selasa, 22 Maret 2011

Easy A (2010)


Cast: Emma Stone, Amanda Bynes, Alyson Michalka, Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Thomas Haden Church
Director: Will Gluck
Genre: Comedy, Romance
Overall: 7/10

Bagi gadis remaja di Indonesia, memiliki modal fisik, kecerdasan dan tampil modis layaknya Olive Penderghast (Emma Stone) tentunya sudah lebih dari cukup untuk menjadi sosok terpopuler di sekolah. Namun kenyataannya, peraturan di Amerika tidaklah seperti itu. Apa yang dimiliki Olive saat ini belumlah cukup dan ia bukanlah siapa-siapa. Hingga akhirnya kehidupan sosialnya pun berubah seketika, akibat satu kebohongan yang ia buat dan diceritakan pada sahabatnya Rhiannon (Alyson Michalka), mengenai hilangnya keperawanan dengan salah satu pemuda yang diakuinya pemuda kuliahan dan tidak sengaja dicuri dengar oleh seorang siswi super religius Marianne (Amanda Bynes) yang menyebarkannya ke seluruh sekolah. Seketika pamor Olive berubah drastis. Bukannya merasa perlu diluruskan, Olive malah memamfaatkan situasi ini untuk mengubah keadaan dirinya yang awalnya bukanlah siapa-siapa menjadi sosok yang wajib dikenal. Dan tanpa disadari olehnya, ajang main-mainnya ini akan membawanya pada masalah besar kelak.

Bagi calon penonton yang berniat menonton film ini, dengan hanya berbekal premis yang ada pastinya akan menilai bahwa Easy A hanyalah sebuah film remaja pada umumnya yang tidak menawarkan sesuatu yang baru dan segar. Namun anggapan tersebut akhirnya akan terbantahkan ketika kita usai menikmatinya dan pasti akan setuju dengan penilainan bahwa Easy A bisa adalah satu tontonan yang istimewa di kelasnya. Anda masih ingat dengan teen comedy Mean Girls yang dibintangi aktris Lindsay Lohan? Apa pendapat anda mengenai film keluaran tahun 2004 itu? Bukan hanya film remaja biasa bukan? Asyik, lucu dan ada sesuatu pembelajaran yang bisa diambil. Kangen rasanya akan tontonan semacam itu, yang tidak hanya mengumbar kemolekan tubuh sang aktris pendukung atau banyaknya sex scene yang dijejalkan. Jika anda merindukan taste semisal tontonan ala Mean Girls itu, di Easy A lah anda bisa mendapatkannya.

Di balik premisnya yang super sederhana, sebenarnya Easy A menawarkan sesuatu yang jauh lebih enak dinikmati, bukannya hal-hal klise yang biasa kita dapat dalam teen comedy yang sudah-sudah. Beruntung bagi Will Gluck yang bisa angkat nama setelah karya jebloknya Fired Up! tempo hari yang menuai hujatan dimana-mana. Hal ini tidak terlepas dari naskah buatan Bert V. Royal. Humor-humor yang tersaji terbilang cukup fresh ditambah dialog-dialog menggelitik yang semakin menambah kelucuan film ini.

Satu hal paling utama yang mengatrol film ini menjadi suatu tontonan istimewa, sebenarnya terletak pada permainan apik bintang utamanya Emma Stone. Bukan hanya bagi Gluck saja, Easy A pun bisa dibilang adalah satu langkah jitu bagi aktris berusia 23 tahun ini, untuk bisa tampil semaksimal mungkin agar pintu karier di masa depan makin terbuka lebar. Di sini ia mampu menjalankan dengan baik tugas peran utama perdananya. Tidak heran dari perannya ini akhirnya membuahkan hasil yang manis baginya, dimana ia berhasil masuk dijajaran aktris terbaik komedi dalam ajang Golden Globe kemarin. Meski begitu, perannya di sini sebenarnya terlihat cukup absurd. Dimana timbul satu pertanyaan apakah ada seorang gadis rela mengorbankan nama baiknya demi kepentingan orang lain? Namun hal ini untungnya tertutupi oleh naskah yang apik sehingga bukanlah benci yang kita layangkan atas tindak tanduk Olive, melainkan rasa simpatilah yang akhirnya kita sumbangkan atas perbuatannya.

Meski masih di bawah Mean Girls, Easy A jelas hadir sebagai sebuah teen comedy yang levelnya jauh berada di atas meninggalkan film-film komedi remaja belakangan ini yang dibuat. Lewat semua aspek yang terbangun sepanjang film adalah bukti bahwa Easy A bukanlah film komedi remaja yang dibuat asal-asalan. Sayang dan heran rasanya juri Golden Globe tidak melirik film ini, guna memeriahkan bursa nominasi Film Terbaik Komedi/Musikal.

Senin, 21 Maret 2011

Biutiful (2010)


Cast: Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Eduard Fernández
Director: Alejandro González Iñárritu
Genre: Drama
Overall: 7/10

Alejandro González Iñárritu bisa dibilang merupakan satu sineas spesialis penyaji drama dengan kisah yang diangkat biasanya selalu terasa pahit dan dramatis. Tengok saja dua karya miliknya, 21 Grams dan Babel. Dari cerita yang ada, dimana setiap karakter yang diceritakan hampir selalu mengalami nasib yang kurang baik jika tidak ingin dibilang sial. Dan dari keputusan eksekusinya pun, Inarritu sepertinya pelit dalam memberikan porsi lebih kebahagiaan bagi masing-masing tokohnya sendiri. Format kisah seperti itulah yang kembali diangkat oleh Inarritu lewat karya terbarunya Biutiful.

Biutiful menyajikan kisah perjuangan pahit getir seorang pria bernama Uxbal (Javier Bardem). Dilatar belakangi oleh faktor ekonomi, akhirnya memaksa Uxbal menggeluti pekerjaan yang bertentangan dengan hukum. Dirinya menjadi penyalur tenaga kerja para imigran gelap Cina untuk dijadikan buruh dengan gaji super rendah, juga membantu para imigran gelap asal Senegal untuk mengedarkan semacam produk-produk bajakan. Hal tersebut terpaksa ia lakukan, dikarenakan hanya dari sanalah sumber satu-satunya untuk memperoleh penghasilan guna menghidupi kedua anaknya. Selain itu, Uxbal pun dihadapkan pada permasalahan bersama istrinya yang sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Dan bebannya semakin bertambah berat ketika dirinya dinyatakan mengidap kanker dan divonis hidupnya tidak akan berlangsung lama. Pahit memang bagi Uxbal, menanggung beban keluarga, melawan penyakit yang diderita dan mempersiapkan masa depan bagi kedua anaknya.

Bagi penikmat film yang sudah terbiasa dan menikmati gaya penuturan yang dipakai Inarritu dalam film-filmnya, sedikitnya mungkin akan merasa kecewa. Hal ini dikarenakan alur yang dipakai Biutiful berjalan dengan semestinya. Tidak seperti film-film Inarritu sebelumnya yang disajikan secara acak/non-linear. Meski di awalnya kita disiguhi oleh opening yang memang membingungkan. Potensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan pun sangat besar adanya. Dengan hanya satu plot mengenai kisah perjuangan seorang ayah ditambah dengan durasi yang memang terlalu panjang sekitar 148 menit, Biutiful pastinya membutuhkan satu paket kesabaran lebih besar.

Nuansa suram, sesak dan sepi begitu terasa sepanjang durasi lewat tampilan setiap sudut kota dengan tambahan ilustrasi musik yang membuat film ini makin terasa hening. Itu pulalah yang ditampilkan lewat permainan apik Javier Bardem. Karakter rapuh dari Uxbal akibat segala permasalahan yang datang satu persatu pada dirinya, dengan mulus berhasil ia hadirkan. Ekspresi wajahnya khususnya jika kita tilik dari sorot matanya benar-benar menggambarkan bahwa dirinya sedang dilanda kesepian dan kesedihan begitu dalam. Boleh dibilang Bardem lah satu-satunya penolong film ini untuk keluar dari kemonotonan jalannya cerita yang sedikitnya terasa terlalu berlebihan plus sisipan beberapa kisah tidak penting. Entah apa jadinya film ini jika bukan Bardem yang bermain. Susah rasanya membayangkan aktor Spanyol lain yang mengisi peran Uxbal selain pasangan Penelope Cruz ini, Antonio Banderas misalnya.

Secara keseluruhan, Biutiful memang sebuah tontonan yang benar-benar menyentuh lewat sajian melodramatisnya. Namun, secara subjektif dan jujur apa yang saya rasa, Biutiful tidaklah terlalu berkesan bagi saya pribadi. Hanya permainan jempolan Bardem lah yang membuat saya salut. Karena memang film ini lebih menonjol dalam hal penggalian karakter. Hingga cukup beralasan ketika akhirnya juri-juri Oscar mamasukan nama Bardem dalam jajaran nominator aktor terbaik Academy Awards tahun 2011. Dengan kembali menilai secara subjektif, rasa-rasanya perjuangan ayah penderita kanker ini lebih layak diganjar patung Oscar ketimbang sosok seorang raja yang gagap. Selain itu semuanya terasa tidak ada yang istimewa. Meski begitu tidak bisa dibilang biasa juga, bagus namun tidak istimewa.

