Senin, 21 Maret 2011

Biutiful (2010)


Cast: Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Eduard Fernández
Director: Alejandro González Iñárritu
Genre: Drama
Overall: 7/10

Alejandro González Iñárritu bisa dibilang merupakan satu sineas spesialis penyaji drama dengan kisah yang diangkat biasanya selalu terasa pahit dan dramatis. Tengok saja dua karya miliknya, 21 Grams dan Babel. Dari cerita yang ada, dimana setiap karakter yang diceritakan hampir selalu mengalami nasib yang kurang baik jika tidak ingin dibilang sial. Dan dari keputusan eksekusinya pun, Inarritu sepertinya pelit dalam memberikan porsi lebih kebahagiaan bagi masing-masing tokohnya sendiri. Format kisah seperti itulah yang kembali diangkat oleh Inarritu lewat karya terbarunya Biutiful.

Biutiful menyajikan kisah perjuangan pahit getir seorang pria bernama Uxbal (Javier Bardem). Dilatar belakangi oleh faktor ekonomi, akhirnya memaksa Uxbal menggeluti pekerjaan yang bertentangan dengan hukum. Dirinya menjadi penyalur tenaga kerja para imigran gelap Cina untuk dijadikan buruh dengan gaji super rendah, juga membantu para imigran gelap asal Senegal untuk mengedarkan semacam produk-produk bajakan. Hal tersebut terpaksa ia lakukan, dikarenakan hanya dari sanalah sumber satu-satunya untuk memperoleh penghasilan guna menghidupi kedua anaknya. Selain itu, Uxbal pun dihadapkan pada permasalahan bersama istrinya yang sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Dan bebannya semakin bertambah berat ketika dirinya dinyatakan mengidap kanker dan divonis hidupnya tidak akan berlangsung lama. Pahit memang bagi Uxbal, menanggung beban keluarga, melawan penyakit yang diderita dan mempersiapkan masa depan bagi kedua anaknya.

Bagi penikmat film yang sudah terbiasa dan menikmati gaya penuturan yang dipakai Inarritu dalam film-filmnya, sedikitnya mungkin akan merasa kecewa. Hal ini dikarenakan alur yang dipakai Biutiful berjalan dengan semestinya. Tidak seperti film-film Inarritu sebelumnya yang disajikan secara acak/non-linear. Meski di awalnya kita disiguhi oleh opening yang memang membingungkan. Potensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan pun sangat besar adanya. Dengan hanya satu plot mengenai kisah perjuangan seorang ayah ditambah dengan durasi yang memang terlalu panjang sekitar 148 menit, Biutiful pastinya membutuhkan satu paket kesabaran lebih besar.

Nuansa suram, sesak dan sepi begitu terasa sepanjang durasi lewat tampilan setiap sudut kota dengan tambahan ilustrasi musik yang membuat film ini makin terasa hening. Itu pulalah yang ditampilkan lewat permainan apik Javier Bardem. Karakter rapuh dari Uxbal akibat segala permasalahan yang datang satu persatu pada dirinya, dengan mulus berhasil ia hadirkan. Ekspresi wajahnya khususnya jika kita tilik dari sorot matanya benar-benar menggambarkan bahwa dirinya sedang dilanda kesepian dan kesedihan begitu dalam. Boleh dibilang Bardem lah satu-satunya penolong film ini untuk keluar dari kemonotonan jalannya cerita yang sedikitnya terasa terlalu berlebihan plus sisipan beberapa kisah tidak penting. Entah apa jadinya film ini jika bukan Bardem yang bermain. Susah rasanya membayangkan aktor Spanyol lain yang mengisi peran Uxbal selain pasangan Penelope Cruz ini, Antonio Banderas misalnya.

Secara keseluruhan, Biutiful memang sebuah tontonan yang benar-benar menyentuh lewat sajian melodramatisnya. Namun, secara subjektif dan jujur apa yang saya rasa, Biutiful tidaklah terlalu berkesan bagi saya pribadi. Hanya permainan jempolan Bardem lah yang membuat saya salut. Karena memang film ini lebih menonjol dalam hal penggalian karakter. Hingga cukup beralasan ketika akhirnya juri-juri Oscar mamasukan nama Bardem dalam jajaran nominator aktor terbaik Academy Awards tahun 2011. Dengan kembali menilai secara subjektif, rasa-rasanya perjuangan ayah penderita kanker ini lebih layak diganjar patung Oscar ketimbang sosok seorang raja yang gagap. Selain itu semuanya terasa tidak ada yang istimewa. Meski begitu tidak bisa dibilang biasa juga, bagus namun tidak istimewa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar