Jumat, 27 Agustus 2010

Caramel (2007)


Cast: Nadine Labaki, Yasmine Elmasri, Joanna Moukarzel, Gisele Aouad, Sihame Haddad
Director: Nadine Labaki
Writers: Rodney El Haddad, Jihad Hojeily, Nadine Labaki
Genre: Drama, Comedy
Rating: 8/10

Pada kenyataanya perfilman Hollywood memang mendominasi dalam peredaran perfilman dunia. Selain temanya yang sangat beragam faktor fun pun begitu tinggi dimiliki oleh produk-produk buatan negeri paman sam ini. Tapi tidak sedikit pula para penikmat film kini mulai mencari alternatif lain dalam mencari kepuasan tersendiri dalam hal tontonan yang tidak hanya menampilkan sisi hiburan semata. Dalam hal ini kualitas cerita yang terbilang bagus menjadi suatu poin penting. Film-film Eropa misalnya kini banyak diminati begitu juga film-film dari Asia yang mulai menunjukan geliatnya. Salah satu wakilnya film dari negara yang memang kurang dilirik dunia perfilmannya yaitu Libanon. Ada satu film produksi tahun 2007 yang terasa begitu manis dan renyah sesuai dengan judulnya, Caramel.

Caramel mengisahkan kisah 5 wanita Libanon, pertama seorang pegawai salon bernama Layale yang menjalin hubungan dengan pria yang sudah beristri dimana ia dilanda kegelisahan ketika suatu hari bertemu istri sang pria yang meminta jasanya untuk perawatan diri guna ulang tahun perkawinan mereka. Lalu dua rekan kerja Layale, Nisrine dan Rima yang masing-masing memiliki permasalahan tersendiri. Nisrine tengah kebingungan akan dirinya yang sudah bukan perawan lagi padahal sebentar lagi dirinya akan menikah. Sementara Rima cenderung lebih menyukai sesama jenis. Dua kisah wanita lain ada pada wanita parobaya, Jamale yang mati-matian mempertahankan kemudaannya. Terakhir, perawan tua bernama Rose yang menemukan cinta dihari tuanya namun terhalang oleh kakaknya yang mengalami gangguan mental.

Seperti kita tahu sendiri disekitar tahun 2007 negara-negara semisal Libanon tengah hangat-hangatnya berkembang isu politik dan perang yang melanda negaranya. Hal tersebut nampaknya berdampak pula pada dunia perfilman mereka dimana para sineasnya lebih mengetengahkan tema seputaran isu tersebut. Namun lain hal dengan Caramel, film ini hadir dengan begitu bebas dari unsur muatan politik juga perang. Caramel lebih memfokuskan pada kehidupan para wanita beragam umur dengan ragam masalah yang dihadapi.

Nadine Labaki selaku sutradara sekaligus pemain serta penulis naskah di film ini, dimana Caramel merupakan karya perdananya boleh dibilang berhasil dalam menuturkan setiap konflik karakter yang ada. Labaki dengan sukses mengemas permasalahan yang meliputi cinta terlarang, aturan adat yang begitu kuat, hasrat seksual, permasalahan umur yang selalu ditakuti wanita serta tanggung jawab kepada keluarga diramu secara baik lewat tampilan humor dan drama yang seimbang. Banyak scene menyentuh dan berkesan khususnya lewat karakter Jamale dan Rose. Adapun kegundahan bisa kita rasakan lewat tokoh Layale dan satu scene yang menurut saya sangat pas ditampilkan oleh Rima yang mendapatkan kepuasan hanya dengan membasuh rambut wanita yang dicintainya.

Caramel memang hadir dengan begitu kuat akan aromanya yang sangat wanita. Judulnya sendiri nampak menjadi sebuah perumpamaan akan jalinan cerita difilm ini. Caramel mewakili manisnya kehidupan persahabatan mereka meski masalah pelik menghinggapi masing-masing individu yang diwakili oleh rasa pahit yang dikandung cemilan yang satu ini. Dan bagi kita sebagai penonton, Caramel memberikan suatu tontonan manis yang tersaji dengan begitu enak akan jalinan kisah dan eksekusi yang apa adanya namun sangat pas dan tidak perlu memberikan suatu rangkaian akhir yang bahagia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar