Kamis, 28 April 2011

Crazy Little Thing Called Love (2011/Indonesia)


Cast: Pimchanok Leuwisetpaiboon, Mario Maurer, Sudarat Butrprom, Acharanat Ariyaritwikol
Directors: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn, Wasin Pokpong
Genre: Comedy, Romance
Overall: 7/10

Dari ke-6 film yang sedang diputar di Blitzmegaplex Bandung, 3 diantaranya diisi oleh film yang berasal dari negara tetangga kita, Thailand. Memang dalam sebulan terakhir ini, film dari negara yang memiliki julukan negeri gajah putih itu terasa begitu mendominasi dan banyak diminati oleh para penikmat film belakangan ini. Hal ini mungkin didasari juga oleh belum adanya keputusan antara pemerintah dengan MPA mengenai masuknya film-film barat ke bioskop kita. Meski ada beberapa film yang hadir, namun rasanya film-film tersebut kurang begitu menarik untuk dijajal. Hal ini pulalah yang akhirnya membuat penonton kita lebih memilih film-film Thailand ini sebagai tontonan alternatif mereka.

Tidak bisa kita pungkiri juga, bahwa perfilman Thailand sekarang ini sedang mengalami masa jayanya. Tahun 2010 lalu, 2 film Thailand bergenre komedi romantis, Bangkok Traffic Love Story dan Hello Stranger menjadi salah satu film favorit karena kisahnya yang berkesan bagi saya pribadi. Kini kembali romkom Thai yang saya saksikan bulan lalu, menjadi satu-satunya film yang paling menghibur dan membekas sampai saat ini di tahun 2011. Jika Bangkok Traffic Love Story bertutur mengenai dilema cinta pasangan yang sudah berumur, sedang Hello Stranger mengisahkan cinta pasangan muda-mudi, kini giliran Crazy Little Thing Called Love yang mengangkat cerita romantika para remaja belia. Nam (Pimchanok Leuwisetpaiboon) adalah seorang siswi sekolah tingkat pertama dengan penampilan dan kepribadian yang terbilang sangatlah biasa, dimana untuk pertama kalinya ia merasakan ketertarikan kepada lawan jenisnya. Tidak tanggung-tanggung siswa yang disukainya adalah siswa paling populer disekolahnya, Shone (Mario Maurer). Dibantu para sahabatnya plus panduan buku petunjuk mengenai cinta, Nam berusaha mendapatkan perhatian sang pujaan.

Dari itik buruk rupa menjadi seekor angsa yang cantik itulah gambaran yang pas bagi karakter Nam. Dan sang pelakon, Pimchanok Leuwisetpaiboon (susah banget 'kan namanya) berhasil membawakan karakternya dengan sangat mulus dan mampu bersenyawa dengan baik bersama ketiga sahabatnya. Sementara karakter sang pangeran, dalam kisah klise seperti ini, seperti biasa perannya tidak harus menuntut kemampuan akting yang mendalam. Cukup dengan dengan tingkat ke-charming-an yang tinggi dan mampu membuat para gadis tergila-gila. Dan hal ini, Mario Maurer punya poin penting itu. Penampilan Sudarat Butrprom sebagai Guru Inn pun cukup membekas (beungeut-nya itu lho :D)

Secara keseluruhan film ini memang berada di bawah dua pendahulunya. Namun jika berbicara soal cerita, Crazy Little Thing Called Love sebenarnya akan sangat dengan mudah mengena pada setiap audiencenya. Hal ini dikarenakan, kisah yang diangkat boleh dibilang sangat mungkin bisa mengingatkan penonton pada moment-moment zaman dulu ketika mulai timbul rasa tertarik kepada seseorang atau lebih tepatnya merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya. Hal ini terbukti cukup berhasil lewat naskah buatan kedua sutradara, Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn dan Wasin Pokpong, yang mampu mengembangkan premis sederhana menjadi begitu mengena. Dan hal ini dibantu pula oleh humor-humornya. Meski tidak sekonyol Bangkok Traffic Love Story atau Hello Stranger, unsur komedi Crazy Little Thing Called Love masih tetap efektif menghasilkan tawa pada penontonnya.

Bagi saya pribadi, film ini asyik dan berhasil mengajak saya bernostalgia waktu umur masih belasan dan mulai memasuki masa beuger. Meski memang eksekusinya terasa sangat biasa, namun setidaknya suguhan beberapa fakta akan perasaan Shone terhadap Nam sangatlah menarik dan sedikitnya mengingatkan pada ending dari Bangkok Traffic Love Story. Bukan suatu karya yang terbilang istimewa memang, namun setidaknya film ini mampu memberikan kesegaran ditengah-tengah gersangnya perfilman Hollywood yang mandeg datang ke bioskop kita.

Minggu, 24 April 2011

127 Hours (2010)


Cast: James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn, Clemence Poesy
Director: Danny Boyle
Genre: Adventure, Biography, Drama
Overall: 8/10

Bagi para pecinta alam khususnya yang gemar melakukan pendakian gunung, pastinya sudah tahu persis bagaimana kisah mengenai perjuangan seorang petualangan asal Amerika Serikat bernama Aron Ralston (James Franco). Di tahun 2003, ketika dirinya melakukan sebuah penjelajahan ke satu lembah di Canyonlands National Park, ia terjebak pada sebuah celah yang sempit dikarenakan lengan kanannya terjepit oleh sebuah bongkahan batu berukuran cukup besar. Hal itu terjadi ketika ia hendak menuruni celah tersebut dan tiba-tiba saja bongkahan batu itu ikut bergerak dan sialnya tepat berhenti dan jatuh menimpa lengannya. Selama kurang lebih 5 hari dirinya terjebak, ia pun mencoba berbagai usaha guna membebaskan tangannya, juga bertahan hidup dengan perlengkapan dan bekal seadanya. Hingga akhirnya satu keputusan paling berani dan nekat pun harus ia ambil, yang mana hal tersebut akan ia kenang sepanjang hidupnya kelak, begitupun oleh orang-orang yang kagum akan kisah perjuangannya.

Kisah survival dari Aron Ralston inilah yang kemudian oleh Danny Boyle coba diangkat dan dihadirkan kehadapan para penikmat film lewat karya terbarunya bertajuk 127 Hours. Dalam ajang tahunan Academy Awards yang digelar 27 Februari 2011 lalu, film ini sukses dalam memeriahkan bursa Oscar dengan perolehan nominasi sebanyak 6 buah. Meski pada akhirnya, 127 Hours harus terpaksa menjadi pecundang pada malam perhelatan akbar itu dikarenakan dari raihan nominasi yang ada, tidak satu pun piala yang dihasilkan. Namun terlepas dari itu semua, tetap saja 127 Hours merupakan salah satu film dan karya terbaik di tahun 2010 dari seorang Boyle.

Untuk proyek terbarunya ini, Boyle kembali memboyong tiga orang yang berada dibalik kesuksesan karya terakhirnya Slumdog Millionare tahun 2008 lalu. Pertama, penulis naskah Simon Beaufoy diikut sertakan guna membantunya dalam penyusunan skrip. Kedua untuk urusan musik, Boyle mempercayakan kembali pada komposer asal India, A.R Rahman. Terakhir, untuk sinematografi ia serahkan pada Anthony Dod Mantle. Kita tahu sendiri Slumdog Millionare sukses menyabet delapan gelar terbaik diajang Oscar. Selain Best Picture dan Best Director bagi Boyle, gelar terbaik pun didapat lewat ketiga nama yang disebutkan tadi lewat kategori Best Adapted Screenplay, Best Cinematography serta Best Original Song dan Best Original Score. Jadi tidak heran jika akhirnya Boyle kembali mengajak kerjasama ketiganya dan menciptakan satu tim solid dalam mempersembahkan satu tontonan berkualitas di 2010.

Premis terjebaknya seseorang di satu tempat sempit dan terisolir, mengingatkan kita pada satu film yang juga dirilis di tahun yang sama milik sineas asal Spanyol, Rodrigo Cortes, Buried. Dengan pola yang seperti itu 127 Hours sebenarnya memiliki potensi membosankan. Namun berkat naskah cerdas buatan Boyle dan Beaufoy, 127 Hours berhasil keluar dari kemungkinan akan monotonnya cerita. Jika Buried dirasa terlalu menyesakan oleh sebagian penonton karena sangat minimnya setting dan karakter, justru 127 Hours mampu menjaga intensitas penonton berkat kecerdikan Boyle dan Beaufoy yang mampu mengembangkan premis setting yang sempit, menjadi sebuah kisah emosional dan menegangkan, dengan dimasukannya beberapa karakter serta tampilan visual yang mampu memanjakan mata, tanpa harus meninggalakan kesan terisolir dan depresi yang dialami sang tokoh utama.

A.R Rahman pun sukses dalam memberikan sumbangsih musiknya yang unik dalam menghidupkan suasana atau keadaan seseorang yang terjepit. Sinematografi-nya pun terbilang jempolan dengan menampilkan beberapa angle-angle yang menarik. Tidak ketinggalan, James Franco pun ikut andil dalam mensukseskan film ini berkat penampilan ciamiknya. Setiap ekspresi yang ia tampilkan berhasil membawa penonton ikut hanyut dan merasakan tiap emosinya Aron Ralston. Miris rasanya melihat kondisi Ralston dari hari ke hari terlebih ketika dirinya mulai sulit membedakan antara yang nyata dan halusinasi belaka. Dan hal ini membuktikan bahwa Franco sukses melakukan tugas peran utama perdananya dan berhasil membuktikan bahwa kelak ia pun layak diberi porsi utama dalam sebuah film dan rasanya cukup bagi Franco untuk terus berkutat di ruang aktor pendukung saja.

