Sabtu, 24 Juli 2010

Agora (2009)


Cast: Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac, Rupert Evans
Director: Alejandro Amenabar
Writers: Alejandro Amenabar, Mateo Gil
Genre: Drama, History, Romance
Rate: 5/10

Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk menonton film terbaru dari Alejandro Amenabar yang bertajuk Agora. Pertama, terpampangnya sosok Rachel Weisz dengan begitu cantik pada poster lalu cerita yang akan disajikan (katanya) mengenai seorang wanita ahli matematika, astronomi sekaligus filosofi bernama Hypatia. Nama Hypatia sendiri memang tidak begitu sering terdengar atau bahkan tidak disinggung sedikitpun dalam sejarah peradaban dunia. Padahal jasanya terhadap ilmu pengetahuan tidaklah kecil.

Dikisahkan Hypatia (Weisz) merupakan sosok wanita yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan didaerah tempat tinggalnya yang bernama Agora yang terletak didaerah Alexandria bagian utara Mesir. Keahliannya dalam bidang matematika, filosofi khususnya astronomi ia ajarkan kepada murid-muridnya. Banyak hal yang ia yakini termasuk menegaskan bahwa bentuk bumi itu bulat dan termasuk salah satu planet yang mengelilingi matahari yang menjadi pusat tata surya. Namun sayangnya apa yang ia yakini ditanggapi oleh kaum Kristen sebagai keyakinan penganut agama dewa atau paganisme dan hal itu tentu saja membuat kaum Kristen berang dan berniat memusnahkan bukan hanya Hypatia tetapi seluruh rakyat Agora.

Sebenarnya kisah mengenai sosok Hypatia merupakan premis yang menjanjikan guna menarik penonton atau bahkan masyarakat umum yang memang begitu tertarik akan sejarah seorang wanita yang disebut-sebut sebagai wanita pertama yang memberi kontribusi besar pada pengembangan matematika. Namun pada kenyataannya cerita mengenai Hypatia sangatlah minim dihadirkan dan sayangnya Amenabar selaku sutradara terlalu fokus pada pertikaian antar agama yang digambarkan begitu kacau dan ternyata hasilnya tidak begitu enak untuk diikuti. Jika anda pernah menonton satu tayangan sejarah mengenai perkembangan suatu agama seperti itulah adanya Agora tetapi apa yang dihadirkannya tidak lebih baik mengingat ini adalah sebuah film bukan suatu tayangan konsumsi televisi. Sehingga cerita inti sebenarnya yang berhubungan dengan Hypatia seperti beberapa pemikiran baru akan ilmu pengetahuan seakan mengganggu jalannya cerita. Mungkin hanya kisah cinta besama Davus-lah (budak Hypatia) yang sedikit penasaran tapi sayangnya hal itu juga tidak terarahkan dengan baik.

Melihat alur kisah seperti itu tentunya penonton dibuat kebingungan sendiri begitu usai menonton film ini. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ingin disampaikan Amenabar lewat karya terbarunya ini. Amenabar pun selaku sutradara sekaligus penulis naskah bersama Mateo Gil terlihat seperti tidak tahu pasti hendak dibawa kemana arah dan tujuan jalan cerita yang bersetting-kan zaman Mesir kuno ini. Eksekusi yang dihadirkan pun terasa sangat kurang memuaskan. Mungkin nilai plusnya adalah setting juga kostum yang dihadirkan pas dalam menggambarkan zaman yang dimaksud. Visualisasi daerah Agora terlihat detail digambarkan terlihat dari beberapa bangunan yang berdiri cukup megah.

Begitu minimnya porsi sosok Hypatyia untuk diceritakan menjadikan begitu sia-sia pula kehadiran Rachel Weisz disini walau tidak bisa dibilang mengecewakan juga (termasuk penampilan 'polos'nya ^^). Sehingga rasanya tidak perlu memasang aktris dengan akting berkualitas Oscar karena memang pada akhirnya perform sang aktris mudah begitu saja dilupakan saking tidak begitu istimewanya karakter yang diperankan. Sayang begi Weisz yang lagi-lagi film yang dibintanginya tidak mampu mengangkat namanya setelah The Brothers Bloom dan The Lovely Bones kurang begitu baik dalam peredarannya.

Sebagai sebuah tontonan yang berdasar pada sejarah Agora boleh dibilang berhasil dalam menyajikan visual yang megah namun sayangnya Amenabar seakan lupa akan fokus inti sang karakter utama yang seharusnya lebih banyak digali olehnya. Sehingga akhirnya penontonpun merasa tidak begitu penting terhadap sosok Hypatia yang sebenarnya memberikan pengaruh yang besar terhadap ilmu pengetahuan pada zaman peradaban manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar