Senin, 09 Agustus 2010

The Last Airbender (2010)


Cast: Noah Ringer, Dev Patel, Nicola Peltz, Jackson Rathbone
Director: M. Night Shyamalan
Writer: M. Night Shyamalan
Genre: Action, Adventure, Fantasy
Rating: 4/10

Sangat disayangkan memang ketika mengetahui satu serial animasi sukses dengan sokongan cerita kuat Avatar: The Last Airbender akhirnya dikendalikan oleh sutradara yang kapasitasnya kini sangat diragukan, M. Night Shyamalan. Bukti nyata bisa kita lihat dengan semakin menurunnya kualitas dari setiap karya yang ia telurkan. Tengok saja dua film terakhir besutannya Lady in the Water dan The Happening. Jauh dari nilai berkesan dan tidak ditemukan adanya twist dari tangan seorang sineas yang dulu disebut-sebut sebagai spesialis penyaji twist.

Satu hal lagi yang membuat serial animasi ini begitu sayang ditangani oleh Shyamalan adalah kenyataan bahwa The Last Airbender masuk dalam genre adventure, fantasi. Sementara kita tahu sendiri genre ini bukanlah lahan miliknya. Selama ini berkutatnya ia dengan drama, mystery, thriller saja boleh dibilang gagal dalam penyajian. Lalu apa pasal ia beralih territory? Ingin coba-coba Shyamalan? Rasanya suatu kesalahan besar menjadikan The Last Airbender sebagai proyek uji cobanya. Bukan apa-apa, terlepas dari karya-karya melempemnya, The Last Airbender merupakan serial animasi yang telah memiliki fanbasenya sendiri. Sehingga, jika proses pemindahan ke layar lebar menuai hasil yang 'tak menyamai serial animasinya tentu akan mengecewakan seluruh fans atau orang-orang yang kadung jatuh hati akan cerita animasi ini. Dan yang paling jelas terkena dampak sial dari semua tentunya sang dalangnya sendiri.

Kekecewaan, ketidakpercayaan dan pandangan sebelah mata akan Shyamalan menangani proyek ini akhirnya terbukti ketika awal Agustus akhirnya film adaptasi ini menjambangi Indonesia. Kisah berawal dari kakak beradik, Sokka dan Katara yang secara tidak sengaja menemukan perwujudan Avatar yang selama ini dicari-cari dalam diri seorang bocah bernama Aang. Dia merupakan satu-satunya pengendali udara terakhir yang menguasai empat elemen air, bumi, api dan tentunya udara. Ia ditakdirkan menjadi seorang avatar yang nantinya mempunyai tugas untuk mengakhiri perang yang selama ini berlangsung.

Awal cerita yang menarik sebenarnya. Namun entah mengapa Shyamalan gagal dalam menunaikan tugasnya. Tidak ada yang menarik atas apa yang ia hadirkan. Setting yang ada terasa begitu biasa karena mungkin kita sudah disuguhi oleh film-film bergenre sejenis yang memang begitu berhasil dalam menampilkan visualisasi juga alur cerita. Dari segi visual effectpun tidak ada yang baru. Hal tersebut semakin diperparah oleh gagalnya proses transformasi para tokoh kartun ke perwujudan manusia.

Kita mulai dengan Aang, secara fisik boleh lah namun EKSPRESINYA MANA EKSPRESINYA? Noah Ringer sang pelakon Aang begitu datar aktingnya. Lalu Katara, dimana di serial animasinya ia digambarkan sebagai sosok gadis belia yang tangguh. Namun apa yang terjadi ketika sosoknya hadir lewat Nicola Peltz? Bukan hanya secara fisik namun karakternya tampak begitu kekurangan darah dengan mimik muka yang begitu capek. Begitu pun Sokka, lewat Jackson Rathbone tidak tersirat sedikitpun wajah bego seperti diserialnya. Satu lagi karakter yang memang begitu penting akan kehadirannya yaitu Prince Zuko. Mengapa harus orang India yang mengisi? Begitu pun sang paman yang tidak tampak berwibawa lewat Shaun Toub yang sialnya malah tampak seperti seorang bawahan dengan wardrobenya yang lusuh. Poin plusnya mungkin tidak ikut sertanya (kembali) Shyamalan dan berakting dalam filmnya ini. Tapi, alih-alih dirinya absen ia malah mengikut sertakan rombongan Indianya dalam Fire Nation.

Malang bagi Shyamalan. Ketika ia akan mencoba kembali berdiri sialnya malah tersandung kembali batu yang begitu besar. Namun sepertinya untung masih dapat diraih olehnya mengingat hasil box office di Amerika Utara meski tidak begitu fantastis, The Last Airbender mampu menembus angka diatas $100 juta. Jadi, kemungkinan akan adanya sekuel? Pasti.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar