Rabu, 30 Maret 2011

Lake Mungo (2010/After Dark Horrorfest)


Cast: Talia Zucker, Martin Sharpe, Rosie Traynor, David Pledger, Steve Jodrell
Director: Joel Anderson
Genre: Drama, Horror, Mystery
Overall: 8/10

Genre horror sepertinya kini mulai menemukan formula terbaru untuk menakuti para penontonnya. Jika hantu seram yang eksis serta doyan kejar-kejaran dirasa sudah tidak ampuh lagi, gaya mockumentary disertai found footage, rasa-rasanya akan cukup efektif dalam menciptakan suatu atmoser mencekam bagi para audiencenya. The Blair Witch Project (1999) dan Paranormal Activity (2010/Indonesia) adalah dua dari beberapa film yang boleh dibilang sudah berhasil dalam menerapkan teknik semacam itu. Hal ini pulalah yang mungkin mendasari film produksi buatan Australia, yang akhir Januari lalu ikut memeriahkan Dark Horrorfest, Lake Mungo.

Kisah diawali dari laporan keluarga Palmer, yang menyatakan bahwa putrinya Alice Palmer (Talia Zucker), menghilang ketika sedang berenang di sebuah danau bersama adiknya. Pencarian yang alot membuat keluarga Palmer sedikit putus asa, namun selang beberapa hari akhirnya jasad Alice berhasil ditemukan dengan kondisi yang mengenaskan. Cerita tidak berhenti sampai di sini. Kisah utama dimulai ketika keluarga Palmer mulai merasakan berbagai kejadian aneh paska dilakukannya proses pemakaman. Dan hal ini membawa mereka kepada Ray Kemeny (Steve Jodrell), yang dipercaya mampu menerangkan mengenai hal-hal ganjil yang terjadi di rumah itu. Dari sinilah akan terungkap satu persatu misteri dibelakang kematian Alice.

Mengejutkan, itulah kesan terakhir kita terhadap film ini. Dan cukup mengejutkan pula, jika kita menyimak dari poster yang ada serta dari trailer promosi After Dark Horrorfest, Lake Mungo nyatanya sama sekali jauh dari kesan gory. Hal ini juga yang mungkin menjadi alasan mengapa Lake Mungo begitu sedikit tampil di trailer promosi festival tersebut. Karena dari trailer filmnya sendiri pun, kurang begitu menarik.

Jika anda menggemari acara televisi semisal tayangan dokumenter khususnya yang mengangkat tema misteri mengenai keberadaan penghuni dunia lain yang acap kali selalu tertangkap keberadaannya oleh beberapa alat dokumentasi seperti kamera atau videotape, dipastikan anda akan langsung menyukai film berbudget minim asal benua kangguru ini. Lewat beberapa footage yang diselipkan, film arahan Joel Anderson ini berhasil menciptakan suatu kengerian yang berhasil membuat bulu kuduk kita merinding. Namun film horror indie ini pun sebenarnya tidak lepas dari faktor membosankan jika mengingat gaya dokumenter televisi yang diterapkannya. Di beberapa bagian, khususnya ketika dihadirkan scene wawancara, intensitas penonton sedikitnya akan mengalami penurunan. Namun Joel Anderson yang memang sekaligus merangkap tugas sebagai penulis naskah film ini, dengan cerdas membayar rasa boring tersebut dengan beberapa twist yang jempolan.

Jika anda menganggap Paranormal Activity adalah satu sajian horror berbeda dan berhasil membuat anda ketakutan, coba pikirkan kembali. Dibandingkan dengan Paranormal Activity, footage dari Lake Mungo terasa lebih real dan jauh lebih menyeramkan, hingga akhirnya menjadikan footage palsu dari Paranormal Activity semakin terlihat biasa dan tidak ada istimewanya sama sekali. Hal ini pula yang membuat lake Mungo bisa disejajarkan bersama film-film horror yang memiliki level kualitas jauh diatas, khususnya jika disandingkan dengan bebrapa film horror yang dibuat belakangan ini.

Selasa, 22 Maret 2011

Easy A (2010)


Cast: Emma Stone, Amanda Bynes, Alyson Michalka, Stanley Tucci, Patricia Clarkson, Thomas Haden Church
Director: Will Gluck
Genre: Comedy, Romance
Overall: 7/10

Bagi gadis remaja di Indonesia, memiliki modal fisik, kecerdasan dan tampil modis layaknya Olive Penderghast (Emma Stone) tentunya sudah lebih dari cukup untuk menjadi sosok terpopuler di sekolah. Namun kenyataannya, peraturan di Amerika tidaklah seperti itu. Apa yang dimiliki Olive saat ini belumlah cukup dan ia bukanlah siapa-siapa. Hingga akhirnya kehidupan sosialnya pun berubah seketika, akibat satu kebohongan yang ia buat dan diceritakan pada sahabatnya Rhiannon (Alyson Michalka), mengenai hilangnya keperawanan dengan salah satu pemuda yang diakuinya pemuda kuliahan dan tidak sengaja dicuri dengar oleh seorang siswi super religius Marianne (Amanda Bynes) yang menyebarkannya ke seluruh sekolah. Seketika pamor Olive berubah drastis. Bukannya merasa perlu diluruskan, Olive malah memamfaatkan situasi ini untuk mengubah keadaan dirinya yang awalnya bukanlah siapa-siapa menjadi sosok yang wajib dikenal. Dan tanpa disadari olehnya, ajang main-mainnya ini akan membawanya pada masalah besar kelak.

Bagi calon penonton yang berniat menonton film ini, dengan hanya berbekal premis yang ada pastinya akan menilai bahwa Easy A hanyalah sebuah film remaja pada umumnya yang tidak menawarkan sesuatu yang baru dan segar. Namun anggapan tersebut akhirnya akan terbantahkan ketika kita usai menikmatinya dan pasti akan setuju dengan penilainan bahwa Easy A bisa adalah satu tontonan yang istimewa di kelasnya. Anda masih ingat dengan teen comedy Mean Girls yang dibintangi aktris Lindsay Lohan? Apa pendapat anda mengenai film keluaran tahun 2004 itu? Bukan hanya film remaja biasa bukan? Asyik, lucu dan ada sesuatu pembelajaran yang bisa diambil. Kangen rasanya akan tontonan semacam itu, yang tidak hanya mengumbar kemolekan tubuh sang aktris pendukung atau banyaknya sex scene yang dijejalkan. Jika anda merindukan taste semisal tontonan ala Mean Girls itu, di Easy A lah anda bisa mendapatkannya.

Di balik premisnya yang super sederhana, sebenarnya Easy A menawarkan sesuatu yang jauh lebih enak dinikmati, bukannya hal-hal klise yang biasa kita dapat dalam teen comedy yang sudah-sudah. Beruntung bagi Will Gluck yang bisa angkat nama setelah karya jebloknya Fired Up! tempo hari yang menuai hujatan dimana-mana. Hal ini tidak terlepas dari naskah buatan Bert V. Royal. Humor-humor yang tersaji terbilang cukup fresh ditambah dialog-dialog menggelitik yang semakin menambah kelucuan film ini.

Satu hal paling utama yang mengatrol film ini menjadi suatu tontonan istimewa, sebenarnya terletak pada permainan apik bintang utamanya Emma Stone. Bukan hanya bagi Gluck saja, Easy A pun bisa dibilang adalah satu langkah jitu bagi aktris berusia 23 tahun ini, untuk bisa tampil semaksimal mungkin agar pintu karier di masa depan makin terbuka lebar. Di sini ia mampu menjalankan dengan baik tugas peran utama perdananya. Tidak heran dari perannya ini akhirnya membuahkan hasil yang manis baginya, dimana ia berhasil masuk dijajaran aktris terbaik komedi dalam ajang Golden Globe kemarin. Meski begitu, perannya di sini sebenarnya terlihat cukup absurd. Dimana timbul satu pertanyaan apakah ada seorang gadis rela mengorbankan nama baiknya demi kepentingan orang lain? Namun hal ini untungnya tertutupi oleh naskah yang apik sehingga bukanlah benci yang kita layangkan atas tindak tanduk Olive, melainkan rasa simpatilah yang akhirnya kita sumbangkan atas perbuatannya.

Meski masih di bawah Mean Girls, Easy A jelas hadir sebagai sebuah teen comedy yang levelnya jauh berada di atas meninggalkan film-film komedi remaja belakangan ini yang dibuat. Lewat semua aspek yang terbangun sepanjang film adalah bukti bahwa Easy A bukanlah film komedi remaja yang dibuat asal-asalan. Sayang dan heran rasanya juri Golden Globe tidak melirik film ini, guna memeriahkan bursa nominasi Film Terbaik Komedi/Musikal.

Senin, 21 Maret 2011

Biutiful (2010)


Cast: Javier Bardem, Maricel Álvarez, Hanaa Bouchaib, Guillermo Estrella, Eduard Fernández
Director: Alejandro González Iñárritu
Genre: Drama
Overall: 7/10

Alejandro González Iñárritu bisa dibilang merupakan satu sineas spesialis penyaji drama dengan kisah yang diangkat biasanya selalu terasa pahit dan dramatis. Tengok saja dua karya miliknya, 21 Grams dan Babel. Dari cerita yang ada, dimana setiap karakter yang diceritakan hampir selalu mengalami nasib yang kurang baik jika tidak ingin dibilang sial. Dan dari keputusan eksekusinya pun, Inarritu sepertinya pelit dalam memberikan porsi lebih kebahagiaan bagi masing-masing tokohnya sendiri. Format kisah seperti itulah yang kembali diangkat oleh Inarritu lewat karya terbarunya Biutiful.

Biutiful menyajikan kisah perjuangan pahit getir seorang pria bernama Uxbal (Javier Bardem). Dilatar belakangi oleh faktor ekonomi, akhirnya memaksa Uxbal menggeluti pekerjaan yang bertentangan dengan hukum. Dirinya menjadi penyalur tenaga kerja para imigran gelap Cina untuk dijadikan buruh dengan gaji super rendah, juga membantu para imigran gelap asal Senegal untuk mengedarkan semacam produk-produk bajakan. Hal tersebut terpaksa ia lakukan, dikarenakan hanya dari sanalah sumber satu-satunya untuk memperoleh penghasilan guna menghidupi kedua anaknya. Selain itu, Uxbal pun dihadapkan pada permasalahan bersama istrinya yang sedikit mengalami gangguan kejiwaan. Dan bebannya semakin bertambah berat ketika dirinya dinyatakan mengidap kanker dan divonis hidupnya tidak akan berlangsung lama. Pahit memang bagi Uxbal, menanggung beban keluarga, melawan penyakit yang diderita dan mempersiapkan masa depan bagi kedua anaknya.