Kamis, 03 Maret 2011

THE 83RD ANNUAL ACADEMY AWARDS


Terlepas dari beberapa kontroversi yang dibuat juri-juri Oscar atas pilihan mereka mengenai apa dan siapa saja yang didapuk sebagai yang terbaik, Academy Awards tetap dan akan selalu dijadikan sebagai tolak ukur sukses atau tidaknya bagi siapa pun yang bergerak di dunia perfilman. Ajang bergengsi tahunan ini sendiri, telah memasuki tahunnya yang ke-83 dan untuk acaranya sendiri telah usai digelar tanggal 27 Februari waktu LA, yang bertempat di Kodak Theatre. Ada yang berbeda pada perhelatan malam itu, dengan host utama Anne Hathaway dan James Franco sepertinya Oscar kali ini disinyalir ingin menjaring penonton muda lebih banyak. Dan hal itu terlihat dari salah satu format acara semacam parodi beberapa film yang mengingatkan kita pada MTV Movie Awards. Namun demikian menurut badan rating yang ada, acara Oscar malam itu mengalami penurunan rating sebesar 10% dari tahun lalu.

Seolah ingin memberi kejutan seperti yang dilakukan dalam penyelenggaraannya tahun lalu, Academy Awards tahun ini kembali memberikan hasil pilihan terbaik yang berbeda dengan apa yang dipilih oleh ajang Golden Globe, lewat dua kategori utamanya. Dan sebenarnya, keputusan yang diambil juri Academy Awards ini, patut kita berikan pujian atas pilihan mereka mengenai film apa yang dianggap layak memenangkan piala ketimbang film yang lebih banyak dijagokan atau lebih populer.

The Social Network yang sebelumnya didapuk sebagai film terbaik dalam ajang Golden Globe, malam itu gagal meraih gelar Best Picture dalam Oscar tahun ini. Hal yang sama pun dialami sang sineas pembesutnya, David Fincher. Fincher terpaksa harus gigit jari, ketika ternyata bukan dirinyalah yang disebut, melainkan nama Tom Hooper yang keluar sebagai pemenang Best Director. Hooper sukses melangkahi Fincher yang sebelumnya banyak diunggulkan, lewat arahannya dalam film yang mengisahkan seorang raja gagap, The King's Speech. Film kebanggaan Inggris itu pun berhasil meraih gelar Best Picture. Dari ke-12 nominasi yang dikantongi, The King's Speech hanya mampu meraih 4 piala saja. Selain dua yang disebut diatas, film yang dimeriahkan barisan aktor jebolan franchise Harry Potter tersebut, unggul di kategori Leading Actor yang memang sudah dipastikan akan dengan mudah diraih Colin Firth. Dan satu lagi bagi David Seidler di kategori Original Screenplay, yang secara mengejutkan berhasil meyingkirkan Christopher Nolan lewat Inception.

Boleh dibilang malam itu adalah malam penebusan kekecewaan bagi Inception. Seperti kita tahu sendiri, di ajang Golden Globe kemarin, film ini tidak berhasil membawa satu penghargaan pun. Dan di Oscar kali ini, Inception berhasil mengumpulkan 4 piala dari 8 nominasi yang didapatnya. Masing-masing diperoleh lewat beberapa teknis yang memang mumpuni, seperti Cinematography, Sound Editing, Sound Mixing dan Visual Effects. Sementara itu, The Social Network yang memang lebih banyak dijagokan, harus puas hanya dengan memperoleh 3 piala saja, diantaranya dari kategori Adapted Screenplay, Original Score dan Film Editing. Diikuti Toy Story 3 dan The Fighter yang sama-sama mengantongi 2 piala, kemudian Black Swan yang hanya kebagian jatah 1 buah patung Oscar lewat Natalie Portman yang menyelamatkan film ini ketika nyaris menjadi pecundang malam itu.

and the Oscar goes to...

Best Motion Picture of the Year

127 Hours
Black Swan
The Fighter
Inception
The Kids Are All Right
*The King's Speech*
The Social Network
Toy Story 3
True Grit
Winter's Bone

Best Performance by an Actor in a Leading Role

Javier Bardem (Biutiful)
Jeff Bridges (True Grit)
Jesse Eisenberg (The Social Network)
*Colin Firth (The King's Speech)*
James Franco (127 Hours)

Best Performance by an Actress in a Leading Role

Annette Bening (The Kids Are All Right)
Nicole Kidman (Rabbit Hole)
Jennifer Lawrence (Winter's Bone)
*Natalie Portman (Black Swan)*
Michelle Williams (Blue Valentine)

Best Performance by an Actor in a Supporting Role

*Christian Bale (The Fighter)*
John Hawkes (Winter's Bone)
Jeremy Renner (The Town)
Mark Ruffalo (The Kids Are All Right)
Geoffrey Rush (The King's Speech)

Best Performance by an Actress in a Supporting Role

Amy Adams (The Fighter)
Helena Bonham Carter (The King's Speech)
*Melissa Leo (The Fighter)*
Hailee Steinfeld (True Grit)
Jacki Weaver (Animal Kingdom)

Best Achievement in Directing

Black Swan: Darren Aronofsky
True Grit: Ethan Coen, Joel Coen
The Social Network: David Fincher
*The King's Speech: Tom Hooper*
The Fighter: David O. Russell

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

Another Year: Mike Leigh
The Fighter: Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson, Keith Dorrington
Inception: Christopher Nolan
The Kids Are All Right: Lisa Cholodenko, Stuart Blumberg
*The King's Speech: David Seidler
*

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published

127 Hours: Danny Boyle, Simon Beaufoy
*The Social Network: Aaron Sorkin*
Toy Story 3: Michael Arndt, John Lasseter, Andrew Stanton, Lee Unkrich
True Grit: Joel Coen, Ethan Coen
Winter's Bone: Debra Granik, Anne Rosellini

Best Achievement in Cinematography

Black Swan: Matthew Libatique
*Inception: Wally Pfister*
The King's Speech: Danny Cohen
The Social Network: Jeff Cronenweth
True Grit: Roger Deakins

Best Achievement in Art Direction

*Alice in Wonderland: Robert Stromberg, Karen O'Hara*
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Stuart Craig, Stephenie McMillan
Inception: Guy Hendrix Dyas, Larry Dias, Douglas A. Mowat
The King's Speech: Eve Stewart, Judy Farr
True Grit: Jess Gonchor, Nancy Haigh

Best Achievement in Costume Design

*Alice in Wonderland: Colleen Atwood*
I Am Love: Antonella Cannarozzi
The King's Speech: Jenny Beavan
The Tempest: Sandy Powell
True Grit: Mary Zophres

Best Achievement in Sound Mixing

*Inception: Lora Hirschberg, Gary Rizzo, Ed Novick*
The King's Speech: Paul Hamblin, Martin Jensen, John Midgley
Salt: Jeffrey J. Haboush, William Sarokin, Scott Millan, Greg P. Russell
The Social Network: Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick, Mark Weingarten
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff, Peter F. Kurland

Best Achievement in Editing

127 Hours: Jon Harris
Black Swan: Andrew Weisblum
The Fighter: Pamela Martin
The King's Speech: Tariq Anwar
*The Social Network: Kirk Baxter, Angus Wall*

Best Achievement in Sound Editing

*Inception: Richard King*
Toy Story 3: Tom Myers, Michael Silvers
TRON: Legacy: Gwendolyn Yates Whittle, Addison Teague
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey
Unstoppable: Mark P. Stoeckinger

Best Achievement in Visual Effects

Alice in Wonderland: Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas, Sean Phillips
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Tim Burke, John Richardson, Christian Manz, Nicolas Aithadi
Hereafter: Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky, Joe Farrell
*Inception: Chris Corbould, Andrew Lockley, Pete Bebb, Paul J. Franklin*
Iron Man 2: Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright, Daniel Sudick

Best Achievement in Makeup

Barney's Version: Adrien Morot
The Way Back: Edouard F. Henriques, Greg Funk, Yolanda Toussieng
*The Wolfman: Rick Baker, Dave Elsey
*

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

127 Hours: A.R. Rahman, Rollo Armstrong, Dido
- "If I Rise"
Country Strong: Tom Douglas, Hillary Lindsey, Troy Verges
- "Coming Home"
Tangled: Alan Menken, Glenn Slater
- "I See the Light"
Toy Story 3: Randy Newman
- "We Belong Together"


Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score

127 Hours: A.R. Rahman
How to Train Your Dragon: John Powell
Inception: Hans Zimmer
The King's Speech: Alexandre Desplat
*The Social Network: Trent Reznor, Atticus Ross
*
Best Short Film, Animated
Day & Night: Teddy Newton
The Gruffalo: Jakob Schuh, Max Lang
Let's Pollute: Geefwee Boedoe
*The Lost Thing: Shaun Tan, Andrew Ruhemann*
Madagascar, a Journey Diary: Bastien Dubois

Best Short Film, Live Action

The Confession: Tanel Toom
The Crush: Michael Creagh
*God of Love: Luke Matheny*
Na Wewe: Ivan Goldschmidt
Wish 143: Ian Barnes, Samantha Waite

Best Documentary, Short Subjects

Killing in the Name: Nominees TBD
Poster Girl: Nominees TBD
*Strangers No More: Karen Goodman, Kirk Simon*
Sun Come Up: Jennifer Redfearn, Tim Metzger
The Warriors of Qiugang: Ruby Yang, Thomas Lennon

Best Documentary, Features

Exit Through the Gift Shop: Banksy, Jaimie D'Cruz
GasLand: Josh Fox, Trish Adlesic
*Inside Job: Charles Ferguson, Audrey Marrs*
Restrepo: Tim Hetherington, Sebastian Junger
Waste Land: Lucy Walker, Angus Aynsley

Best Foreign Language Film of the Year

Biutiful: Alejandro González Iñárritu
- Mexico
Dogtooth: Giorgos Lanthimos
- Greece
*In a Better World: Sussane Bier
- Denmark
*
Incendies: Denis Villeneuve
- Canada
Outside the Law: Rachid Bouchareb
- Algeria

Best Animated Feature Film of the Year

How to Train Your Dragon: Dean DeBlois, Chris Sanders
The Illusionist: Sylvain Chomet
*Toy Story 3: Lee Unkrich
*

Sabtu, 26 Februari 2011

Let Me In (2010)


Cast: Kodi Smit-McPhee, Chloe Moretz, Elias Koteas, Richard Jenkins
Director: Matt Reeves
Genre: Horror, Drama
Overall: 7/10

Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah anak laki-laki yang acap kali sering menjadi bulan-bulanan keisengan anak jahat disekolahnya, ketika pulang ke rumahnya pun ia tidak bisa menemukan kenyamanan bagi dirinya. Hanya halaman depan rumahnya lah yang sering kali ia gunakan untuk menghabiskan waktu ketika waktu malam datang. Hingga suatu hari, ia kedatangan tetangga baru, seorang lelaki tua beserta gadis kecil sebayanya bernama Abby (Chloe Moretz). Merasa cocok, akhirnya keduanya pun sering kali menghabiskan waktu bersama hingga menimbulkan ketertarikan satu sama lain. Dari kebersamaan itu terungkaplah tentang siapa jati diri Abby sebenarnya.

Bagi yang hanya sekedar tahu bahwa Let Me In adalah satu film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan inti kisahnya mengenai hubungan seorang manusia dengan vampir, mungkin akan beranggapan bahwa film ini hanyalah sekedar ingin mengekor kesuksesan yang telah dicapai oleh satu film, yang juga menuturkan kisah percintaan dua individu beda dunia, Twilight Saga. Dan memang film yang menghadirkan sesosok vampir charming juga manusia serigala berperut super keren itu kini telah menjadi sebuah fenomena luar biasa di kalangan remaja. Namun, Let Me In jelas hadir dengan paket yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang disuguhkan lewat franchise unggulan milik Summit Entertainment tersebut. Let Me In mampu hadir sebagai tontonan horror yang menempati level baik dari segala film horror yang akhir-akhir ini dibuat, lewat segala aspek pendukungnya.

Salah satu keunggulan film ini terletak pada penjabaran kisah ikatan kedua tokoh utama Abby dan Owen. Interaksi antar keduanya menghasilkan senyawa yang baik. Dan hal ini tidak terlepas dari hasil kedua pemeran utamanya, Kodi Smit-McPhee dan Chloe Moretz, yang dengan mulus mampu menampilkan setiap emosi dari masing-masing karakter yang dilakoni. Keduanya saling mengisi satu sama lain, karena dari background kehidupan keduanya pun sama-sama jauh dari yang namanya interaksi sosial dengan orang-orang sekitar. Di samping itu, film ini pun tidak lantas menanggalkan satu aspek penting yang dibutuhkan oleh sebuah film horror, dimana Let Me In masih menyajikan beberapa scene sadis dengan tidak lupa menyertakan puncratan darah, namun masih dalam tingkatan yang normal.

Låt den rätte komma in, itulah judul novel yang diadaptasi oleh film ini. Dimana sebelum Let Me In, novel karya John Ajvide Lindqvist ini sendiri, pernah juga diangkat ke layar lebar oleh sineas asal Swedia, Tomas Alfredson, dengan judul yang sama atau secara internasionalnya Let the Right One In di tahun 2008. Hasil adapatasinya ini merupakan sebuah karya yang bermutu dengan bukti mampu ikut serta di berbagai ajang festival bergengsi dunia. Dan hal ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi Matt Reeves selaku sutradara Let Me In. Meski berdalih apa yang dikerjakannya bukanlah suatu remake, melainkan sebuah adaptasi pada satu media buku, tetap saja para penikmat film akan masih menganggap Let Me In adalah sebuah pembaharuan Let the Right One In dan mau 'tak mau pastinya akan dibandingkan dengan film pendahulunya yang sama-sama bermula pada satu sumber. Apalagi jika kita mengingat hasil dari daur ulang beberapa film yang telah dicap bagus untuk dipoles ala Hollywood seenak hatinya, menjadikan rencana akan dibuatnya versi baru Låt den rätte komma in ini, mendapat banyak cibiran dimana-mana. Dan pada kenyataannya pun kesederhanaan dengan paket berkualitas yang terbangun lewat Let the Right One In, tidak mampu disamai oleh Let Me In. Meski film ini sendiri masih menggunakan jasa penulis naskah yang sama dari film pendahulunya, John Ajvide Lindqvist. Mungkin nilai lebih yang dimiliki Let Me In adalah kemasannya yang sedikit komersil atau tampil dengan khasnya film-film Hollywood hingga setidaknya mampu diterima oleh penonton awam. Namun, hal ini sayangnya menjadikan Let Me In tampil hanya sekedar film horror biasa yang 'tak istimewa.

Let Me In sebenarnya berpotensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan jika mengingat alur yang cenderung lambat dalam menyampaikan jalinan cerita. Belum lagi ditambah oleh visualisasi atmosphere musim dingin yang tampak begitu sunyi. Dan hal ini akan begitu terasa oleh penonton yang sebelumnya pernah menikmati Let the Right One In. Karena apa yang dihadirkan oleh Let Me In pun, hampir 90% sama dengan apa yang disajikan film pendahulunya, sehingga tiap scene demi scene tidak memberikan kejutan yang berarti. Terlepas dari itu semua, dengan tanpa membandingkan film adaptasi sebelumnya, sebenarnya Let Me In adalah satu tontonan horror berbeda jika mengingat bagaimana hasil film-film horror Hollywood belakangan ini. Sebuah adaptasi yang mulus. Dan jika akhirnya banyak orang beranggapan bahwa ini adalah salah satu film remake, Let Me In jelas jauh dari kesan Hollywood yang sering kali mengobrak-abrik keorisinilan film pendahulunya. Good job Reeves!!!

Minggu, 20 Februari 2011

The Social Network (2010)


Cast: Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, Justin Timberlake, Armie Hammer, Rooney Mara
Director: David Fincher
Genre: Biography, Drama, History
Overall: 8/10

Akhirnya datang juga. Setelah lebih dari 2 bulan menunggu tanpa adanya jadwal yang pasti mengenai kapan tayangnya The Social Network di beberapa kota luar Jabotabek, salah satunya Bandung, akhirnya film mengenai situs jejaring sosial Facebook ini muncul juga. Seperti kita tahu sendiri, film ini sebenarnya sudah bisa disaksikan sejak bulan November tahun lalu, namun entah mengapa hanya penonton wilayah Jabotabek sajalah yang bisa menikmati film ini. Sementara penonton di luar daerah Jabotabek terpaksa harus gigit jari, sambil menunggu ketidak pastian akan tayangnya film arahan David Fincher ini. Jadi jangan salahkan, jika pada kenyataannya tidak sedikit penonton yang akhirnya memilih jalur bootleg sebagai sarana menikmati tontonan ini.

Banyaknya penonton yang menjajal The Social Network lewat media bootleg, bukan hanya karena faktor jadwal tayangnya saja yang sangat lambat, respon positif dari beberapa kritikus pun pastinya mempengaruhi kepenasaran audience. Terlebih ketika film ini dinobatkan sebagai film drama terbaik di ajang Golden Globe kemarin. Hal tersebut tentu saja semakin membuat kepenasaran penonton memuncak.

Terlepas dari rentetan pujian kritikus atau didapuknya film ini sebagai yang terbaik versi Golden Globe, sebenarnya film ini sendiri dari jauh-jauh hari sudah bisa disebut sebagai film yang wajib diantisipasi, mengingat nama David Fincher lah yang mengisi jabatan sebagai sutradara. Masih ingat rasanya persembahan amazing-nya lewat The Curious Case of Benjamin Button tahun 2008 lalu. Meski gagal meraih gelar film terbaik di ajang Academy Awards, namun rasanya film tersebut patut dijadikan sebagai bahan pertimbangan akan proyek Fincher berikutnya. Dan boleh dibilang mungkin hanya Fincher lah satu-satunya nama dalam film ini yang bisa dijadikan sebagai penyedot para audience. Karena jika kita tilik dari jajaran cast yang ada, tercatat nama-nama yang kurang begitu menjanjikan. Bagian peran utama diisi oleh Jesse Eisenberg, yang sebelumnya kita kenal lewat beberapa film remaja dan yang paling membekas penampilannya di Zombieland (2009). Berikutnya si manusia laba-laba baru Andrew Garfield lalu ada Justin Timberlake yang masih berkesan sebagai penyanyi yang coba berakting ditambah beberapa nama aktor/aktris kurang terkenal lainnya.

Selain itu dari kisah yang diangkat pun rasa-rasanya tidak akan terlalu menciptakan antusias begitu tinggi. Kisahnya hanyalah seputaran asal-usul bagaimana Facebook dibuat dan beberapa kisah setelah situs jejaring itu terbentuk termasuk kasus yang menimpa sang pencipta, Mark Zuckerberg. Dan pada kenyataannya pun banyak yang beranggapan bahwa kisah mengenai Facebook ini terlalu dini untuk diangkat ke layar lebar.

Diawali dengan opening adu argumen super cepat antara Jesse Eisenberg dan Rooney Mara, sedikitnya memberi isyarat bahwa film ini akan menjadi sebuah tontonan yang lebih banyak menonjolkan rentetan dialog sebagai kekuatan utama jalannya cerita. Dan hal itu terbukti, sepanjang durasi yang ada penonton harus menyiapkan konsentrasi sebaik mungkin untuk tidak melewatkan setiap dialog cerdas yang terucap. Dan hal ini tentu saja tidak terlepas dari jasa Aaron Sorkin sebagai penulis naskah, dimana kisahnya sendiri disadur dari buku bertajuk "The Accindental Billionares: The Founding, A Tale of Sex, Money, Genius and Betrayal" karya Ben Mezrich. Selain itu sisi editingnya pun terbilang istimewa. Dengan gaya penuturannya yang nonlinear, pastinya dibutuhkan hasil editing yang diusahakan mampu membuat penonton untuk tidak merasa kebingungan akan alur maju mundur yang disajikan. Dan hal ini berhasil dikerjakan secara sempurna oleh duo Kirk Baxter dan Angus Wall. Dan kedua elemen ini memang yang paling menonjol disamping music scorenya sendiri yang berhasil ikut meramaikan bursa Oscar.

Memerankan seorang tokoh yang pernah ada/nyata, biasanya selalu menarik perhatian para kritikus begitupun juri-juri di beberapa ajang festival. Hal ini pula lah yang didapat Eisenberg, perannya sebagai Zuckerberg berbuah beberapa penghargaan minimal nominasi. Harus diakui dipilihnya Eisenberg merupakan satu keputusan yang sangat tepat, jika mengingat dari segi fisik keduanya yang hampir menyerupai satu sama lain. Selanjutnya tinggal bagaimana Eisenberg berimprovisasi dalam melakukan tugasnya. Walhasil, aktor berusia 28 tahun ini dengan mulus berhasil menyampaikan sosok karakter individualistis yang jenius sekaligus menyebalkan. Jajaran cast pendukung yang lain pun turut tampil dengan performa terbaiknya. Kredit khusus kita alamatkan bagi Andrew Garfield, penampilannya kali ini oleh dibilang merupakan satu langkah yang bagus darinya, jika kita mengingat akan proyek The Amazing Spider-Man tahun 2012 mendatang. Setidaknya permainan apiknya kali ini mampu memantapkan namanya atas jatuhnya peran Peter parker padanya guna membuktikan pada khalayak kelak. Sementara itu, Justin Timberlake bermain cukup nyaman dan baik meski di beberapa bagian terkesan over. Pujian juga patut kita sematkan pada Armie Hammer yang berperan ganda sebagai si kembar Winklevoss. Ada yang menyangka bahwa mereka adalah satu orang?

Usai menyimak The Social Network, dipastikan tidak sedikit dari penonton yang pada akhirnya penasaran dan menimbulkan satu pertanyaan, apa pendapat Zuckerberg mengenai film ini? Karena jika tilik secara keseluruhan, apa yang dijabarkan sepanjang film tidaklah berfokus pada kejeniusan seorang Zuckerberg dalam menciptakan situs jejaring sosial yang penggunanya sudah mencapai 500 juta itu. Justru kesan yang ada lebih ke arah menyudutkan dirinya, dengan diperlihatkannya beberapa sikap buruk sang jutawan muda, mulai dari melayangkan kata-kata kasar terhadap pacarnya hingga mendepak sahabatnya sendiri (Eduardo Saverin). Ternyata usut punya usut, satu fakta menarik didapat mengenai buku karya Mezrich yang dijadikan adaptasi naskah film ini, ternyata dalam penulisannya, ia dibantu oleh Eduardo Saverin. Itulah mengapa film ini akhirnya tampak seperti sebuah eksploitasi tabiat buruk seorang Zuckerberg.

Terlepas dari itu, The Social Network adalah salah satu tontonan terbaik di tahun 2010 berkat naskah jempolan Aaron Sarkin ditambah kemampuan David Fincher yang mampu meramunya menjadi sebuah dramatisasi berkualitas. Kini kita tinggal menunggu puncak pembuktian kejayaan film ini 27 Februari mendatang lewat ajang Academy Awards. Dan rasanya kali ini juri-juri Oscar akan melakukan kebiasaannya kembali semacam penebusan kesalahan, karena di tahun 2008 silam harusnya Fincher layak untuk dipilih sebagai yang terbaik.

Minggu, 13 Februari 2011

Black Swan (2010)


Cast: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel, Barbara Hershey, Winona Ryder
Diretor: Darren Aronofsky
Writers: Mark Heyman, Andres Heinz, John J. McLaughlin
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Overall: 8/10

Masuknya Black Swan dalam jajaran terbaik di berbagai ajang festival seperti Screen Actors Guild Awards, Independent Spirit Awards, Venice Film Festival, BAFTA Awards dan terakhir Golden Globes serta ajang penghargaan tertinggi insan perfilman Academy Awards, tentunya menjadi bekal bagi film arahan Darren Aronofsky ini untuk hadir sebagai film drama yang istimewa, terlepas dari premisnya yang sekilas tampak biasa.

Menjadi seorang pebalet professional adalah impian terbesar bagi Nina Sayers (Natalie Portman). Hingga satu ketika datang kesempatan yang dirasa olehnya adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan impiannya tersebut. Kesempatan itu datang ketika harus mengisi satu posisi penting sebagai peran utama dalam suatu pementasan bergengsi bertajuk Swan Lake. Berhasil menyisihkan para pebalet lain dalam memperebutkan peran Swan Queen, tokoh utama dari pementasan itu, tentunya hanyalah sebuah langkah awal. Terlebih karena peran yang akan ia mainkan nanti tidaklah mudah untuk dilakoni. Swan Queen tampil dengan dua sisi emosi yang berbeda, pertama karakter White Queen yang penuh dengan kepolosan dan di sisi lain ada Black Swan yang dirasa oleh Nina, karakter dari Black Swan sungguh berbanding terbalik dengan kepribadiannya. Dan di sinilah letak kesulitannya. Ia tidak mampu menampilkan sisi gelap, menggoda sekaligus sensualnya Black Swan, terlebih ketika Thomas Leroy (Vincent Casel) sang sutradara pementasan, menyebutkan setiap gerakan yang ia tampilkan tidaklah memiliki jiwa. Dan hal ini semakin diperparah oleh kehadiran pebalet lain yaitu Lily (Mila Kunis), yang menurut Thomas lebih cocok dan menguasai karakter Black Swan dan hal ini semakin membebani psikis Nina.

Seperti yang disebutkan di awal, sekilas Black Swan memang tampak seperti sebuah film yang hanya menceritakan persaingan dua pebalet dalam memperebutkan peran penting guna kemajuan kariernya. Namun apa yang ditampilkan Darren Aronofsky, tidaklah hanya berfokus pada premis sederhana itu saja. Kesederhanaan itu kemudian ia kembangkan dengan cara yang mungkin tidak akan bisa dinikmati semua penonton film.