127 Hours adalah sebuah film yang berangkat dari kisah nyata yang luar biasa. Sebuah kisah survival yang memberikan inspirasi dan motivasi. Tentu saja bagi para petualang film ini banyak sekali mengandung pesan atau semacam pembelajaran tentang apa yang mesti dipersiapkan jika ingin melakukan penjelajahan. Film ini pun mengajarkan kepada kita agar jangan menyia-nyiakan waktu dan kesempatan dengan orang terdekat kita serta perbanyaklah bersyukur.

Rabu, 30 Maret 2011

Lake Mungo (2010/After Dark Horrorfest)


Cast: Talia Zucker, Martin Sharpe, Rosie Traynor, David Pledger, Steve Jodrell
Director: Joel Anderson
Genre: Drama, Horror, Mystery
Overall: 8/10

Genre horror sepertinya kini mulai menemukan formula terbaru untuk menakuti para penontonnya. Jika hantu seram yang eksis serta doyan kejar-kejaran dirasa sudah tidak ampuh lagi, gaya mockumentary disertai found footage, rasa-rasanya akan cukup efektif dalam menciptakan suatu atmoser mencekam bagi para audiencenya. The Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2010/Indonesia) adalah dua dari beberapa film yang boleh dibilang sudah berhasil dalam menerapkan teknik semacam itu. Hal ini pulalah yang mungkin mendasari film produksi buatan Australia, yang akhir Januari lalu ikut memeriahkan Dark Horrorfest, Lake Mungo.

Kisah diawali dari laporan keluarga Palmer, yang menyatakan bahwa putrinya Alice Palmer (Talia Zucker), menghilang ketika sedang berenang di sebuah danau bersama adiknya. Pencarian yang alot membuat keluarga Palmer sedikit putus asa, namun selang beberapa hari akhirnya jasad Alice berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Cerita tidak berhenti sampai di sini. Kisah utama dimulai ketika keluarga Palmer mulai merasakan berbagai kejadian aneh paska dilakukannya proses pemakaman. Dan hal ini membawa mereka kepada Ray Kemeny (Steve Jodrell), yang dipercaya mampu menerangkan mengenai hal-hal ganjil yang terjadi di rumah itu. Dari sinilah akan terungkap satu persatu misteri dibelakang kematian Alice.

Mengejutkan, itulah kesan terakhir kita terhadap film ini. Dan cukup mengejutkan pula, jika kita menyimak dari poster yang ada serta dari trailer promosi After Dark Horrorfest, Lake Mungo nyatanya sama sekali jauh dari kesan gory. Hal ini juga yang mungkin menjadi alasan mengapa Lake Mungo begitu sedikit tampil di trailer promosi festival tersebut. Karena dari trailer filmnya sendiri pun, kurang begitu menarik.

Jika anda menggemari acara televisi semisal tayangan dokumenter khususnya yang mengangkat tema misteri mengenai keberadaan penghuni dunia lain yang acap kali selalu tertangkap keberadaannya oleh beberapa alat dokumentasi seperti kamera atau videotape, dipastikan anda akan langsung menyukai film berbudget minim asal benua kangguru ini. Lewat beberapa footage yang diselipkan, film arahan Joel Anderson ini berhasil menciptakan suatu kengerian yang berhasil membuat bulu kuduk kita merinding. Namun film horror indie ini pun sebenarnya tidak lepas dari faktor membosankan jika mengingat gaya dokumenter televisi yang diterapkannya. Di beberapa bagian, khususnya ketika dihadirkan scene wawancara, intensitas penonton sedikitnya akan mengalami penurunan. Namun Joel Anderson yang memang sekaligus merangkap tugas sebagai penulis naskah film ini, dengan cerdas membayar rasa boring tersebut dengan beberapa twist yang jempolan.

Jika anda menganggap Paranormal Activity adalah satu sajian horror berbeda dan berhasil membuat anda ketakutan, coba pikirkan kembali. Dibandingkan dengan Paranormal Activity, footage dari Lake Mungo terasa lebih real dan jauh lebih menyeramkan, hingga akhirnya menjadikan footage palsu dari Paranormal Activity semakin terlihat biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Hal ini pula yang membuat lake Mungo bisa disejajarkan bersama film-film horror yang memiliki level kualitas jauh diatas, khususnya jika disandingkan dengan bebrapa film horror yang dibuat belakangan ini.

Selasa, 22 Maret 2011

Easy A (2010)


Cast: Emma Stone, Amanda Bynes, Alyson Michalka, Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Thomas Haden Church
Director: Will Gluck
Genre: Comedy, Romance
Overall: 7/10

Bagi gadis remaja di Indonesia, memiliki modal fisik, kecerdasan dan tampil modis layaknya Olive Penderghast (Emma Stone) tentunya sudah lebih dari cukup untuk menjadi sosok terpopuler di sekolah. Namun kenyataannya, peraturan di Amerika tidaklah seperti itu. Apa yang dimiliki Olive saat ini belumlah cukup dan ia bukanlah siapa-siapa. Hingga akhirnya kehidupan sosialnya pun berubah seketika, akibat satu kebohongan yang ia buat dan diceritakan pada sahabatnya Rhiannon (Alyson Michalka), mengenai hilangnya keperawanan dengan salah satu pemuda yang diakuinya pemuda kuliahan dan tidak sengaja dicuri dengar oleh seorang siswi super religius Marianne (Amanda Bynes) yang menyebarkannya ke seluruh sekolah. Seketika pamor Olive berubah drastis. Bukannya merasa perlu diluruskan, Olive malah memamfaatkan situasi ini untuk mengubah keadaan dirinya yang awalnya bukanlah siapa-siapa menjadi sosok yang wajib dikenal. Dan tanpa disadari olehnya, ajang main-mainnya ini akan membawanya pada masalah besar kelak.

Bagi calon penonton yang berniat menonton film ini, dengan hanya berbekal premis yang ada pastinya akan menilai bahwa Easy A hanyalah sebuah film remaja pada umumnya yang tidak menawarkan sesuatu yang baru dan segar. Namun anggapan tersebut akhirnya akan terbantahkan ketika kita usai menikmatinya dan pasti akan setuju dengan penilainan bahwa Easy A bisa adalah satu tontonan yang istimewa di kelasnya. Anda masih ingat dengan teen comedy Mean Girls yang dibintangi aktris Lindsay Lohan? Apa pendapat anda mengenai film keluaran tahun 2004 itu? Bukan hanya film remaja biasa bukan? Asyik, lucu dan ada sesuatu pembelajaran yang bisa diambil. Kangen rasanya akan tontonan semacam itu, yang tidak hanya mengumbar kemolekan tubuh sang aktris pendukung atau banyaknya sex scene yang dijejalkan. Jika anda merindukan taste semisal tontonan ala Mean Girls itu, di Easy A lah anda bisa mendapatkannya.

Di balik premisnya yang super sederhana, sebenarnya Easy A menawarkan sesuatu yang jauh lebih enak dinikmati, bukannya hal-hal klise yang biasa kita dapat dalam teen comedy yang sudah-sudah. Beruntung bagi Will Gluck yang bisa angkat nama setelah karya jebloknya Fired Up! tempo hari yang menuai hujatan dimana-mana. Hal ini tidak terlepas dari naskah buatan Bert V. Royal. Humor-humor yang tersaji terbilang cukup fresh ditambah dialog-dialog menggelitik yang semakin menambah kelucuan film ini.

Satu hal paling utama yang mengatrol film ini menjadi suatu tontonan istimewa, sebenarnya terletak pada permainan apik bintang utamanya Emma Stone. Bukan hanya bagi Gluck saja, Easy A pun bisa dibilang adalah satu langkah jitu bagi aktris berusia 23 tahun ini, untuk bisa tampil semaksimal mungkin agar pintu karier di masa depan makin terbuka lebar. Di sini ia mampu menjalankan dengan baik tugas peran utama perdananya. Tidak heran dari perannya ini akhirnya membuahkan hasil yang manis baginya, dimana ia berhasil masuk dijajaran aktris terbaik komedi dalam ajang Golden Globe kemarin. Meski begitu, perannya di sini sebenarnya terlihat cukup absurd. Dimana timbul satu pertanyaan apakah ada seorang gadis rela mengorbankan nama baiknya demi kepentingan orang lain? Namun hal ini untungnya tertutupi oleh naskah yang apik sehingga bukanlah benci yang kita layangkan atas tindak tanduk Olive, melainkan rasa simpatilah yang akhirnya kita sumbangkan atas perbuatannya.

Meski masih di bawah Mean Girls, Easy A jelas hadir sebagai sebuah teen comedy yang levelnya jauh berada di atas meninggalkan film-film komedi remaja belakangan ini yang dibuat. Lewat semua aspek yang terbangun sepanjang film adalah bukti bahwa Easy A bukanlah film komedi remaja yang dibuat asal-asalan. Sayang dan heran rasanya juri Golden Globe tidak melirik film ini, guna memeriahkan bursa nominasi Film Terbaik Komedi/Musikal.

Senin, 21 Maret 2011

Biutiful (2010)


Cast: Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Eduard Fernández
Director: Alejandro González Iñárritu
Genre: Drama
Overall: 7/10

Alejandro González Iñárritu bisa dibilang merupakan satu sineas spesialis penyaji drama dengan kisah yang diangkat biasanya selalu terasa pahit dan dramatis. Tengok saja dua karya miliknya, 21 Grams dan Babel. Dari cerita yang ada, dimana setiap karakter yang diceritakan hampir selalu mengalami nasib yang kurang baik jika tidak ingin dibilang sial. Dan dari keputusan eksekusinya pun, Inarritu sepertinya pelit dalam memberikan porsi lebih kebahagiaan bagi masing-masing tokohnya sendiri. Format kisah seperti itulah yang kembali diangkat oleh Inarritu lewat karya terbarunya Biutiful.