Bagi penikmat film yang sudah terbiasa dan menikmati gaya penuturan yang dipakai Inarritu dalam film-filmnya, sedikitnya mungkin akan merasa kecewa. Hal ini dikarenakan alur yang dipakai Biutiful berjalan dengan semestinya. Tidak seperti film-film Inarritu sebelumnya yang disajikan secara acak/non-linear. Meski di awalnya kita disiguhi oleh opening yang memang membingungkan. Potensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan pun sangat besar adanya. Dengan hanya satu plot mengenai kisah perjuangan seorang ayah ditambah dengan durasi yang memang terlalu panjang sekitar 148 menit, Biutiful pastinya membutuhkan satu paket kesabaran lebih besar.

Nuansa suram, sesak dan sepi begitu terasa sepanjang durasi lewat tampilan setiap sudut kota dengan tambahan ilustrasi musik yang membuat film ini makin terasa hening. Itu pulalah yang ditampilkan lewat permainan apik Javier Bardem. Karakter rapuh dari Uxbal akibat segala permasalahan yang datang satu persatu pada dirinya, dengan mulus berhasil ia hadirkan. Ekspresi wajahnya khususnya jika kita tilik dari sorot matanya benar-benar menggambarkan bahwa dirinya sedang dilanda kesepian dan kesedihan begitu dalam. Boleh dibilang Bardem lah satu-satunya penolong film ini untuk keluar dari kemonotonan jalannya cerita yang sedikitnya terasa terlalu berlebihan plus sisipan beberapa kisah tidak penting. Entah apa jadinya film ini jika bukan Bardem yang bermain. Susah rasanya membayangkan aktor Spanyol lain yang mengisi peran Uxbal selain pasangan Penelope Cruz ini, Antonio Banderas misalnya.

Secara keseluruhan, Biutiful memang sebuah tontonan yang benar-benar menyentuh lewat sajian melodramatisnya. Namun, secara subjektif dan jujur apa yang saya rasa, Biutiful tidaklah terlalu berkesan bagi saya pribadi. Hanya permainan jempolan Bardem lah yang membuat saya salut. Karena memang film ini lebih menonjol dalam hal penggalian karakter. Hingga cukup beralasan ketika akhirnya juri-juri Oscar mamasukan nama Bardem dalam jajaran nominator aktor terbaik Academy Awards tahun 2011. Dengan kembali menilai secara subjektif, rasa-rasanya perjuangan ayah penderita kanker ini lebih layak diganjar patung Oscar ketimbang sosok seorang raja yang gagap. Selain itu semuanya terasa tidak ada yang istimewa. Meski begitu tidak bisa dibilang biasa juga, bagus namun tidak istimewa.

Kamis, 03 Maret 2011

THE 83RD ANNUAL ACADEMY AWARDS


Terlepas dari beberapa kontroversi yang dibuat juri-juri Oscar atas pilihan mereka mengenai apa dan siapa saja yang didapuk sebagai yang terbaik, Academy Awards tetap dan akan selalu dijadikan sebagai tolak ukur sukses atau tidaknya bagi siapa pun yang bergerak di dunia perfilman. Ajang bergengsi tahunan ini sendiri, telah memasuki tahunnya yang ke-83 dan untuk acaranya sendiri telah usai digelar tanggal 27 Februari waktu LA, yang bertempat di Kodak Theatre. Ada yang berbeda pada perhelatan malam itu, dengan host utama Anne Hathaway dan James Franco sepertinya Oscar kali ini disinyalir ingin menjaring penonton muda lebih banyak. Dan hal itu terlihat dari salah satu format acara semacam parodi beberapa film yang mengingatkan kita pada MTV Movie Awards. Namun demikian menurut badan rating yang ada, acara Oscar malam itu mengalami penurunan rating sebesar 10% dari tahun lalu.

Seolah ingin memberi kejutan seperti yang dilakukan dalam penyelenggaraannya tahun lalu, Academy Awards tahun ini kembali memberikan hasil pilihan terbaik yang berbeda dengan apa yang dipilih oleh ajang Golden Globe, lewat dua kategori utamanya. Dan sebenarnya, keputusan yang diambil juri Academy Awards ini, patut kita berikan pujian atas pilihan mereka mengenai film apa yang dianggap layak memenangkan piala ketimbang film yang lebih banyak dijagokan atau lebih populer.

The Social Network yang sebelumnya didapuk sebagai film terbaik dalam ajang Golden Globe, malam itu gagal meraih gelar Best Picture dalam Oscar tahun ini. Hal yang sama pun dialami sang sineas pembesutnya, David Fincher. Fincher terpaksa harus gigit jari, ketika ternyata bukan dirinyalah yang disebut, melainkan nama Tom Hooper yang keluar sebagai pemenang Best Director. Hooper sukses melangkahi Fincher yang sebelumnya banyak diunggulkan, lewat arahannya dalam film yang mengisahkan seorang raja gagap, The King's Speech. Film kebanggaan Inggris itu pun berhasil meraih gelar Best Picture. Dari ke-12 nominasi yang dikantongi, The King's Speech hanya mampu meraih 4 piala saja. Selain dua yang disebut diatas, film yang dimeriahkan barisan aktor jebolan franchise Harry Potter tersebut, unggul di kategori Leading Actor yang memang sudah dipastikan akan dengan mudah diraih Colin Firth. Dan satu lagi bagi David Seidler di kategori Original Screenplay, yang secara mengejutkan berhasil meyingkirkan Christopher Nolan lewat Inception.

Boleh dibilang malam itu adalah malam penebusan kekecewaan bagi Inception. Seperti kita tahu sendiri, di ajang Golden Globe kemarin, film ini tidak berhasil membawa satu penghargaan pun. Dan di Oscar kali ini, Inception berhasil mengumpulkan 4 piala dari 8 nominasi yang didapatnya. Masing-masing diperoleh lewat beberapa teknis yang memang mumpuni, seperti Cinematography, Sound Editing, Sound Mixing dan Visual Effects. Sementara itu, The Social Network yang memang lebih banyak dijagokan, harus puas hanya dengan memperoleh 3 piala saja, diantaranya dari kategori Adapted Screenplay, Original Score dan Film Editing. Diikuti Toy Story 3 dan The Fighter yang sama-sama mengantongi 2 piala, kemudian Black Swan yang hanya kebagian jatah 1 buah patung Oscar lewat Natalie Portman yang menyelamatkan film ini ketika nyaris menjadi pecundang malam itu.

and the Oscar goes to...

Best Motion Picture of the Year

127 Hours
Black Swan
The Fighter
Inception
The Kids Are All Right
*The King's Speech*
The Social Network
Toy Story 3
True Grit
Winter's Bone

Best Performance by an Actor in a Leading Role

Javier Bardem (Biutiful)
Jeff Bridges (True Grit)
Jesse Eisenberg (The Social Network)
*Colin Firth (The King's Speech)*
James Franco (127 Hours)

Best Performance by an Actress in a Leading Role

Annette Bening (The Kids Are All Right)
Nicole Kidman (Rabbit Hole)
Jennifer Lawrence (Winter's Bone)
*Natalie Portman (Black Swan)*
Michelle Williams (Blue Valentine)

Best Performance by an Actor in a Supporting Role

*Christian Bale (The Fighter)*
John Hawkes (Winter's Bone)
Jeremy Renner (The Town)
Mark Ruffalo (The Kids Are All Right)
Geoffrey Rush (The King's Speech)

Best Performance by an Actress in a Supporting Role

Amy Adams (The Fighter)
Helena Bonham Carter (The King's Speech)
*Melissa Leo (The Fighter)*
Hailee Steinfeld (True Grit)
Jacki Weaver (Animal Kingdom)

Best Achievement in Directing

Black Swan: Darren Aronofsky
True Grit: Ethan Coen, Joel Coen
The Social Network: David Fincher
*The King's Speech: Tom Hooper*
The Fighter: David O. Russell

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

Another Year: Mike Leigh
The Fighter: Scott Silver, Paul Tamasy, Eric Johnson, Keith Dorrington
Inception: Christopher Nolan
The Kids Are All Right: Lisa Cholodenko, Stuart Blumberg
*The King's Speech: David Seidler
*

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published

127 Hours: Danny Boyle, Simon Beaufoy
*The Social Network: Aaron Sorkin*
Toy Story 3: Michael Arndt, John Lasseter, Andrew Stanton, Lee Unkrich
True Grit: Joel Coen, Ethan Coen
Winter's Bone: Debra Granik, Anne Rosellini

Best Achievement in Cinematography

Black Swan: Matthew Libatique
*Inception: Wally Pfister*
The King's Speech: Danny Cohen
The Social Network: Jeff Cronenweth
True Grit: Roger Deakins

Best Achievement in Art Direction

*Alice in Wonderland: Robert Stromberg, Karen O'Hara*
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Stuart Craig, Stephenie McMillan
Inception: Guy Hendrix Dyas, Larry Dias, Douglas A. Mowat
The King's Speech: Eve Stewart, Judy Farr
True Grit: Jess Gonchor, Nancy Haigh

Best Achievement in Costume Design

*Alice in Wonderland: Colleen Atwood*
I Am Love: Antonella Cannarozzi
The King's Speech: Jenny Beavan
The Tempest: Sandy Powell
True Grit: Mary Zophres

Best Achievement in Sound Mixing

*Inception: Lora Hirschberg, Gary Rizzo, Ed Novick*
The King's Speech: Paul Hamblin, Martin Jensen, John Midgley
Salt: Jeffrey J. Haboush, William Sarokin, Scott Millan, Greg P. Russell
The Social Network: Ren Klyce, David Parker, Michael Semanick, Mark Weingarten
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey, Greg Orloff, Peter F. Kurland

Best Achievement in Editing

127 Hours: Jon Harris
Black Swan: Andrew Weisblum
The Fighter: Pamela Martin
The King's Speech: Tariq Anwar
*The Social Network: Kirk Baxter, Angus Wall*

Best Achievement in Sound Editing

*Inception: Richard King*
Toy Story 3: Tom Myers, Michael Silvers
TRON: Legacy: Gwendolyn Yates Whittle, Addison Teague
True Grit: Skip Lievsay, Craig Berkey
Unstoppable: Mark P. Stoeckinger

Best Achievement in Visual Effects

Alice in Wonderland: Ken Ralston, David Schaub, Carey Villegas, Sean Phillips
Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1: Tim Burke, John Richardson, Christian Manz, Nicolas Aithadi
Hereafter: Michael Owens, Bryan Grill, Stephan Trojansky, Joe Farrell
*Inception: Chris Corbould, Andrew Lockley, Pete Bebb, Paul J. Franklin*
Iron Man 2: Janek Sirrs, Ben Snow, Ged Wright, Daniel Sudick

Best Achievement in Makeup

Barney's Version: Adrien Morot
The Way Back: Edouard F. Henriques, Greg Funk, Yolanda Toussieng
*The Wolfman: Rick Baker, Dave Elsey
*

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

127 Hours: A.R. Rahman, Rollo Armstrong, Dido
- "If I Rise"
Country Strong: Tom Douglas, Hillary Lindsey, Troy Verges
- "Coming Home"
Tangled: Alan Menken, Glenn Slater
- "I See the Light"
Toy Story 3: Randy Newman
- "We Belong Together"


Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score

127 Hours: A.R. Rahman
How to Train Your Dragon: John Powell
Inception: Hans Zimmer
The King's Speech: Alexandre Desplat
*The Social Network: Trent Reznor, Atticus Ross
*
Best Short Film, Animated
Day & Night: Teddy Newton
The Gruffalo: Jakob Schuh, Max Lang
Let's Pollute: Geefwee Boedoe
*The Lost Thing: Shaun Tan, Andrew Ruhemann*
Madagascar, a Journey Diary: Bastien Dubois

Best Short Film, Live Action

The Confession: Tanel Toom
The Crush: Michael Creagh
*God of Love: Luke Matheny*
Na Wewe: Ivan Goldschmidt
Wish 143: Ian Barnes, Samantha Waite

Best Documentary, Short Subjects

Killing in the Name: Nominees TBD
Poster Girl: Nominees TBD
*Strangers No More: Karen Goodman, Kirk Simon*
Sun Come Up: Jennifer Redfearn, Tim Metzger
The Warriors of Qiugang: Ruby Yang, Thomas Lennon

Best Documentary, Features

Exit Through the Gift Shop: Banksy, Jaimie D'Cruz
GasLand: Josh Fox, Trish Adlesic
*Inside Job: Charles Ferguson, Audrey Marrs*
Restrepo: Tim Hetherington, Sebastian Junger
Waste Land: Lucy Walker, Angus Aynsley

Best Foreign Language Film of the Year

Biutiful: Alejandro González Iñárritu
- Mexico
Dogtooth: Giorgos Lanthimos
- Greece
*In a Better World: Sussane Bier
- Denmark
*
Incendies: Denis Villeneuve
- Canada
Outside the Law: Rachid Bouchareb
- Algeria

Best Animated Feature Film of the Year

How to Train Your Dragon: Dean DeBlois, Chris Sanders
The Illusionist: Sylvain Chomet
*Toy Story 3: Lee Unkrich
*

Sabtu, 26 Februari 2011

Let Me In (2010)


Cast: Kodi Smit-McPhee, Chloe Moretz, Elias Koteas, Richard Jenkins
Director: Matt Reeves
Genre: Horror, Drama
Overall: 7/10

Owen (Kodi Smit-McPhee) adalah anak laki-laki yang acap kali sering menjadi bulan-bulanan keisengan anak jahat disekolahnya, ketika pulang ke rumahnya pun ia tidak bisa menemukan kenyamanan bagi dirinya. Hanya halaman depan rumahnya lah yang sering kali ia gunakan untuk menghabiskan waktu ketika waktu malam datang. Hingga suatu hari, ia kedatangan tetangga baru, seorang lelaki tua beserta gadis kecil sebayanya bernama Abby (Chloe Moretz). Merasa cocok, akhirnya keduanya pun sering kali menghabiskan waktu bersama hingga menimbulkan ketertarikan satu sama lain. Dari kebersamaan itu terungkaplah tentang siapa jati diri Abby sebenarnya.

Bagi yang hanya sekedar tahu bahwa Let Me In adalah satu film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan inti kisahnya mengenai hubungan seorang manusia dengan vampir, mungkin akan beranggapan bahwa film ini hanyalah sekedar ingin mengekor kesuksesan yang telah dicapai oleh satu film, yang juga menuturkan kisah percintaan dua individu beda dunia, Twilight Saga. Dan memang film yang menghadirkan sesosok vampir charming juga manusia serigala berperut super keren itu kini telah menjadi sebuah fenomena luar biasa di kalangan remaja. Namun, Let Me In jelas hadir dengan paket yang jauh lebih baik jika dibandingkan dengan apa yang disuguhkan lewat franchise unggulan milik Summit Entertainment tersebut. Let Me In mampu hadir sebagai tontonan horror yang menempati level baik dari segala film horror yang akhir-akhir ini dibuat, lewat segala aspek pendukungnya.

Salah satu keunggulan film ini terletak pada penjabaran kisah ikatan kedua tokoh utama Abby dan Owen. Interaksi antar keduanya menghasilkan senyawa yang baik. Dan hal ini tidak terlepas dari hasil kedua pemeran utamanya, Kodi Smit-McPhee dan Chloe Moretz, yang dengan mulus mampu menampilkan setiap emosi dari masing-masing karakter yang dilakoni. Keduanya saling mengisi satu sama lain, karena dari background kehidupan keduanya pun sama-sama jauh dari yang namanya interaksi sosial dengan orang-orang sekitar. Di samping itu, film ini pun tidak lantas menanggalkan satu aspek penting yang dibutuhkan oleh sebuah film horror, dimana Let Me In masih menyajikan beberapa scene sadis dengan tidak lupa menyertakan puncratan darah, namun masih dalam tingkatan yang normal.