Lembut, anggun, cantik mungkin itu yang biasa kita dapat lewat pementasan balet. Lain halnya dengan Black Swan, di tangan sineas kelahiran 12 Februari 1969 ini, balet berubah menjadi sesuatu yang gelap, berat dan terlihat mengerikan. Coba tengok beberapa elemen yang ada!!! Ambil contoh setting atau kostum hingga setiap karakter. Dipastikan bagi penonton yang hanya mengetahui pengetahuan tentang balet hanya sedikit saja pastinya akan terkaget-kaget atas paparan kisah yang disajikan Aronofsky di sini. Seperti inikah dunia balet? Kemudian dengan adanya beberapa scene mengejutkan ditambah disisipi aroma erotis, kita sebagai penonton terkadang akan lebih merasakan seperti sedang menikmati satu tontonan thriller/horror erotis.

Secara perlahan pula, lebih dari setengah durasi, Aronofsky mengajak penonton untuk mengikuti perubahan karakter sang tokoh utama, Nina Sayers. Polos serta dipenuhi keraguan secara pelan dan pasti, berkembang menjadi karakter yang gelap dan penuh tipu daya, layaknya pergantian dua karakter dalam pementasan yang akan ia mainkan. Dalam proses transformasi itupun, dipastikan sebagian dari penonton akan dibuat kebingungan akan jalannya cerita. Hal ini dikarenakan tidak sedikitnya berbagai hal absurd yang menyertai pencarian jati diri Nina, hingga akhirnya menimbulkan satu pertanyaan di benak penonton, atas apa yang terjadi pada diri seorang Nina Sayers. Apakah ini hanya halusinasi semata ataukah memang kenyataan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, dimana lebih dari setengah durasi yang ada, cerita lebih berfokus pada karakter Nina Sayers. Tentu saja ini menjadi tugas utama Aronofsky selaku sutradara dalam mengarahkan Natalie Portman agar mengeluarkan totalitas kemampuannya. Dan hal ini berhasil. Boleh dibilang inilah penampilan terbaik dari aktris berusia 29 tahun ini. Portman lebih banyak bermain dengan emosinya ketimbang melapalkan rentetan dialog bersama karakter lain. Dan hal ini sukses ia tampilkan hingga menciptakan satu sosok individualistis yang depresi yaitu seorang Nina Sayers. Portman pun berhasil dalam membawa serta penonton untuk ikut hanyut oleh arus depresi, konflik batin yang dialami Nina. Satu lagi yang patut kita hargai, lewat usahanya dalam melakukan tariannya sendiri. Tidak sia-sia baginya berlatih selama 6 bulan dimana menyisihkan waktu sekitar 5 jam dalam sehari untuk ikut pelatihan balet juga fisik. Walhasil melalui perannya ini, berbagai penghargaan diraihnya termasuk award bergengsi yang sukses didapatnya ketika Golden Globe kemarin sebagai aktris terbaik dalam film drama.

Puncak karier Portman pun akan dibuktikan 27 Februari mendatang lewat ajang Academy Awards. Seperti kita tahu sendiri Portman sukses melenggang masuk sebagai calon terbaik dalam nominasi Best Performance by an Actress in a Leading Role di acara penghargaan ini yang memang disebut-sebut sebagai patokan sukses atau tidaknya bagi siapapun yang bergelut di dunia perfilman. Cukup sulit memang baginya, mengingat ada nama Annete Bening yang juga cukup banyak diperhitungkan untuk meraih gelar terbaik tersebut. Namun rasanya jika kita mengingat beberapa keberanian yang dilakukan Portman dalam Black Swan, seperti hot scenenya bersama Mila kunis, rasa-rasanya hal ini menjadi satu nilai lebih baginya. Jika kita tengok beberapa hasil aktris terbaik dalam ajang ini, sepertinya juri-juri Oscar menyukai akan hal-hal keberanian semacam ini bukan?

Sabtu, 05 Februari 2011

The Kids Are All Right (2010)


Cast: Annette Bening, Julianne Moore, Mark Ruffalo, Mia Wasikowska, Josh Hutcherson
Director: Lisa Cholodenko
Writers: Lisa Cholodenko, Stuart Blumberg
Genre: Drama, Comedy
Overall: 8/10

Nic (Annete Bening) dan Jules (Julianne Moore) adalah sepasang kekasih lesbian yang telah lama hidup bersama dan memiliki dua anak dari masing-masing individu. Joni (Mia Wasikowska) merupakan anak paling besar dari Nic. Sementara Jules memiliki Laser (Josh Hutcherson). Keduanya lahir melalui proses inseminasi (proses pendonoran sperma) dari orang yang sama. Ketika Joni mulai memasuki masa kuliah, Laser memintanya untuk mencari tahu tentang siapa pria yang menjadi ayah biologisnya, melalui sebuah lembaga pendonoran sperma. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun bertemu dengan sosok pria yang boleh dibilang sebagai ayah kandungnya, seorang pengusaha restaurant bernama Paul (Mark Ruffalo). Pertemuan pertama, memberi kesan yang baik pada diri masing-masing, termasuk pada Nic dan Jules ketika pertemuan berikutnya dalam acara makan bersama. Hal tersebut menimbulkan keakraban satu sama lain, terlebih bagi Jules yang berujung pada tindakannya sehingga menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga yang selama ini telah dibangun bersama.

Sensitif memang jika mengingat apa yang diangkat oleh Lisa Cholodenko selaku sutradara sekaligus penulis naskah dari film ini. Justru dengan tema seperti inilah yang menjadikan The Kids Are All Right hadir sebagai tontonan drama komedi keluarga yang berbeda dan istimewa jika dibandingkan dengan beberapa film drama keluarga yang telah dibuat sebelumnya. Dari struktur keluarga yang ditampilkan, tidak terdapat sosok bernama ayah di sini. Yang ada hanya ada dua orang wanita dewasa, dimana mereka hidup bersama atas dasar cinta juga memiliki dua orang anak dan anak-anak mereka pun menerima kondisi yang ada. Jika hanya berbekal premis sederhana yang saya sebutkan tadi, pastinya kita yang belum menonton akan menganggap bahwa ada yang salah dari jalinan keluarga ini dan bukan satu contoh yang patut ditiru atau diteladani. Namun pemikiran tersebut sedikit demi sedikit mulai terbantahkan ketika kita menyimak menit ke menit penyajian cerita dari film ini. Kita sebagai penonton tidak menangkap ada sesuatu yang salah dalam kisah kelurga ini dan kita pun mau tidak mau harus menilai bahwa pasangan kedua wanita yang menjadi tokoh sentral di sini adalah pasangan "normal" biasa pada umumnya, yang berperan sebagai orang tua dimana mereka berusaha menjaga keutuhan keluarga serta pernikahan yang selama ini mereka bina.

Dari sini jelas terlihat tugas dari Lisa Cholodenko sudah terlaksana dengan baik. Kisah yang dibuat bersama Stuart Blumberg, tidak sepenuhnya menampilkan bagaimana hubungan sepasang lesbian yang pastinya bakal menimbulkan kontroversi, justru Cholodenko lebih menitik beratkan pada nilai-nilai penting dalam sebuah jalinan keluarga hingga terjalin menjadi sebuah tontonan yang ringan dengan tidak meninggalkan paket bermutu. Dan hal inilah yang mampu membuat penonton dengan sangat mulus mudah menerima.

Kesempurnaan cerita ini tentunya dibantu pula oleh jajaran pemainnya. Kredit khusus pastinya patut kita layangkan pada duo cast utamanya, Annete Bening dan Julianne Moore. Dengan begitu alami mereka menampilkan performa terbaiknya dan menghadirkan chemistry yang pas. Emosi dari keduanya ketika menghadapi problematika yang mulai melanda, begitu meyakinkan mereka tampilkan, sehingga penonton pun serasa ikut merasakan apa yang mereka berdua alami. Mark Ruffalo pun hadir bukan hanya sekedar sebagai pendukung saja. Sama seperti Bening dan Moore, Ruffalo sama-sama menampilkan performanya yang berkelas. Begitu pula dengan para pemain belia seperti Mia Wasikowska dan Josh Hutcherson, keduanya turut membantu menciptakan jajaran cast yang ideal.

Bagi anda yang mengharapkan satu tontonan drama keluarga dengan formula baru tanpa alur yang memusingkan, justru terkesan ringan, menghibur melalui sisipan unsur komedi di dalamnya dan tidak lupa diliputi oleh konfilk seputaran keluarga, pastinya The Kids Are All Right adalah satu pilihan yang patut untuk anda jajal. Meski sebenarnya jika mengingat bahwa kita adalah seseorang yang tinggal di negara yang dipenuhi oleh adat serta norma yang kuat, struktur keluarga seperti ini tidaklah patut untuk diikuti. Terlepas dari itu, justru kegigihan dan rasa bertanggung jawab terhadap keluargalah yang wajin kita petik dari kisah keluarga ini.

Minggu, 30 Januari 2011

Departures (2008)


Cast: Masahiro Motoki, Ryoko Hirosue, Tsutomu Yamazaki
Director: Yojiro Takita
Genre: Drama
Overall: 8/10

Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki) terpaksa harus mengubur keinginannya sebagai pemain cello profesional sekaligus kehilangan pekerjaannya dikarenakan grup orchestranya bubar. Grup tersebut harus berhenti tampil karena memang disetiap pementasannya sepi akan peminat. Menghadapi hal itu, Daigo beserta sang istri memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya dan menempati rumah peninggalan mendiang ibunya. Di sana ia mencoba peruntungan dengan memasuki satu lowongan pekerjaan yang ia dapat dari salah satu surat kabar. Awalnya ia berpikir bahwa pekerjaannya yang ia datangi adalah salah satu usaha di bidang travel, karena dalam iklan tersebut tertulis satu kata "keberangkatan". Ternyata kata tersebut bukanlah arti sebenarnya. Keberangkatan yang dimaksud adalah satu prosesi yang ditujukan bagi jenazah sebelum akhirnya akan dikremasi. Prosesi inilah yang nantinya akan dilakoni Daigo sebagai profesi barunya seperti memandikan dan merias wajah jenazah. Namun pekerjaan barunya ini tidaklah lancar ia jalani karena acap kali profesi ini sering mendapat cibiran oleh masyarakat sekitar terlebih istrinya sendiri pun ikut tidak menyetujuinya. Dengan tentangan yang ditujukan padanya tidak lantas membuatnya mundur, justru dengan sikap profesional dan penuh dedikasi, ia lakoni profesi barunya itu meski awalnya sempat dihinggapi keraguan. Dari sini pulalah kelak ia akan mendapatkan kenyataan yang akan mengubah kekeliruan mengenai keluarganya di masa lalu.

Satu alasan bagi saya dalam menikmati tontonan non US adalah karena film yang dimaksud banyak menuai pujian kritikus serta masuk dalam jajaran terbaik festival bergengsi dunia. Alasan ini pulalah yang mendasari saya dalam menjajal Departures, satu film asing asal Jepang karya Yojiro Takita. Banjirnya tanggapan psoitif ditambah predikat film berbahsa asing terbaik versi Academy Awards pastinya 'tak ada alasan untuk tidak mencoba menontonnya. Premis yang disajikan sebenarnya terbilang sederhana namun Takita berhasil dalam mengeksekusi film ini dengan baik. Alurnya berjalan lambat dan mungkin hal inilah yang menjadi alasan penonton umum yang kurang begitu suka akan drama, mejauhi tontonan semacam ini dimana 15 menit awal durasi film, cerita akan terasa datar. Akan tetapi lewat dari itu dimulailah emosi penonton mulai terbangun dan bersimpati atas apa yang menimpa sang tokoh utama. Di sini terbukti dengan penuturannya yang lambat, penjabaran cerita akan berhasil tersampaikan dengan mulus.

Departures merupakan sajian yang penuh dengan moment-moment menyentuh sekaligus menggelitik lewat sempilan humor di dalamnya. Dengan diangkatnya kematian sebagai tema film, tidak lantas membuat film ini hadir layaknya kematian yang menghantui tiap manusia dan seolah-olah kematian adalah sesuatu yang sangat ditakuti. Justru di sini kematian diperlihatkan dengan sentuhan kelembutan bahkan bisa dibilang indah. Dari gambaran tersebut penonton seakan diajak untuk tidak takut akan takdir yang pastinya akan diterima oleh setiap manusia. Tidak lupa visualisasi setting pedesaannya pun terasa menenangkan ditambah iringan musik yang di setiap scene membuat film ini makin terasa menyentuh.

Film ini pastinya tidak akan tampil dengan sempurna secara keseluruhan jika tidak dibarengi totalitas dari cast utamanya Masahiro Motoki. Aktingnya di sini terbilang mulus. Coba tengok tiap emosi yang ia tampilkan beserta mimik dari wajahnya. Begitupun perubahan dari dirinya yang rapuh karena kehilangan pekerjaan ditambah kesedihan batin akan masa lalunya berubah perlahan menjadi individu yang optimis untuk maju dan membuktikan pada orang-orang di sekelilingnya. Satu scene yang paling menyentuh dan dipastikan bagi siapapun yang tidak dekat/kehilangan akan sosok ayah, emosi kita akan turut serta lewat eksekusi dari film ini.

Departures memang bukanlah termasuk jenis tontonan yang cocok bagi setiap penonton terlebih jika mengingat tema yang diangkat. Akan tetapi di luar hal itu, Departures adalah satu film yang meyimpan makna mendalam yang bisa kita selami. Menengok ke tahun 2008 di mana film ini sukses menyabet Oscar sebagai Best Foreign Language Film of the Year dan menyingkirkan Waltz with Bashir yang lebih banyak dijagokan, saya belum bisa berkomentar apa film ini pantas untuk mendapatkan predikat tersebut karena saya sendiri belum menyimak kelima film yang masuk jajaran nominasi. Sejauh ini hanya The Class yang baru saya tonton. Dan jika dibandingkan dengan film asal Perancis tersebut Departures memang masih lebih baik.

Kamis, 27 Januari 2011

THE 83rd ACADEMY AWARDS NOMINEES


Perhelatan akbar Academy Awards, selasa 25 Januari mulai mengumumkan film-film beserta jajaran insan perfilman mana saja yang masuk dalam jajaran terbaik. Oscar, begitulah ajang penghargaan tertinggi ini disebut dimana kali ini telah memasuki tahunnya yang ke-83. Pengumuman nominasi kali ini sedikitnya memberi kejutan didua kategori utama, dimana nama Javier Bardem tiba-tiba muncul sebagai calon terbaik di kategori Best Performance by an Actor in a Leading Role. Dan yang paling mengejutkan dan menjadi bahan perbincangan adalah tidak masuknya nama Christopher Nolan dalam jajaran nominasi Best Achievement in Directing. Banyak yang menyesalkan hal ini dan menganggap juri-juri Oscar seakan menutup mata dengan penyutradaraan brilian Nolan lewat Inception.

The King's Speech malam itu menjadi film yang paling banyak mengumpulkan nominasi. Dari 24 nominasi yang ada, film arahan Tom Hooper itu meraih 12 nominasi. Diikuti oleh Inception dan The Social Network yang sama-sama mengemas 8 nominasi. Disusul The Fighter (7 nominasi), 127 Hours (6 nominasi) dan Black Swan serta Toy Story 3 keduanya sama-sama memperoleh 5 nominasi. Untuk gelaran utamanya sendiri akan diadakan di Kodak Theatre, Hollywood tanggal 27 Februari 2011.

Dan berikut daftar lengkap nominasi Academy Awards ke-83.


Best Motion Picture of the Year

NOMINEES
127 Hours
Black Swan
The Fighter
Inception
The Kids Are All Right
The King's Speech
The Social Network
Toy Story 3
True Grit
Winter's Bone

Best Performance by an Actor in a Leading Role

NOMINEES
Javier Bardem (Biutiful)
Jeff Bridges (True Grit)
Jesse Eisenberg (The Social Network)
Colin Firth (The King's Speech)
James Franco (127 Hours)

Best Performance by an Actress in a Leading Role

NOMINEES
Annette Bening (The Kids Are All Right)
Nicole Kidman (Rabbit Hole)
Jennifer Lawrence (Winter's Bone)
Natalie Portman (Black Swan)
Michelle Williams (Blue Valentine)

Best Performance by an Actor in a Supporting Role

NOMINEES
Christian Bale (The Fighter)
John Hawkes (Winter's Bone)
Jeremy Renner (The Town)
Mark Ruffalo (The Kids Are All Right)
Geoffrey Rush (The King's Speech)

Best Performance by an Actress in a Supporting Role

NOMINEES
Amy Adams (The Fighter)
Helena Bonham Carter (The King's Speech)
Melissa Leo (The Fighter)
Hailee Steinfeld (True Grit)
Jacki Weaver (Animal Kingdom)

Best Achievement in Directing

NOMINEES
Black Swan: Darren Aronofsky
True Grit: Ethan Coen, Joel Coen
The Social Network: David Fincher
The King's Speech: Tom Hooper
The Fighter: David O. Russell

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

NOMINEES
Another Year: Mike Leigh
The Fighter: Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson, Keith Dorrington
Inception: Christopher Nolan
The Kids Are All Right: Lisa Cholodenko, Stuart Blumberg
The King's Speech: David Seidler

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published

NOMINEES
127 Hours: Danny Boyle, Simon Beaufoy
The Social Network: Aaron Sorkin
Toy Story 3: Michael Arndt, John Lasseter, Andrew Stanton, Lee Unkrich
True Grit: Joel Coen, Ethan Coen
Winter's Bone: Debra Granik, Anne Rosellini

Best Achievement in Cinematography

NOMINEES
Black Swan: Matthew Libatique
Inception: Wally Pfister
The King's Speech: Danny Cohen
The Social Network: Jeff Cronenweth
True Grit: Roger Deakins

Best Achievement in Art Direction

NOMINEES
Alice in Wonderland: Robert Stromberg, Karen O'Hara
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Stuart Craig, Stephenie McMillan
Inception: Guy Hendrix Dyas, Larry Dias, Douglas A. Mowat
The King's Speech: Eve Stewart, Judy Farr
True Grit: Jess Gonchor, Nancy Haigh

Best Achievement in Costume Design

NOMINEES
Alice in Wonderland: Colleen Atwood
I Am Love: Antonella Cannarozzi
The King's Speech: Jenny Beavan
The Tempest: Sandy Powell
True Grit: Mary Zophres

Best Achievement in Sound Mixing

NOMINEES
Inception: Lora Hirschberg, Gary Rizzo, Ed Novick
The King's Speech: Paul Hamblin, Martin Jensen, John Midgley
Salt: Jeffrey J. Haboush, William Sarokin, Scott Millan, Greg P. Russell
The Social Network: Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick, Mark Weingarten
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff, Peter F. Kurland

Best Achievement in Editing

NOMINEES
127 Hours: Jon Harris
Black Swan: Andrew Weisblum
The Fighter: Pamela Martin
The King's Speech: Tariq Anwar
The Social Network: Kirk Baxter, Angus Wall

Best Achievement in Sound Editing

NOMINEES
Inception: Richard King
Toy Story 3: Tom Myers, Michael Silvers
TRON: Legacy: Gwendolyn Yates Whittle, Addison Teague
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey
Unstoppable: Mark P. Stoeckinger

Best Achievement in Visual Effects

NOMINEES
Alice in Wonderland: Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas, Sean Phillips
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Tim Burke, John Richardson, Christian Manz, Nicolas Aithadi
Hereafter: Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky, Joe Farrell
Inception: Chris Corbould, Andrew Lockley, Pete Bebb, Paul J. Franklin
Iron Man 2: Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright, Daniel Sudick

Best Achievement in Makeup

NOMINEES
Barney's Version: Adrien Morot
The Way Back: Edouard F. Henriques, Greg Funk, Yolanda Toussieng
The Wolfman: Rick Baker, Dave Elsey

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

NOMINEES
127 Hours: A.R. Rahman, Rollo Armstrong, Dido
- "If I Rise"
Country Strong: Tom Douglas, Hillary Lindsey, Troy Verges
- "Coming Home"
Tangled: Alan Menken, Glenn Slater
- "I See the Light"
Toy Story 3: Randy Newman
- "We Belong Together"

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score

NOMINEES
127 Hours: A.R. Rahman
How to Train Your Dragon: John Powell
Inception: Hans Zimmer
The King's Speech: Alexandre Desplat
The Social Network: Trent Reznor, Atticus Ross

Best Short Film, Animated

NOMINEES
Day & Night: Teddy Newton
The Gruffalo: Jakob Schuh, Max Lang
Let's Pollute: Geefwee Boedoe
The Lost Thing: Shaun Tan, Andrew Ruhemann
Madagascar, a Journey Diary: Bastien Dubois

Best Short Film, Live Action

NOMINEES
The Confession: Tanel Toom
The Crush: Michael Creagh
God of Love: Luke Matheny
Na Wewe: Ivan Goldschmidt
Wish 143: Ian Barnes, Samantha Waite

Best Documentary, Short Subjects

NOMINEES
Killing in the Name: Nominees TBD
Poster Girl: Nominees TBD
Strangers No More: Karen Goodman, Kirk Simon
Sun Come Up: Jennifer Redfearn, Tim Metzger
The Warriors of Qiugang: Ruby Yang, Thomas Lennon

Best Documentary, Features

NOMINEES
Exit Through the Gift Shop: Banksy, Jaimie D'Cruz
GasLand: Josh Fox, Trish Adlesic
Inside Job: Charles Ferguson, Audrey Marrs
Restrepo: Tim Hetherington, Sebastian Junger
Waste Land: Lucy Walker, Angus Aynsley

Best Foreign Language Film of the Year

NOMINEES
Biutiful: Alejandro González Iñárritu
- Mexico
Dogtooth: Giorgos Lanthimos
- Greece
Civilization: Susanne Bier
- Denmark
Incendies: Denis Villeneuve
- Canada
Outside the Law: Rachid Bouchareb
- Algeria

Best Animated Feature Film of the Year

NOMINEES
How to Train Your Dragon: Dean DeBlois, Chris Sanders
The Illusionist: Sylvain Chomet
Toy Story 3: Lee Unkrich

Jumat, 21 Januari 2011

The 68th Golden Globes 2011


Gelaran akbar perfilman Hollywood yang disebut-sebut sebagai ajang pemanasan menjelang Academy Award, Golden Globe ke-68 telah tuntas digelar pada hari senin tanggal 16 Januari 2011. The Social Network sukses mengungguli dengan perolehan 4 penghargaan diantaranya untuk Best Motion Picture - Drama yang menyisihkan Black Swan dan The King's Speech yang lebih banyak diunggulkan. Selain itu film mengenai pendiri facebook ini juga menang untuk Best Screenplay - Motion Picture, Best Original Score - Motion Picture dan Best Director - Motion Picture bagi David Fincher dimana ini adalah Golden Globe pertama baginya. Sementara itu The Kids Are All Right seperti yang perkiraan sebelumnya akan mudah menang menyisihkan nominator lain sebagai Best Motion Picture - Musical or Comedy, begitu pula bagi Annete Bening yang bermain di dalamnya berhasil memenangkan kategori Best Performance by an Actress in a Motion Picture - Musical or Comedy. Di bagian drama tercatat Natalie Portman sebagai yang terbaik sementara dari aktor, Colin Firth muncul sebagai pemenang. Dan Paul Giamatti sukses melangkahi Johnny Depp sebagai Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Musical or Comedy. Toy Story 3 seperti yang diperkirakan jauh-jauh hari sukses melambungkan kembali nama Pixar lebih tinggi dengan menyabet gelar Best Animated Film. Dari pertelevisian serial komedi musikal Glee sukses menyabet predikat sebagai Best Television Series - Musical or Comedy.

Selain itu, malam penganugerahan bergengsi tersebut juga menyisakan berita yang lebih banyak diperbincangkan setelah acara usai digelar. Berita ini mengenai komedian asal Inggris Ricky Gervais dimana malam itu ia bertugas sebagai host utama dan ini adalah kali kedua ia dalam memandu Golden Globe sekaligus yang terakhir baginya dikarenakan pihak penyelenggara dengan secara sepihak memecat dan menyudahi kontrak kerja dengannya. Hal ini dikarenakan Gervais dianggap telah kelewat batas dengan melontarkan lelucon-lelucon kasar pada artis-artis papan atas yang hadir pada malam itu seperti Angelina Jolie, Johnny Depp, Charlie Sheen, Cher, Robert Downey Jr dan puncaknya adalah ketika ia mengejek kepala Asosiasi Jurnalis Asing Hollywood Philip Berk. Hal ini juga berimbas pada film-filmnya yang dikabarkan tidak akan masuk dalam jajaran terbaik Golden Globe berikutnya.




Seperti biasa sebelum acara dimulai, digelar satu moment yang bisa dibilang adalah ajang catwalk bagi para selebriti yang hadir dalam acara itu guna memamerkan gaun-gaun mewah rancangan desainer terkenal, yaitu red carpet yang pastinya termasuk salah satu dari bagian acara yang paling ditunggu. Tercatat ada beberapa nama yang tampil dengan memukau hingga disebut sebagai yang terbaik. Beberapa diantaranya adalah Anne Hathaway yang tampil elegan dengan gaun backless-nya kemudian Angelina Jolie yang kembali tampil sempurna dengan balutan gaun berwarna hijau rancangan Versace.





Sementara itu ada sebagian nama yang sayang penampilannya malam itu boleh dibilang kurang begitu maksimal atau malah terlalu over hingga dicap sebagai yang terburuk. Aktris terbaik tahun lalu Sandra Bullock dianggap penampilannya malam itu kurang. Dengan balutan gaun yang dianggap terlalu pucat ditambah taburan hiasan berlian disekelilingnya dan diperparah oleh poni rambutnya yang dianggap terlalu menumpuk. Yang paling parah adalah aktris yang selalu berpenampilan eksentrik Helena Bonham Carter. Malam itu gaunnya terkesan acak-acakan begitupun dengan rambutnya dan yang paling 'hebat' adalah padanan warna sepatunya yang saling berseberangan.





Dan berikut daftar nominasi dan pemenang Golden Globe ke-68:

Best Motion Picture - Drama

WINNER
The Social Network



NOMINEES
Black Swan
The Fighter
Inception
The King's Speech

Best Motion Picture - Musical or Comedy

WINNER
The Kids Are All Right



NOMINEES
Alice in Wonderland
Burlesque
Red
The Tourist

Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Drama

WINNER
The King's Speech: Colin Firth



NOMINEES
The Social Network: Jesse Eisenberg
127 Hours: James Franco
Blue Valentine: Ryan Gosling
The Fighter: Mark Wahlberg

Best Performance by an Actor in a Motion Picture - Musical or Comedy

WINNER
Barney's Version: Paul Giamatti



NOMINEES
The Tourist: Johnny Depp
Alice in Wonderland: Johnny Depp
Love and Other Drugs: Jake Gyllenhaal
Casino Jack: Kevin Spacey

Best Performance by an Actress in a Motion Picture - Drama

WINNER
Black Swan: Natalie Portman



NOMINEES
Frankie and Alice: Halle Berry
Rabbit Hole: Nicole Kidman
Winter's Bone: Jennifer Lawrence
Blue Valentine: Michelle Williams

Best Performance by an Actress in a Motion Picture - Musical or Comedy

WINNER
The Kids Are All Right: Annette Bening



NOMINEES
Love and Other Drugs: Anne Hathaway
The Tourist: Angelina Jolie
The Kids Are All Right: Julianne Moore
Easy A: Emma Stone

Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Motion Picture

WINNER
The Fighter: Christian Bale



NOMINEES
Wall Street: Money Never Sleeps: Michael Douglas
The Social Network: Andrew Garfield
The Town: Jeremy Renner
The King's Speech: Geoffrey Rush

Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Motion Picture

WINNER
The Fighter: Melissa Leo



NOMINEES
The Fighter: Amy Adams
The King's Speech: Helena Bonham Carter
Black Swan: Mila Kunis
Animal Kingdom: Jacki Weaver

Best Director - Motion Picture

WINNER
The Social Network: David Fincher
NOMINEES
Black Swan: Darren Aronofsky
The King's Speech: Tom Hooper
Inception: Christopher Nolan
The Fighter: David O. Russell

Best Screenplay - Motion Picture

WINNER
The Social Network: Aaron Sorkin
NOMINEES
127 Hours: Danny Boyle, Simon Beaufoy
Inception: Christopher Nolan
The Kids Are All Right: Stuart Blumberg, Lisa Cholodenko
The King's Speech: David Seidler

Best Original Song - Motion Picture

WINNER
Burlesque
- "You Haven't Seen The Last of Me"
NOMINEES
Burlesque
- "Bound to You"
Country Strong
- "Coming Home"
The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader
- "There's A Place For Us"
Tangled
- "I See the Light"

Best Original Score - Motion Picture

WINNER
The Social Network: Trent Reznor, Atticus Ross
NOMINEES
127 Hours: A.R. Rahman
Alice in Wonderland: Danny Elfman
Inception: Hans Zimmer
The King's Speech: Alexandre Desplat

Best Foreign Language Film

WINNER
In a Better World
NOMINEES
Biutiful
I Am Love
The Concert
The Edge

Best Animated Film

WINNER
Toy Story 3
NOMINEES
Despicable Me
How to Train Your Dragon
The Illusionist
Tangled

Best Performance by an Actor in a Television Series - Drama

WINNER
Boardwalk Empire: Steve Buscemi
NOMINEES
Breaking Bad: Bryan Cranston
Dexter: Michael C. Hall
Mad Men: Jon Hamm
House: Hugh Laurie

Best Performance by an Actor in a Mini-Series or a Motion Picture Made for Television

WINNER
You Don't Know Jack: Al Pacino
NOMINEES
Luther: Idris Elba
The Pillars of the Earth: Ian McShane
The Special Relationship: Dennis Quaid
Carlos: Édgar Ramírez

Best Performance by an Actor in a Television Series - Musical or Comedy

WINNER
The Big Bang Theory: Jim Parsons
NOMINEES
30 Rock: Alec Baldwin
The Office: Steve Carell
Hung: Thomas Jane
Glee: Matthew Morrison

Best Performance by an Actress in a Television Series - Drama

WINNER
Sons of Anarchy: Katey Sagal
NOMINEES
The Good Wife: Julianna Margulies
Mad Men: Elisabeth Moss
Covert Affairs: Piper Perabo
The Closer: Kyra Sedgwick

Best Performance by an Actress in a Mini-Series or a Motion Picture Made for Television

WINNER
Temple Grandin: Claire Danes
NOMINEES
The Pillars of the Earth: Hayley Atwell
Cranford: Judi Dench
Emma: Romola Garai
The Client List: Jennifer Love Hewitt

Best Performance by an Actress in a Television Series - Musical or Comedy

WINNER
The Big C: Laura Linney
NOMINEES
United States of Tara: Toni Collette
Nurse Jackie: Edie Falco
30 Rock: Tina Fey
Glee: Lea Michele

Best Performance by an Actor in a Supporting Role in a Series, Mini-Series or Motion Picture Made for Television

WINNER
Glee: Chris Colfer
NOMINEES
Hawaii Five-0: Scott Caan
The Good Wife: Chris Noth
Modern Family: Eric Stonestreet
Temple Grandin: David Strathairn

Best Performance by an Actress in a Supporting Role in a Series, Mini-Series or Motion Picture Made for Television

WINNER
Glee: Jane Lynch
NOMINEES
The Special Relationship: Hope Davis
Boardwalk Empire: Kelly Macdonald
Dexter: Julia Stiles
Modern Family: Sofía Vergara

Best Television Series - Musical or Comedy

WINNER
Glee
NOMINEES
The Big Bang Theory
The Big C
Modern Family
Nurse Jackie
30 Rock

Best Television Series - Drama

WINNER
Boardwalk Empire
NOMINEES
Dexter
The Good Wife
Mad Men
The Walking Dead

Best Mini-Series or Motion Picture Made for Television

WINNER
Carlos
NOMINEES
The Pacific
The Pillars of the Earth
Temple Grandin
You Don't Know Jack

Rabu, 19 Januari 2011

Devil (2010)


Cast: Chris Messina, Logan Marshall-Green, Jenny O'Hara, Bojana Novakovic, Bokeem Woodbine, Geoffrey Arend
Director: John Erick Dowdle
Genre: Horror, Mystery, Thriller
Overall: 6/10

Nama M. Night Shyamalan kini memang sedang dalam keadaan terpuruk pasca karya-karyanya setelah Lady in the Water terlebih produk terakhirnya, adaptasi serial animasi The Last Airbender yang mendapat cibiran di mana-mana, kendati hasil raupan labanya menuai senyum cukup puas dan bersiap untuk kelanjutan proyek sekuelnya. Dengan pencapaian rendah berturut-turut tersebut kredibilitasnya sebagai sutradara memang kini dipertanyakan namun di luar itu masih ada sebagian orang yang masih penasaran akan proyek berikut miliknya. Mungkin menilik dari hal itu, satu film terbaru bertajuk Devil produksi Universal Pictures menempatkan nama sineas asal India ini dengan penempatan utama dan diharapkan mampu menjadi satu nilai jual akan filmnya sendiri dan menarik kepenasaran penonton untuk menyimak filmnya. Jika itu adalah salah satu strategi, cukup aneh memang mengingat nama Shyamalan kurang cukup baik untuk saat ini.

Dalam Devil Shyamalan tidak lagi duduk di singgasananya, melainkan dirinya bertugas sebagai penggagas cerita yang ditulis kembali oleh Brian Nelson selaku penulis naskah. Sementara tugas sutradara diserahakan kepada sineas penggarap Quarantine, John Erick Dowdle. Devil mengisahkan kematian tragis yang menimpa 5 orang yang terjebak dalam sebuah lift. Kematian mendadak salah satu penghuni lift tentunya menimbilkan kecurigaan satu sama lain diantara penghuni yang masih hidup. Dan kejadian ini membuat Detective Bowden yang kebetulan sedang berada di gedung yang sama guna mengusut kasus bunuh diri harus ikut serta untuk menangani kasus ini.

Cukup, itulah yang bisa kita sematkan untuk tontonan horror yang satu ini. Ketegangan yang ditampilkan sudah cukup membuat penonton dag dig dug meski tidak sampai ke level terhenyak dari tempat duduk. Jajaran castnya pun tampil dengan porsi yang pas, di sini saya tujukan khusus bagi para penghuni lift. Sementara bagi Chris Messina tidak ada yang spesial dengan tampilannya kali ini, karakternya terasa biasa dan datar. Dengan durasi yang termasuk pendek, Devil sudah cukup dalam meyampaikan keseluruhan cerita. Jika durasi yang dimiliki lebih lama dipastikan cerita yang ada akan terkesan terlalu dipanjangkan karena dengan durasi selama 80 menit pun intensitasnya terasa naik turun terutama ketika mulai menyorot kejadian di luar lift.

Secara keseluruhan Devil memang bukanlah termasuk tontonan horror yang mengena di benak penonton tetapi sudah cukup baik sebagai permulaan jika mengingat ini adalah proyek awal dari sebuah trilogy bertajuk The Night Chronicles dan setidaknya sedikit bisa mengangkat nama Shyamalan kembali, yang di sini ia terasa berusaha keras untuk mempersembahkan kisah rekaan terbaik spesialisnya. Go Shyamalan!!!