Biutiful menyajikan kisah perjuangan pahit getir seorang pria bernama Uxbal (Javier Bardem). Dilatar belakangi oleh faktor ekonomi, akhirnya memaksa Uxbal menggeluti pekerjaan yang bertentangan dengan hukum. Dirinya menjadi penyalur tenaga kerja para imigran gelap Cina untuk dijadikan buruh dengan gaji super rendah, juga membantu para imigran gelap asal Senegal untuk mengedarkan semacam produk-produk bajakan. Hal tersebut terpaksa ia lakukan, dikarenakan hanya dari sanalah sumber satu-satunya untuk memperoleh penghasilan guna menghidupi kedua anaknya. Selain itu, Uxbal pun dihadapkan pada permasalahan bersama istrinya yang sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Dan bebannya semakin bertambah berat ketika dirinya dinyatakan mengidap kanker dan divonis hidupnya tidak akan berlangsung lama. Pahit memang bagi Uxbal, menanggung beban keluarga, melawan penyakit yang diderita dan mempersiapkan masa depan bagi kedua anaknya.

Bagi penikmat film yang sudah terbiasa dan menikmati gaya penuturan yang dipakai Inarritu dalam film-filmnya, sedikitnya mungkin akan merasa kecewa. Hal ini dikarenakan alur yang dipakai Biutiful berjalan dengan semestinya. Tidak seperti film-film Inarritu sebelumnya yang disajikan secara acak/non-linear. Meski di awalnya kita disiguhi oleh opening yang memang membingungkan. Potensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan pun sangat besar adanya. Dengan hanya satu plot mengenai kisah perjuangan seorang ayah ditambah dengan durasi yang memang terlalu panjang sekitar 148 menit, Biutiful pastinya membutuhkan satu paket kesabaran lebih besar.

Nuansa suram, sesak dan sepi begitu terasa sepanjang durasi lewat tampilan setiap sudut kota dengan tambahan ilustrasi musik yang membuat film ini makin terasa hening. Itu pulalah yang ditampilkan lewat permainan apik Javier Bardem. Karakter rapuh dari Uxbal akibat segala permasalahan yang datang satu persatu pada dirinya, dengan mulus berhasil ia hadirkan. Ekspresi wajahnya khususnya jika kita tilik dari sorot matanya benar-benar menggambarkan bahwa dirinya sedang dilanda kesepian dan kesedihan begitu dalam. Boleh dibilang Bardem lah satu-satunya penolong film ini untuk keluar dari kemonotonan jalannya cerita yang sedikitnya terasa terlalu berlebihan plus sisipan beberapa kisah tidak penting. Entah apa jadinya film ini jika bukan Bardem yang bermain. Susah rasanya membayangkan aktor Spanyol lain yang mengisi peran Uxbal selain pasangan Penelope Cruz ini, Antonio Banderas misalnya.

Secara keseluruhan, Biutiful memang sebuah tontonan yang benar-benar menyentuh lewat sajian melodramatisnya. Namun, secara subjektif dan jujur apa yang saya rasa, Biutiful tidaklah terlalu berkesan bagi saya pribadi. Hanya permainan jempolan Bardem lah yang membuat saya salut. Karena memang film ini lebih menonjol dalam hal penggalian karakter. Hingga cukup beralasan ketika akhirnya juri-juri Oscar mamasukan nama Bardem dalam jajaran nominator aktor terbaik Academy Awards tahun 2011. Dengan kembali menilai secara subjektif, rasa-rasanya perjuangan ayah penderita kanker ini lebih layak diganjar patung Oscar ketimbang sosok seorang raja yang gagap. Selain itu semuanya terasa tidak ada yang istimewa. Meski begitu tidak bisa dibilang biasa juga, bagus namun tidak istimewa.

Kamis, 03 Maret 2011

THE 83RD ANNUAL ACADEMY AWARDS


Terlepas dari beberapa kontroversi yang dibuat juri-juri Oscar atas pilihan mereka mengenai apa dan siapa saja yang didapuk sebagai yang terbaik, Academy Awards tetap dan akan selalu dijadikan sebagai tolak ukur sukses atau tidaknya bagi siapa pun yang bergerak di dunia perfilman. Ajang bergengsi tahunan ini sendiri, telah memasuki tahunnya yang ke-83 dan untuk acaranya sendiri telah usai digelar tanggal 27 Februari waktu LA, yang bertempat di Kodak Theatre. Ada yang berbeda pada perhelatan malam itu, dengan host utama Anne Hathaway dan James Franco sepertinya Oscar kali ini disinyalir ingin menjaring penonton muda lebih banyak. Dan hal itu terlihat dari salah satu format acara semacam parodi beberapa film yang mengingatkan kita pada MTV Movie Awards. Namun demikian menurut badan rating yang ada, acara Oscar malam itu mengalami penurunan rating sebesar 10% dari tahun lalu.

Seolah ingin memberi kejutan seperti yang dilakukan dalam penyelenggaraannya tahun lalu, Academy Awards tahun ini kembali memberikan hasil pilihan terbaik yang berbeda dengan apa yang dipilih oleh ajang Golden Globe, lewat dua kategori utamanya. Dan sebenarnya, keputusan yang diambil juri Academy Awards ini, patut kita berikan pujian atas pilihan mereka mengenai film apa yang dianggap layak memenangkan piala ketimbang film yang lebih banyak dijagokan atau lebih populer.

The Social Network yang sebelumnya didapuk sebagai film terbaik dalam ajang Golden Globe, malam itu gagal meraih gelar Best Picture dalam Oscar tahun ini. Hal yang sama pun dialami sang sineas pembesutnya, David Fincher. Fincher terpaksa harus gigit jari, ketika ternyata bukan dirinyalah yang disebut, melainkan nama Tom Hooper yang keluar sebagai pemenang Best Director. Hooper sukses melangkahi Fincher yang sebelumnya banyak diunggulkan, lewat arahannya dalam film yang mengisahkan seorang raja gagap, The King's Speech. Film kebanggaan Inggris itu pun berhasil meraih gelar Best Picture. Dari ke-12 nominasi yang dikantongi, The King's Speech hanya mampu meraih 4 piala saja. Selain dua yang disebut diatas, film yang dimeriahkan barisan aktor jebolan franchise Harry Potter tersebut, unggul di kategori Leading Actor yang memang sudah dipastikan akan dengan mudah diraih Colin Firth. Dan satu lagi bagi David Seidler di kategori Original Screenplay, yang secara mengejutkan berhasil meyingkirkan Christopher Nolan lewat Inception.

Boleh dibilang malam itu adalah malam penebusan kekecewaan bagi Inception. Seperti kita tahu sendiri, di ajang Golden Globe kemarin, film ini tidak berhasil membawa satu penghargaan pun. Dan di Oscar kali ini, Inception berhasil mengumpulkan 4 piala dari 8 nominasi yang didapatnya. Masing-masing diperoleh lewat beberapa teknis yang memang mumpuni, seperti Cinematography, Sound Editing, Sound Mixing dan Visual Effects. Sementara itu, The Social Network yang memang lebih banyak dijagokan, harus puas hanya dengan memperoleh 3 piala saja, diantaranya dari kategori Adapted Screenplay, Original Score dan Film Editing. Diikuti Toy Story 3 dan The Fighter yang sama-sama mengantongi 2 piala, kemudian Black Swan yang hanya kebagian jatah 1 buah patung Oscar lewat Natalie Portman yang menyelamatkan film ini ketika nyaris menjadi pecundang malam itu.

and the Oscar goes to...

Best Motion Picture of the Year

127 Hours
Black Swan
The Fighter
Inception
The Kids Are All Right
*The King's Speech*
The Social Network
Toy Story 3
True Grit
Winter's Bone

Best Performance by an Actor in a Leading Role

Javier Bardem (Biutiful)
Jeff Bridges (True Grit)
Jesse Eisenberg (The Social Network)
*Colin Firth (The King's Speech)*
James Franco (127 Hours)

Best Performance by an Actress in a Leading Role

Annette Bening (The Kids Are All Right)
Nicole Kidman (Rabbit Hole)
Jennifer Lawrence (Winter's Bone)
*Natalie Portman (Black Swan)*
Michelle Williams (Blue Valentine)

Best Performance by an Actor in a Supporting Role

*Christian Bale (The Fighter)*
John Hawkes (Winter's Bone)
Jeremy Renner (The Town)
Mark Ruffalo (The Kids Are All Right)
Geoffrey Rush (The King's Speech)

Best Performance by an Actress in a Supporting Role

Amy Adams (The Fighter)
Helena Bonham Carter (The King's Speech)
*Melissa Leo (The Fighter)*
Hailee Steinfeld (True Grit)
Jacki Weaver (Animal Kingdom)

Best Achievement in Directing

Black Swan: Darren Aronofsky
True Grit: Ethan Coen, Joel Coen
The Social Network: David Fincher
*The King's Speech: Tom Hooper*
The Fighter: David O. Russell

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

Another Year: Mike Leigh
The Fighter: Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson, Keith Dorrington
Inception: Christopher Nolan
The Kids Are All Right: Lisa Cholodenko, Stuart Blumberg
*The King's Speech: David Seidler
*

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published

127 Hours: Danny Boyle, Simon Beaufoy
*The Social Network: Aaron Sorkin*
Toy Story 3: Michael Arndt, John Lasseter, Andrew Stanton, Lee Unkrich
True Grit: Joel Coen, Ethan Coen
Winter's Bone: Debra Granik, Anne Rosellini

Best Achievement in Cinematography

Black Swan: Matthew Libatique
*Inception: Wally Pfister*
The King's Speech: Danny Cohen
The Social Network: Jeff Cronenweth
True Grit: Roger Deakins

Best Achievement in Art Direction

*Alice in Wonderland: Robert Stromberg, Karen O'Hara*
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Stuart Craig, Stephenie McMillan
Inception: Guy Hendrix Dyas, Larry Dias, Douglas A. Mowat
The King's Speech: Eve Stewart, Judy Farr
True Grit: Jess Gonchor, Nancy Haigh

Best Achievement in Costume Design

*Alice in Wonderland: Colleen Atwood*
I Am Love: Antonella Cannarozzi
The King's Speech: Jenny Beavan
The Tempest: Sandy Powell
True Grit: Mary Zophres

Best Achievement in Sound Mixing

*Inception: Lora Hirschberg, Gary Rizzo, Ed Novick*
The King's Speech: Paul Hamblin, Martin Jensen, John Midgley
Salt: Jeffrey J. Haboush, William Sarokin, Scott Millan, Greg P. Russell
The Social Network: Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick, Mark Weingarten
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff, Peter F. Kurland

Best Achievement in Editing

127 Hours: Jon Harris
Black Swan: Andrew Weisblum
The Fighter: Pamela Martin
The King's Speech: Tariq Anwar
*The Social Network: Kirk Baxter, Angus Wall*

Best Achievement in Sound Editing

*Inception: Richard King*
Toy Story 3: Tom Myers, Michael Silvers
TRON: Legacy: Gwendolyn Yates Whittle, Addison Teague
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey
Unstoppable: Mark P. Stoeckinger

Best Achievement in Visual Effects

Alice in Wonderland: Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas, Sean Phillips
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Tim Burke, John Richardson, Christian Manz, Nicolas Aithadi
Hereafter: Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky, Joe Farrell
*Inception: Chris Corbould, Andrew Lockley, Pete Bebb, Paul J. Franklin*
Iron Man 2: Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright, Daniel Sudick

Best Achievement in Makeup

Barney's Version: Adrien Morot
The Way Back: Edouard F. Henriques, Greg Funk, Yolanda Toussieng
*The Wolfman: Rick Baker, Dave Elsey
*

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

127 Hours: A.R. Rahman, Rollo Armstrong, Dido
- "If I Rise"
Country Strong: Tom Douglas, Hillary Lindsey, Troy Verges
- "Coming Home"
Tangled: Alan Menken, Glenn Slater
- "I See the Light"
Toy Story 3: Randy Newman
- "We Belong Together"


Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score

127 Hours: A.R. Rahman
How to Train Your Dragon: John Powell
Inception: Hans Zimmer
The King's Speech: Alexandre Desplat
*The Social Network: Trent Reznor, Atticus Ross
*
Best Short Film, Animated
Day & Night: Teddy Newton
The Gruffalo: Jakob Schuh, Max Lang
Let's Pollute: Geefwee Boedoe
*The Lost Thing: Shaun Tan, Andrew Ruhemann*
Madagascar, a Journey Diary: Bastien Dubois

Best Short Film, Live Action

The Confession: Tanel Toom
The Crush: Michael Creagh
*God of Love: Luke Matheny*
Na Wewe: Ivan Goldschmidt
Wish 143: Ian Barnes, Samantha Waite

Best Documentary, Short Subjects

Killing in the Name: Nominees TBD
Poster Girl: Nominees TBD
*Strangers No More: Karen Goodman, Kirk Simon*
Sun Come Up: Jennifer Redfearn, Tim Metzger
The Warriors of Qiugang: Ruby Yang, Thomas Lennon

Best Documentary, Features

Exit Through the Gift Shop: Banksy, Jaimie D'Cruz
GasLand: Josh Fox, Trish Adlesic
*Inside Job: Charles Ferguson, Audrey Marrs*
Restrepo: Tim Hetherington, Sebastian Junger
Waste Land: Lucy Walker, Angus Aynsley

Best Foreign Language Film of the Year

Biutiful: Alejandro González Iñárritu
- Mexico
Dogtooth: Giorgos Lanthimos
- Greece
*In a Better World: Sussane Bier
- Denmark
*
Incendies: Denis Villeneuve
- Canada
Outside the Law: Rachid Bouchareb
- Algeria

Best Animated Feature Film of the Year

How to Train Your Dragon: Dean DeBlois, Chris Sanders
The Illusionist: Sylvain Chomet
*Toy Story 3: Lee Unkrich
*

Sabtu, 26 Februari 2011

Let Me In (2010)


Cast: Kodi Smit-McPhee, Chloe Moretz, Elias Koteas, Richard Jenkins
Director: Matt Reeves
Genre: Horror, Drama
Overall: 7/10

Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah anak laki-laki yang acap kali sering menjadi bulan-bulanan keisengan anak jahat disekolahnya, ketika pulang ke rumahnya pun ia tidak bisa menemukan kenyamanan bagi dirinya. Hanya halaman depan rumahnya lah yang sering kali ia gunakan untuk menghabiskan waktu ketika waktu malam datang. Hingga suatu hari, ia kedatangan tetangga baru, seorang lelaki tua beserta gadis kecil sebayanya bernama Abby (Chloe Moretz). Merasa cocok, akhirnya keduanya pun sering kali menghabiskan waktu bersama hingga menimbulkan ketertarikan satu sama lain. Dari kebersamaan itu terungkaplah tentang siapa jati diri Abby sebenarnya.

Bagi yang hanya sekedar tahu bahwa Let Me In adalah satu film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan inti kisahnya mengenai hubungan seorang manusia dengan vampir, mungkin akan beranggapan bahwa film ini hanyalah sekedar ingin mengekor kesuksesan yang telah dicapai oleh satu film, yang juga menuturkan kisah percintaan dua individu beda dunia, Twilight Saga. Dan memang film yang menghadirkan sesosok vampir charming juga manusia serigala berperut super keren itu kini telah menjadi sebuah fenomena luar biasa di kalangan remaja. Namun, Let Me In jelas hadir dengan paket yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang disuguhkan lewat franchise unggulan milik Summit Entertainment tersebut. Let Me In mampu hadir sebagai tontonan horror yang menempati level baik dari segala film horror yang akhir-akhir ini dibuat, lewat segala aspek pendukungnya.

Salah satu keunggulan film ini terletak pada penjabaran kisah ikatan kedua tokoh utama Abby dan Owen. Interaksi antar keduanya menghasilkan senyawa yang baik. Dan hal ini tidak terlepas dari hasil kedua pemeran utamanya, Kodi Smit-McPhee dan Chloe Moretz, yang dengan mulus mampu menampilkan setiap emosi dari masing-masing karakter yang dilakoni. Keduanya saling mengisi satu sama lain, karena dari background kehidupan keduanya pun sama-sama jauh dari yang namanya interaksi sosial dengan orang-orang sekitar. Di samping itu, film ini pun tidak lantas menanggalkan satu aspek penting yang dibutuhkan oleh sebuah film horror, dimana Let Me In masih menyajikan beberapa scene sadis dengan tidak lupa menyertakan puncratan darah, namun masih dalam tingkatan yang normal.

Låt den rätte komma in, itulah judul novel yang diadaptasi oleh film ini. Dimana sebelum Let Me In, novel karya John Ajvide Lindqvist ini sendiri, pernah juga diangkat ke layar lebar oleh sineas asal Swedia, Tomas Alfredson, dengan judul yang sama atau secara internasionalnya Let the Right One In di tahun 2008. Hasil adapatasinya ini merupakan sebuah karya yang bermutu dengan bukti mampu ikut serta di berbagai ajang festival bergengsi dunia. Dan hal ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi Matt Reeves selaku sutradara Let Me In. Meski berdalih apa yang dikerjakannya bukanlah suatu remake, melainkan sebuah adaptasi pada satu media buku, tetap saja para penikmat film akan masih menganggap Let Me In adalah sebuah pembaharuan Let the Right One In dan mau 'tak mau pastinya akan dibandingkan dengan film pendahulunya yang sama-sama bermula pada satu sumber. Apalagi jika kita mengingat hasil dari daur ulang beberapa film yang telah dicap bagus untuk dipoles ala Hollywood seenak hatinya, menjadikan rencana akan dibuatnya versi baru Låt den rätte komma in ini, mendapat banyak cibiran dimana-mana. Dan pada kenyataannya pun kesederhanaan dengan paket berkualitas yang terbangun lewat Let the Right One In, tidak mampu disamai oleh Let Me In. Meski film ini sendiri masih menggunakan jasa penulis naskah yang sama dari film pendahulunya, John Ajvide Lindqvist. Mungkin nilai lebih yang dimiliki Let Me In adalah kemasannya yang sedikit komersil atau tampil dengan khasnya film-film Hollywood hingga setidaknya mampu diterima oleh penonton awam. Namun, hal ini sayangnya menjadikan Let Me In tampil hanya sekedar film horror biasa yang 'tak istimewa.

Let Me In sebenarnya berpotensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan jika mengingat alur yang cenderung lambat dalam menyampaikan jalinan cerita. Belum lagi ditambah oleh visualisasi atmosphere musim dingin yang tampak begitu sunyi. Dan hal ini akan begitu terasa oleh penonton yang sebelumnya pernah menikmati Let the Right One In. Karena apa yang dihadirkan oleh Let Me In pun, hampir 90% sama dengan apa yang disajikan film pendahulunya, sehingga tiap scene demi scene tidak memberikan kejutan yang berarti. Terlepas dari itu semua, dengan tanpa membandingkan film adaptasi sebelumnya, sebenarnya Let Me In adalah satu tontonan horror berbeda jika mengingat bagaimana hasil film-film horror Hollywood belakangan ini. Sebuah adaptasi yang mulus. Dan jika akhirnya banyak orang beranggapan bahwa ini adalah salah satu film remake, Let Me In jelas jauh dari kesan Hollywood yang sering kali mengobrak-abrik keorisinilan film pendahulunya. Good job Reeves!!!