Låt den rätte komma in, itulah judul novel yang diadaptasi oleh film ini. Dimana sebelum Let Me In, novel karya John Ajvide Lindqvist ini sendiri, pernah juga diangkat ke layar lebar oleh sineas asal Swedia, Tomas Alfredson, dengan judul yang sama atau secara internasionalnya Let the Right One In di tahun 2008. Hasil adapatasinya ini merupakan sebuah karya yang bermutu dengan bukti mampu ikut serta di berbagai ajang festival bergengsi dunia. Dan hal ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi Matt Reeves selaku sutradara Let Me In. Meski berdalih apa yang dikerjakannya bukanlah suatu remake, melainkan sebuah adaptasi pada satu media buku, tetap saja para penikmat film akan masih menganggap Let Me In adalah sebuah pembaharuan Let the Right One In dan mau 'tak mau pastinya akan dibandingkan dengan film pendahulunya yang sama-sama bermula pada satu sumber. Apalagi jika kita mengingat hasil dari daur ulang beberapa film yang telah dicap bagus untuk dipoles ala Hollywood seenak hatinya, menjadikan rencana akan dibuatnya versi baru Låt den rätte komma in ini, mendapat banyak cibiran dimana-mana. Dan pada kenyataannya pun kesederhanaan dengan paket berkualitas yang terbangun lewat Let the Right One In, tidak mampu disamai oleh Let Me In. Meski film ini sendiri masih menggunakan jasa penulis naskah yang sama dari film pendahulunya, John Ajvide Lindqvist. Mungkin nilai lebih yang dimiliki Let Me In adalah kemasannya yang sedikit komersil atau tampil dengan khasnya film-film Hollywood hingga setidaknya mampu diterima oleh penonton awam. Namun, hal ini sayangnya menjadikan Let Me In tampil hanya sekedar film horror biasa yang 'tak istimewa.

Let Me In sebenarnya berpotensi menjadi sebuah tontonan yang membosankan jika mengingat alur yang cenderung lambat dalam menyampaikan jalinan cerita. Belum lagi ditambah oleh visualisasi atmosphere musim dingin yang tampak begitu sunyi. Dan hal ini akan begitu terasa oleh penonton yang sebelumnya pernah menikmati Let the Right One In. Karena apa yang dihadirkan oleh Let Me In pun, hampir 90% sama dengan apa yang disajikan film pendahulunya, sehingga tiap scene demi scene tidak memberikan kejutan yang berarti. Terlepas dari itu semua, dengan tanpa membandingkan film adaptasi sebelumnya, sebenarnya Let Me In adalah satu tontonan horror berbeda jika mengingat bagaimana hasil film-film horror Hollywood belakangan ini. Sebuah adaptasi yang mulus. Dan jika akhirnya banyak orang beranggapan bahwa ini adalah salah satu film remake, Let Me In jelas jauh dari kesan Hollywood yang sering kali mengobrak-abrik keorisinilan film pendahulunya. Good job Reeves!!!

Minggu, 20 Februari 2011

The Social Network (2010)


Cast: Jesse Eisenberg, Andrew Garfield, Justin Timberlake, Armie Hammer, Rooney Mara
Director: David Fincher
Genre: Biography, Drama, History
Overall: 8/10

Akhirnya datang juga. Setelah lebih dari 2 bulan menunggu tanpa adanya jadwal yang pasti mengenai kapan tayangnya The Social Network di beberapa kota luar Jabotabek, salah satunya Bandung, akhirnya film mengenai situs jejaring sosial Facebook ini muncul juga. Seperti kita tahu sendiri, film ini sebenarnya sudah bisa disaksikan sejak bulan November tahun lalu, namun entah mengapa hanya penonton wilayah Jabotabek sajalah yang bisa menikmati film ini. Sementara penonton di luar daerah Jabotabek terpaksa harus gigit jari, sambil menunggu ketidak pastian akan tayangnya film arahan David Fincher ini. Jadi jangan salahkan, jika pada kenyataannya tidak sedikit penonton yang akhirnya memilih jalur bootleg sebagai sarana menikmati tontonan ini.

Banyaknya penonton yang menjajal The Social Network lewat media bootleg, bukan hanya karena faktor jadwal tayangnya saja yang sangat lambat, respon positif dari beberapa kritikus pun pastinya mempengaruhi kepenasaran audience. Terlebih ketika film ini dinobatkan sebagai film drama terbaik di ajang Golden Globe kemarin. Hal tersebut tentu saja semakin membuat kepenasaran penonton memuncak.

Terlepas dari rentetan pujian kritikus atau didapuknya film ini sebagai yang terbaik versi Golden Globe, sebenarnya film ini sendiri dari jauh-jauh hari sudah bisa disebut sebagai film yang wajib diantisipasi, mengingat nama David Fincher lah yang mengisi jabatan sebagai sutradara. Masih ingat rasanya persembahan amazing-nya lewat The Curious Case of Benjamin Button tahun 2008 lalu. Meski gagal meraih gelar film terbaik di ajang Academy Awards, namun rasanya film tersebut patut dijadikan sebagai bahan pertimbangan akan proyek Fincher berikutnya. Dan boleh dibilang mungkin hanya Fincher lah satu-satunya nama dalam film ini yang bisa dijadikan sebagai penyedot para audience. Karena jika kita tilik dari jajaran cast yang ada, tercatat nama-nama yang kurang begitu menjanjikan. Bagian peran utama diisi oleh Jesse Eisenberg, yang sebelumnya kita kenal lewat beberapa film remaja dan yang paling membekas penampilannya di Zombieland (2009). Berikutnya si manusia laba-laba baru Andrew Garfield lalu ada Justin Timberlake yang masih berkesan sebagai penyanyi yang coba berakting ditambah beberapa nama aktor/aktris kurang terkenal lainnya.

Selain itu dari kisah yang diangkat pun rasa-rasanya tidak akan terlalu menciptakan antusias begitu tinggi. Kisahnya hanyalah seputaran asal-usul bagaimana Facebook dibuat dan beberapa kisah setelah situs jejaring itu terbentuk termasuk kasus yang menimpa sang pencipta, Mark Zuckerberg. Dan pada kenyataannya pun banyak yang beranggapan bahwa kisah mengenai Facebook ini terlalu dini untuk diangkat ke layar lebar.

Diawali dengan opening adu argumen super cepat antara Jesse Eisenberg dan Rooney Mara, sedikitnya memberi isyarat bahwa film ini akan menjadi sebuah tontonan yang lebih banyak menonjolkan rentetan dialog sebagai kekuatan utama jalannya cerita. Dan hal itu terbukti, sepanjang durasi yang ada penonton harus menyiapkan konsentrasi sebaik mungkin untuk tidak melewatkan setiap dialog cerdas yang terucap. Dan hal ini tentu saja tidak terlepas dari jasa Aaron Sorkin sebagai penulis naskah, dimana kisahnya sendiri disadur dari buku bertajuk "The Accindental Billionares: The Founding, A Tale of Sex, Money, Genius and Betrayal" karya Ben Mezrich. Selain itu sisi editingnya pun terbilang istimewa. Dengan gaya penuturannya yang nonlinear, pastinya dibutuhkan hasil editing yang diusahakan mampu membuat penonton untuk tidak merasa kebingungan akan alur maju mundur yang disajikan. Dan hal ini berhasil dikerjakan secara sempurna oleh duo Kirk Baxter dan Angus Wall. Dan kedua elemen ini memang yang paling menonjol disamping music scorenya sendiri yang berhasil ikut meramaikan bursa Oscar.

Memerankan seorang tokoh yang pernah ada/nyata, biasanya selalu menarik perhatian para kritikus begitupun juri-juri di beberapa ajang festival. Hal ini pula lah yang didapat Eisenberg, perannya sebagai Zuckerberg berbuah beberapa penghargaan minimal nominasi. Harus diakui dipilihnya Eisenberg merupakan satu keputusan yang sangat tepat, jika mengingat dari segi fisik keduanya yang hampir menyerupai satu sama lain. Selanjutnya tinggal bagaimana Eisenberg berimprovisasi dalam melakukan tugasnya. Walhasil, aktor berusia 28 tahun ini dengan mulus berhasil menyampaikan sosok karakter individualistis yang jenius sekaligus menyebalkan. Jajaran cast pendukung yang lain pun turut tampil dengan performa terbaiknya. Kredit khusus kita alamatkan bagi Andrew Garfield, penampilannya kali ini oleh dibilang merupakan satu langkah yang bagus darinya, jika kita mengingat akan proyek The Amazing Spider-Man tahun 2012 mendatang. Setidaknya permainan apiknya kali ini mampu memantapkan namanya atas jatuhnya peran Peter parker padanya guna membuktikan pada khalayak kelak. Sementara itu, Justin Timberlake bermain cukup nyaman dan baik meski di beberapa bagian terkesan over. Pujian juga patut kita sematkan pada Armie Hammer yang berperan ganda sebagai si kembar Winklevoss. Ada yang menyangka bahwa mereka adalah satu orang?

Usai menyimak The Social Network, dipastikan tidak sedikit dari penonton yang pada akhirnya penasaran dan menimbulkan satu pertanyaan, apa pendapat Zuckerberg mengenai film ini? Karena jika tilik secara keseluruhan, apa yang dijabarkan sepanjang film tidaklah berfokus pada kejeniusan seorang Zuckerberg dalam menciptakan situs jejaring sosial yang penggunanya sudah mencapai 500 juta itu. Justru kesan yang ada lebih ke arah menyudutkan dirinya, dengan diperlihatkannya beberapa sikap buruk sang jutawan muda, mulai dari melayangkan kata-kata kasar terhadap pacarnya hingga mendepak sahabatnya sendiri (Eduardo Saverin). Ternyata usut punya usut, satu fakta menarik didapat mengenai buku karya Mezrich yang dijadikan adaptasi naskah film ini, ternyata dalam penulisannya, ia dibantu oleh Eduardo Saverin. Itulah mengapa film ini akhirnya tampak seperti sebuah eksploitasi tabiat buruk seorang Zuckerberg.

Terlepas dari itu, The Social Network adalah salah satu tontonan terbaik di tahun 2010 berkat naskah jempolan Aaron Sarkin ditambah kemampuan David Fincher yang mampu meramunya menjadi sebuah dramatisasi berkualitas. Kini kita tinggal menunggu puncak pembuktian kejayaan film ini 27 Februari mendatang lewat ajang Academy Awards. Dan rasanya kali ini juri-juri Oscar akan melakukan kebiasaannya kembali semacam penebusan kesalahan, karena di tahun 2008 silam harusnya Fincher layak untuk dipilih sebagai yang terbaik.

Minggu, 13 Februari 2011

Black Swan (2010)


Cast: Natalie Portman, Mila Kunis, Vincent Cassel, Barbara Hershey, Winona Ryder
Diretor: Darren Aronofsky
Writers: Mark Heyman, Andres Heinz, John J. McLaughlin
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Overall: 8/10

Masuknya Black Swan dalam jajaran terbaik di berbagai ajang festival seperti Screen Actors Guild Awards, Independent Spirit Awards, Venice Film Festival, BAFTA Awards dan terakhir Golden Globes serta ajang penghargaan tertinggi insan perfilman Academy Awards, tentunya menjadi bekal bagi film arahan Darren Aronofsky ini untuk hadir sebagai film drama yang istimewa, terlepas dari premisnya yang sekilas tampak biasa.

