Rabu, 19 Januari 2011

Devil (2010)


Cast: Chris Messina, Logan Marshall-Green, Jenny O'Hara, Bojana Novakovic, Bokeem Woodbine, Geoffrey Arend
Director: John Erick Dowdle
Genre: Horror, Mystery, Thriller
Overall: 6/10

Nama M. Night Shyamalan kini memang sedang dalam keadaan terpuruk pasca karya-karyanya setelah Lady in the Water terlebih produk terakhirnya, adaptasi serial animasi The Last Airbender yang mendapat cibiran di mana-mana, kendati hasil raupan labanya menuai senyum cukup puas dan bersiap untuk kelanjutan proyek sekuelnya. Dengan pencapaian rendah berturut-turut tersebut kredibilitasnya sebagai sutradara memang kini dipertanyakan namun di luar itu masih ada sebagian orang yang masih penasaran akan proyek berikut miliknya. Mungkin menilik dari hal itu, satu film terbaru bertajuk Devil produksi Universal Pictures menempatkan nama sineas asal India ini dengan penempatan utama dan diharapkan mampu menjadi satu nilai jual akan filmnya sendiri dan menarik kepenasaran penonton untuk menyimak filmnya. Jika itu adalah salah satu strategi, cukup aneh memang mengingat nama Shyamalan kurang cukup baik untuk saat ini.

Dalam Devil Shyamalan tidak lagi duduk di singgasananya, melainkan dirinya bertugas sebagai penggagas cerita yang ditulis kembali oleh Brian Nelson selaku penulis naskah. Sementara tugas sutradara diserahakan kepada sineas penggarap Quarantine, John Erick Dowdle. Devil mengisahkan kematian tragis yang menimpa 5 orang yang terjebak dalam sebuah lift. Kematian mendadak salah satu penghuni lift tentunya menimbilkan kecurigaan satu sama lain diantara penghuni yang masih hidup. Dan kejadian ini membuat Detective Bowden yang kebetulan sedang berada di gedung yang sama guna mengusut kasus bunuh diri harus ikut serta untuk menangani kasus ini.

Cukup, itulah yang bisa kita sematkan untuk tontonan horror yang satu ini. Ketegangan yang ditampilkan sudah cukup membuat penonton dag dig dug meski tidak sampai ke level terhenyak dari tempat duduk. Jajaran castnya pun tampil dengan porsi yang pas, di sini saya tujukan khusus bagi para penghuni lift. Sementara bagi Chris Messina tidak ada yang spesial dengan tampilannya kali ini, karakternya terasa biasa dan datar. Dengan durasi yang termasuk pendek, Devil sudah cukup dalam meyampaikan keseluruhan cerita. Jika durasi yang dimiliki lebih lama dipastikan cerita yang ada akan terkesan terlalu dipanjangkan karena dengan durasi selama 80 menit pun intensitasnya terasa naik turun terutama ketika mulai menyorot kejadian di luar lift.

Secara keseluruhan Devil memang bukanlah termasuk tontonan horror yang mengena di benak penonton tetapi sudah cukup baik sebagai permulaan jika mengingat ini adalah proyek awal dari sebuah trilogy bertajuk The Night Chronicles dan setidaknya sedikit bisa mengangkat nama Shyamalan kembali, yang di sini ia terasa berusaha keras untuk mempersembahkan kisah rekaan terbaik spesialisnya. Go Shyamalan!!!

Buried (2010)


Cast: Ryan Reynolds
Director: Rodrigo Cortés
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Overall: 6/10

Sempit, pengap dan terisolir itulah yang dirasa ketika usai menonton satu film arahan Rodrigo Cortés yang dibintangi oleh aktor yang baru saja meraih gelar Sexiest Man Alive versi majalah People, Ryan Reynolds. Reynolds sendiri di sini berperan sebagai Paul Conroy, seorang warga Amerika yang berprofesi sebagai sopir truk yang bekerja di Irak dan tiba-tiba saja secara mengejutkan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah peti mati dan terkubur dengan dibekali benda-benda dari sang pelaku pengubur seperti smartphone, pemantik api, pil, senter, minuman beralkohol dan benda menyerupai tongkat berpijar. Lalu apa tujuan Paul dengan dibekali benda-benda tersebut? Semua itu akan terjawab setelah anda menyaksikan 95 menit total durasi dari film ini. Karena di sini pun saya tidak akan menjabarkan inti kisahnya secara detail.