Menjadi seorang pebalet professional adalah impian terbesar bagi Nina Sayers (Natalie Portman). Hingga satu ketika datang kesempatan yang dirasa olehnya adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan impiannya tersebut. Kesempatan itu datang ketika harus mengisi satu posisi penting sebagai peran utama dalam suatu pementasan bergengsi bertajuk Swan Lake. Berhasil menyisihkan para pebalet lain dalam memperebutkan peran Swan Queen, tokoh utama dari pementasan itu, tentunya hanyalah sebuah langkah awal. Terlebih karena peran yang akan ia mainkan nanti tidaklah mudah untuk dilakoni. Swan Queen tampil dengan dua sisi emosi yang berbeda, pertama karakter White Queen yang penuh dengan kepolosan dan di sisi lain ada Black Swan yang dirasa oleh Nina, karakter dari Black Swan sungguh berbanding terbalik dengan kepribadiannya. Dan di sinilah letak kesulitannya. Ia tidak mampu menampilkan sisi gelap, menggoda sekaligus sensualnya Black Swan, terlebih ketika Thomas Leroy (Vincent Casel) sang sutradara pementasan, menyebutkan setiap gerakan yang ia tampilkan tidaklah memiliki jiwa. Dan hal ini semakin diperparah oleh kehadiran pebalet lain yaitu Lily (Mila Kunis), yang menurut Thomas lebih cocok dan menguasai karakter Black Swan dan hal ini semakin membebani psikis Nina.

Seperti yang disebutkan di awal, sekilas Black Swan memang tampak seperti sebuah film yang hanya menceritakan persaingan dua pebalet dalam memperebutkan peran penting guna kemajuan kariernya. Namun apa yang ditampilkan Darren Aronofsky, tidaklah hanya berfokus pada premis sederhana itu saja. Kesederhanaan itu kemudian ia kembangkan dengan cara yang mungkin tidak akan bisa dinikmati semua penonton film.

Lembut, anggun, cantik mungkin itu yang biasa kita dapat lewat pementasan balet. Lain halnya dengan Black Swan, di tangan sineas kelahiran 12 Februari 1969 ini, balet berubah menjadi sesuatu yang gelap, berat dan terlihat mengerikan. Coba tengok beberapa elemen yang ada!!! Ambil contoh setting atau kostum hingga setiap karakter. Dipastikan bagi penonton yang hanya mengetahui pengetahuan tentang balet hanya sedikit saja pastinya akan terkaget-kaget atas paparan kisah yang disajikan Aronofsky di sini. Seperti inikah dunia balet? Kemudian dengan adanya beberapa scene mengejutkan ditambah disisipi aroma erotis, kita sebagai penonton terkadang akan lebih merasakan seperti sedang menikmati satu tontonan thriller/horror erotis.

Secara perlahan pula, lebih dari setengah durasi, Aronofsky mengajak penonton untuk mengikuti perubahan karakter sang tokoh utama, Nina Sayers. Polos serta dipenuhi keraguan secara pelan dan pasti, berkembang menjadi karakter yang gelap dan penuh tipu daya, layaknya pergantian dua karakter dalam pementasan yang akan ia mainkan. Dalam proses transformasi itupun, dipastikan sebagian dari penonton akan dibuat kebingungan akan jalannya cerita. Hal ini dikarenakan tidak sedikitnya berbagai hal absurd yang menyertai pencarian jati diri Nina, hingga akhirnya menimbulkan satu pertanyaan di benak penonton, atas apa yang terjadi pada diri seorang Nina Sayers. Apakah ini hanya halusinasi semata ataukah memang kenyataan.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, dimana lebih dari setengah durasi yang ada, cerita lebih berfokus pada karakter Nina Sayers. Tentu saja ini menjadi tugas utama Aronofsky selaku sutradara dalam mengarahkan Natalie Portman agar mengeluarkan totalitas kemampuannya. Dan hal ini berhasil. Boleh dibilang inilah penampilan terbaik dari aktris berusia 29 tahun ini. Portman lebih banyak bermain dengan emosinya ketimbang melapalkan rentetan dialog bersama karakter lain. Dan hal ini sukses ia tampilkan hingga menciptakan satu sosok individualistis yang depresi yaitu seorang Nina Sayers. Portman pun berhasil dalam membawa serta penonton untuk ikut hanyut oleh arus depresi, konflik batin yang dialami Nina. Satu lagi yang patut kita hargai, lewat usahanya dalam melakukan tariannya sendiri. Tidak sia-sia baginya berlatih selama 6 bulan dimana menyisihkan waktu sekitar 5 jam dalam sehari untuk ikut pelatihan balet juga fisik. Walhasil melalui perannya ini, berbagai penghargaan diraihnya termasuk award bergengsi yang sukses didapatnya ketika Golden Globe kemarin sebagai aktris terbaik dalam film drama.

Puncak karier Portman pun akan dibuktikan 27 Februari mendatang lewat ajang Academy Awards. Seperti kita tahu sendiri Portman sukses melenggang masuk sebagai calon terbaik dalam nominasi Best Performance by an Actress in a Leading Role di acara penghargaan ini yang memang disebut-sebut sebagai patokan sukses atau tidaknya bagi siapapun yang bergelut di dunia perfilman. Cukup sulit memang baginya, mengingat ada nama Annete Bening yang juga cukup banyak diperhitungkan untuk meraih gelar terbaik tersebut. Namun rasanya jika kita mengingat beberapa keberanian yang dilakukan Portman dalam Black Swan, seperti hot scenenya bersama Mila kunis, rasa-rasanya hal ini menjadi satu nilai lebih baginya. Jika kita tengok beberapa hasil aktris terbaik dalam ajang ini, sepertinya juri-juri Oscar menyukai akan hal-hal keberanian semacam ini bukan?