Menilik dari setting juga cast, sebenarnya Buried sangat rentan untuk menimbulkan kebosanan jika sang sutradara tidak pandai-pandai dalam mengarahkan dua faktor utama tersebut. Setting yang ada, dengan hanya menyorot ruang peti mati yang sempit, pastinya resiko untuk memicu kebosanan penonton sangat tinggi. Apalagi Cortés sendiri tidak memberi semacam rehat sejenak bagi penonton guna menghela nafas seperti penggambaran keadaan situasi diluar ketika Paul Conroy berinteraksi lewat telepon, justru Cortés membiarkan penonton terus mendekam mengikuti apa yang tengah dialami oleh sang korban. Dan di sinilah letak faktor monoton yang bisa membuat penonton merasa bosan hingga mengantuk di tengah-tengah durasi. Dan hal itu memang saya alami, mungkin dikarenakan saya sendiri tidak begitu kurang suka dengan film yang hanya menyorot satu tempat saja dan ini dengan begitu sempit nan gelap. Terlalu subjektif memang.

Di luar kemonotonan tadi, hal tersebut teralihkan oleh permainan apik dari Ryan Reynolds. Cukup mengejutkan memang melihat penampilannya di sini. Rasanya sulit membayangkan pria yang baru saja berpisah dari Scarlett Johansson ini pernah tampil konyol di Van Wilder karena apa yang ditampilkannya terbilang sempurna. Bermacam emosi dari karakternya seperti marah, frustasi, putus asa dan sedih mulus ia suguhkan dalam one man show-nya kali ini. Dan hal ini benar-benar membantu keseluruhan film.

Penilaian akan Buried pastinya akan terpecah menjadi dua kubu. Satu sisi, banyak penonton yang menyukai atas pengalaman terbaru dalam menikmati ketegangan yang disuguhkan Buried, namun di satu sisi tidak sedikit pula yang malah tersiksa. Bagi yang menyukai film dengan banyaknya porsi action atau cerita yang disajikan terbilang kompleks pastinya Buried tidak akan begitu mengena dan membutuhkan ekstra kesabaran juga berusaha sekeras mungkin agar tidak mengantuk di tengah-tengah durasi. Seperti yang saya bilang di awal, sempit, pengap dan terisolir sekaligus diakhiri dengan begitu sesak ketika usai menonton dan keluar dari gedung bioskop. Itulah Buried.

Selasa, 04 Januari 2011

10 Best Movies of 2010

Dua belas bulan di tahun 2010 pastinya sudah banyak film yang kita nikmati. Lalu bagaimana dengan hasil atas film-film yang telah beredar ditahun lalu? Pastinya ada yang memberi kepuasan dan ada pula yang dirasa begitu mengecewakan. Kepuasan bisa didapat lewat fun faktor yang tinggi berupa teknologi terkini semacam efek khusus yang memanjakan mata ataupun fasilitas 3D yang membuat acara nonton semakin asyik. Di luar hal itu, kepuasan yang sesungguhnya sebenarnya terletak pada cerita/naskah yang digodok secara matang sehingga menciptakan hasil yang jempolan.

Beberapa film yang dirasa mewakili apa yang saya utarakan tadi, bisa kita dapatkan lewat thriller Martin Scorsese dengan bintang Leonardo DiCaprio, Shutter Island dan sebuah film yang masih dibintangi oleh DiCaprio, satu film hasil ide jenius nan rumit karya Christopher Nolan, Inception.

Selain itu rasanya tahun ini adalah tahunnya film animasi. Dalam list yang saya buat setidaknya ada 4 dari 10 daftar yang ada, diisi oleh film yang kini bukan hanya dinikmati oleh audience dari kalangan anak-anak saja. Toy Story 3 sejauh ini adalah produk animasi yang paling unggul dalam hal cerita sekaligus mengukuhkannya menjadi film paling laris di 2010.

Dan berikut inilah daftar ke-10 film terbaik 2010 versi saya. Semoga berkenan :)

10. Knight and Day

Banyak yang menganggap bahwa film ini sangatlah biasa dan merupakan salah satu penampilan terburuk dari sang cast utama Tom Cruise beserta pendampingnya Cameron Diaz yang terlihat sudah mulai menua. Actionnya standar dan komedinya dikatakan tidak segar. Tapi apa yang rasa justru sebaliknya. Actionnya lumayan menarik meski memang terkesan lebay. Hal lebihnya terletak pada humornya yang berhasil memancing tawa penonton. Memang bukan suatu film luar biasa, Knight and Day sangatlah ringan. Cocok bagi audience yang baru mencicipi genre action. Dan mereka pasti akan suka. Bagi saya di situlah saya berada sebagai penikmat pemula genre ini. Dan Knight and Day berhasil dalam menunaikan tugasnya sebagai tontonan action berbalut komedi sekaligus menjadi pemicu saya untuk mencoba film action berikutnya.



9. Despicable Me

Awal yang baik bagi Illumination Entertainment sebagai pendatang baru di dunia perfilman animasi ditengah gempuran Pixar dan DreamWorks. Melalui Despicable Me sebagai produk perdananya, Illumination Entertainment berhasil menyuguhkan suatu tontonan segala umur yang mengena tentang betapa pentingnya arti sebuah keluarga. Dengan pengisi suara yang efektif menjadikan humor Despicable Me pun terasa segar. Para minion dan Agnes pastinya menjadi bintang di sini.



8. Tangled

Inilah produk terbaik terakhir dari Disney setelah The Princess and the Frog dan Bolt tanpa adanya embel-embel nama Pixar di dalamnya . Kisah putri-putrian yang berhasil disajikan dengan balutan CGI plus fasilitas 3D menjadikan proyek terbaru Disney ini tidak tampak kuno. Fun, manis, colourful dan tentu saja menjadi pemicu Disney untuk lebih percaya diri guna mengembalikan kejayaannya sebagai rajanya studio spesialis animasi.



7. How to Train Your Dragon

Mungkin inilah produk terbaik dari DreamWorks jika bicara dalam hal penuturan kisah. Meski unsur humornya masih di bawah pendahulunya semisal Shrek dan Kungfu Panda, justru How to Train Your Dragon menyimpan kelebihan mengenai jalan cerita yang bagus dan mampu menjaga intensitas penonton. Dan satu lagi, How to Train Your Dragon menampilkan hasil animasi yang jempolan dan memanjakan mata.





6. Salt

Sulit rasanya membayangkan apa jadinya jika tokoh Evelyn Salt bukanlah Angelina Jolie yang melakoni. Dan rasanya karakter mata-mata asal Rusia tersebut memang khusus diperuntukan baginya. Boleh dibilang Salt sangatlah tertolong dengan kehadiran Jolie. Fisik, emosi dan ekspresi total ia tampilkan. Selain itu ceritanya pun terbilang asyik untuk diikuti. Twist, fun dan berisi.





5. Bangkok Traffic Love Story

Inilah satu-satunya film Asia tahun 2010 yang paling mengena. Kelebihan film asal Thailand ini adalah karena unsur humornya yang berhaisl mengocok perut dengan puasnya. Selain itu taste romance-nya pun terasa. Konyol sekaligus menyentuh. Drama komedi yang tentunya berbeda dengan produk-produk Hollywood yang kebanyakan makin tidak lucu dan romantis, menjadikan Bangkok Traffic Love Story adalah satu tontonan alternatif yang pas.



4. Kick-Ass

Terlepas dari sadisnya aksi yang ditampilkan lewat film adaptasi komik karya Mark Millar, Kick-Ass adalah satu tontonan yang menghibur bagi penonton. Action dan komedi yang tersaji berhasil memuaskan para penonton, meski sekali lagi saya katakan terbilang sadis namun terlihat keren. Dan yang jadi bintang di sini? Bukanlah karakter Kick-Ass, melainkan sosok gadis kecil dengan julukan Hit Girl yang dilakoni Chloe Grace Moretz.




3. Inception

Inilah film yang paling banyak ditunggu di tahun 2010 berkat nama sang sineas, barisan cast ditambah sajian trailer yang mencengangkan. Inception memiliki segalanya, efek yang luar biasa, action yang pas, score menggelegar ditambah penampilan dari castnya yang tidak mubazir. Namun yang utama adalah ide jenius dari seorang Christopher Nolan yang tertuang di dalamnya.




2. Shutter Island

Kolaborasi keempat antara Martin Scorsese dan Leonardo DiCaprio ternyata adalah suatu tontonan yang memuaskan. Dalam hal ini mengingat genrenya yang thriller mystery Shutter Island berhasil dalam menutup rapat-rapat misteri yang tersimpan tanpa satu celahpun bisa dilewati. Di bawah The Departed memang, tapi apa yang disajikan di sini bisa dibilang sebuah mahakarya dari seorang Scorsese yang menyajikan satu tontonan thriller mystery yang memiliki ending paling baik tahun ini.



1. Toy Story 3

Siapa yang mampu menyajikan satu tontonan secara seimbang yang ditujukan bagi audience anak-anak sekaligus auidience dewasa? Tiada lain hanya satu yaitu Pixar. Itulah yang ditampilkan lewat produk terakhirnya Toy Story 3 yang terbukti kualitasnya semakin membaik dari 2 seri sebelumnya. Humornya makin segar dengan sisipan kisah menyentuh menjadikan Toy Story 3 sebagai tontonan komplit. Terbaik dan paling berkesan tahun ini. Dan hal ini tentu saja semakin mengukuhkan nama Pixar sebagai studio animasi yang semakin jauh di depan dan sulit untuk dikejar oleh studio pesaingnya. DreamWorks dengan franchise Shrek-nya patut malu terhadap franchise milik Disney-Pixar ini.

Minggu, 26 Desember 2010

Letters to Juliet (2010)


Cast: Amanda Seyfried, Gael García Bernal, Vanessa Redgrave, Christopher Egan
Director: Gary Winick
Genre: Drama, Romance
Overall: 6/10

Sophie (Amanda Seyfried) melakukan perjalanan bersama kekasihnya Victor (Gael García Bernal) menuju kota Verona untuk sebuah urusan menjelang pernikahannya. Yang seharusnya hari-hari mereka habiskan bersama, justru keduanya asyik dengan kegiatan masing-masing. Victor sibuk dengan wisata kulinernya, sementara Sophie menikmati kegiatannya yang disebut sebagai sekretarisnya Juliet. Tugasnya adalah membalas setiap surat yang masuk ke sebuah rumah yang dikenal sebagai Juliet's House. Suatu hari ia menemukan sepucuk surat yang telah tersimpan bertahun-tahun lamanya. Dengan diliputi rasa penasaran ia pun mencoba menyelidiki dan berhasil bertemu sang empunya surat, Claire (Vanessa Redgrave). Dari pertemuan tersebut, akhirnya Sophie bersedia membantu Claire dalam mencari sang pujaan hati yang dimaksud dalam surat tersebut, ditemani cucunya Claire, Charlie (Christopher Egan). Dari perjalanan pencarian inilah, akhirnya Sophie akan mengerti dan menemukan cinta sejati.

Daya tarik dari film arahan Gary Winick ini, selain setting kota Eropa yang begitu indah dan menarik, pastinya datang dari sang cast utama, Amanda Seyfried. Bukan apa-apa, aktris yang namanya mulai mencuri perhatian lewat Mamma Mia!, penampilannya di sini begitu menyejukan mata bagi kaum adam yang menontonnya. Bukan karena kemolekan tubuhnya yang berani buka-bukaan, karena memang tidak ada hal seperti itu disini, melainkan aura manis dari dirinya yang begitu jelas terlihat ditambah dukungan suasana sekitarnya. Setiap hal sampai ke hal kecil, seperti mata atau rambut (pirang) indahnya bagi saya adalah sesuatu yang betah untuk dilihat. Sehingga aneh rasanya dan saya menganggap bodoh Victor, yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama kuliner ketimbang bersama seorang gadis semanis Sophie. Dan jika ditilik pun, Gael García Bernal yang melakoni sebagai sang pacar rasanya kurang klik jika disandingkan bersama Amanda Seyfried.

Dari segi cerita sebenarnya tidak ada yang baru, namun naskah ringan buatan Jose Rivera dan Tim Sullivan cukup menarik untuk disimak meski kenyataanya akhir kisahnya sendiri bisa ditebak. Tontonan semacam ini pastinya akan disukai oleh kaum hawa, namun bagi audience pria sajian ala Letters to Juliet ini dipastikan tidak akan menarik apalagi jika menontonnya seorang diri ditambah suasana hati yang bisa dibilang kurang mendukung dalam hal dunia percintaan. Lain hal jika anda sebagai pria yang sedang merasakan yang namanya jatuh cinta dan menikmati film ini bersama orang yang anda sayang, pastinya anda akan menyukai tontonan yang satu ini. Percayalah, karena itu yang saya rasa. Yukkk...!!!

Sabtu, 25 Desember 2010

TRON: Legacy (2010)


Cast: Garrett Hedlund, Jeff Bridges, Olivia Wilde, Michael Sheen
Director: Joseph Kosinski
Genre: Adventure, Action, Sci-Fi
Overall: 5/10

Satu alasan paling tepat dalam menjabarkan kekecewaan terhadap satu film yang diantisipasi jauh-jauh hari sebelum rilis adalah karena terlalu tingginya ekspektasi yang ditaruh terhadap film yang dimaksud. Hal itulah yang terjadi kepada TRON: Legacy. Bagaimana tidak, dengan menyimak trailer yang ada, sebuah pengharapan akan sajian visual menakjubkan plus kisah memuaskan sehingga menjadi sebuah tontonan terbaik sebagai penutup akhir tahun, pastinya tertumpu pada TRON: Legacy. Namun sayangnya, apa yang didapat penonton terpaksa harus gigit jari begitu usai menyaksikan proyek ambisius milik Disney ini.

TRON: Legacy sendiri adalah sebuah sekuel dari film produksi Walt Disney Pictures tahun 1982 bertajuk Tron. Filmnya sendiri sebenarnya kurang beruntung dalam hal peredarannya begitu juga tanggapan dari para kritikus. Namun belakangan, Tron sendiri banyak meraih simpati dari para penggemarnya sehingga merubah status film ini menjadi cult classic. Melihat antusias tersebut, akhirnya Disney selaku pihak studio mengumumkan mengenai proyek kelanjutan Tron, yang sayangnya bukanlah remake melainkan sebuah sekuel. Mengingat rentang waktu yang begitu panjang 28 tahun, pastinya tidak banyak audience muda yang tahu mengenai kisah sci-fi tahun 80-an ini. Lalu apakah para penonton muda tersebut kebingungan ketika memasuki dunia TRON: Legacy?

Di sinilah awal kesalahan muncul dari naskah buatan Edward Kitsis dan Adam Horowitz yang tidak menjelaskan sama sekali mengenai apa-apa yang telah ada di film pertama. The Grid, User, Programs adalah beberapa istilah yang memaksa penonton untuk menerjemahkannya sendiri. Atau mungkin penonton juga dibuat kebingungan mengapa seorang manusia ujug-ujug bisa masuk dalam sebuah dunia digital. Bukan hanya itu saja, plot kisahnya pun terbilang terlalu biasa tanpa ada greget sama sekali sehingga amat mungkin membuat penonton mengantuk karena bosan dalam menyaksikan adegan yang kurang menarik. Karena di sini pun, action yang disajikan tidak terlalu seru malah cenderung standar.

Mengenai visualisasi atau spesial effect pastinya TRON: Legacy sudah jauh melebihi pendahulunya. Di awal kita pasti akan terkagum-kagum dengan dunianya Tron termasuk peralatan canggih di dalamnya seperti benda menyerupai tongkat kecil yang bisa berubah wujud menjadi motor super keren sekaligus pesawat. Siapa yang tidak takjub dengan hal itu? Namun sepertinya hal itu tidaklah berlangsung lama, rasa takjub yang muncul di awal-awal perlahan mulai menguap tanpa ada kesan dan menjadikan apa yang kita saksikan seolah-olah adalah barang biasa. Lalu bagaimana dengan 3Dnya sendiri? Bagi saya tidak ada istimewanya sama sekali. Efeknya tidak begitu terasa, hampir semuanya hanya diisi cahaya-cahaya lampu neon belaka. Jadi intinya saya sarankan bagi anda yang berniat menonton, cukup menikmati lewat tampilan 2D saja.

Dari barisan cast, tidak ada yang tampil berkesan namun tidak bisa dibilang buruk juga. Aktor muda Garrett Hedlund lumayan baik tampilannya, tapi sayangnya perannya di sini tampaknya tidak akan bisa membuat namanya menjadi aktor muda pendatang yang patut diperhitungkan, perannya disini terlalu biasa. Begitu pun dengan barisan cast lain yang tampil ala kadarnya, tidak terkecuali aktor peraih Oscar, Jeff Bridges atau Michael Sheen yang terlalu British.

Sayang memang, apa yang ditampilkan oleh Disney lewat produk terbarunya kali ini kembali di luar pengharapan. Setelah menuai sukses gila-gilaan lewat Alice in Wonderland dan Toy Story 3, Disney dibuat kecewa dengan hasil dari film adaptasi game Prince of Persia: The Sands of Time dan The Sorcerer's Apprentice. Kini kita lihat saja sendiri apa studio raksasa tersebut bisa menuai sukses lewat produk terakhirnya di 2010 ini, mengingat proyek ini sudah disuntik dana sekitar $200 juta lebih.

Kamis, 16 Desember 2010

Babies (2010)


Cast: Panijao, Bayar, Hattie, Mari
Director: Thomas Balmes
Genre: Documentary
Overall: 6,5/10

Bayi selalu saja memperlihatkan tingkah lakunya yang lucu dan menggemaskan yang pastinya akan disukai oleh orang dewasa, hal itulah yang ingin disampaikan oleh Thomas Balmes lewat karya dokumenternya bertajuk Babies. Dengan durasi yang cukup sekitar 80 menit, Balmes menyuguhkan kehidupan 4 bayi dari 4 negara diantaranya, Panijio yang hidup di tengah gersangnya tanah Namibia, Afrika. Kemudian Bayar yang tinggal di pedesaan terpencil Mongolia, lalu Mari seorang bayi Jepang dan terakhir ada Hattie yang hidup di kota San Fransisco.

Bagi yang kurang berminat akan film dokumenter, anda patut mencoba karya yang satu ini. Babies, boleh dibilang sangatlah berbeda dengan film dokumenter kebanyakan, hal ini terlihat jelas dari tidak adanya sumbangsih suara sang narator guna menjabarkan setiap situasi yang sedang kita tonton. Sepanjang film kita hanya disuguhi tingkah polah dari keempat bayi, baik itu sedang tertidur, menangis, tertawa, berceloteh hingga belajar berjalan. Meski begitu, seperti yang saya bilang tadi apapun yang dilakukan oleh seorang bayi pastinya selalu menbuat orang-orang gemas melihatnya. Dan hal ini berhasil ditampilkan oleh Balmes, di mana usahanya patut kita acungi jempol. Bayangkan saja, Balmes pastinya membutuhkan ekstra kesabaran dalam menyorot kehidupan masing-masing bayi sedari lahir hingga mencapai waktu kira-kira setahun guna mendapatkan moment-moment bagus dari sang bayi.

Satu paling utama yamg membuat dokumenter ini menjadi menarik adalah perbandingan kehidupan dari keempat bintang utamanya. Di satu sisi Hattie, Bayar dan Mari mendapatkan apa yang seharusnya didapat oleh seorang bayi, meski Bayar memang sedikit tidak terpantau. Satu contoh, seperti seringnya ia berinteraksi dengan hewan peliharaan keluarganya. Namun hal itu tidaklah berarti apa-apa jika dibandingkan bersama kehidupan Panijao yang sungguh berbanding terbalik dengan ketiga bayi lain dan rasanya bayi dari Afrika inilah yang lebih membekas di hati penonton. Bukan karena "keterbukaan" dari orang-orang dewasa di sekitarnya melainkan lebih ke arah keprihatinan akan hidupnya. Bayangkan, ketika ia sedang merangkak di tanah, memungut tulang lalu mengulumnya atau bahkan saat ia meminum air tanah. Dan dari pemandangan itulah, kita sudah cukup tahu mengenai penyebab mengapa selama ini bayi-bayi/anak-anak dari Afrika selalu mengalami kesehatan yang buruk.

Di luar kelucuan yang saya jabarkan tadi, sebenarnya Babies menyimpan satu kekurangan. Babies memang tidak tampak seperti film dokumenter pada umumnya, isi dari film ini tidaklah memberikan pengetahuan atau berupa pesan saperti yang biasa kita dapatkan lewat film-film dokumenter kebanyakan. Sekedar lucu-lucuan dan mungkin memang itulah tujuan dari Balmes yang awalnya membuat proyek ini hanyalah untuk menghibur penonton lewat adegan lucu nan imut dari seorang bayi. Menghibur, santai dan tidak perlu bersusah payah dalam mencerna film ini ketika kita menyantapnya.

Sabtu, 11 Desember 2010

Scott Pilgrim vs. the World (2010)


Cast: Michael Cera, Mary Elizabeth Winstead, Ellen Wong, Kieran Culkin, Anna Kendrick
Director: Edgar Wright
Genre: Adventure, Comedy, Fantasy
Overall: 6/10

Jika hanya berbekal menilik dari posternya saja dimana seorang pria sedang memainkan gitarnya dan mengetahui bahwa film ini adalah satu film yang disadur dari sebuah komik, dipastikan bagi siapapun akan kesulitan untuk menerka seperti apa jalan cerita dalam film ini. Film yang diangkat berdasarkan seri komik karya Bryan Lee O'Malley ini memang bukanlah suatu karya populer seperti halnya Spiderman, Batman atau Superman. Jadi tidak heran jika akhirnya ketika film ini mulai dirilis tidak banyak orang yang tahu.

Scott Pilgrim vs. the World pun tidak tampil seperti film adaptasi komik pada umumnya jika dilihat dari sisi cerita. Inti kisahnya terbilang biasa dan dipastikan tidak akan menarik rasa penasaran akan film ini. Seorang pemuda bernama Scott (Cera) harus berjuang keras dalam mendapatkan cinta seorang gadis bernama Ramona (Winstead) namun usahanya tersebut tidaklah mudah dikarenakan Scott haruslah melawan ke-7 mantan pacar sang gadis pujaan.

Dari premisnya tentu kita sudah sering temui dalam film-film remaja. Lalu, apa jadinya jika tema seperti pengejaran cinta seorang remaja yang biasanya dituturkan secara biasa-biasa saja, kini disisipi semisal adu kekuatan ala superhero? Di sinilah letak dimana saya sedikitnya tidak bisa menerima apa yang disuguhkan oleh Scott Pilgrim vs. the World atas keabsurdan dan tidak masuk akalnya cerita. Sebagai bahan perbandingan, jika kita menonton pertarungan superhero dengan kekuatan impossiblenya bahkan melebihi apa yang dimiliki Scott, kita sebagai penonton tidaklah memandang bahwa itu adalah sesuatu yang dianggap absurd, karena apa yang ada didalamnya sudah didukung oleh situasi, orang-orang sampai tempat yang membuat kita langsung menerima tanpa bantahan sama sekali atas satu peristiwa tidak masuk akal yang sedang kita tonton. Lain hal dengan Scott Pilgrim vs. the World, cerita anehnya tidak didukung oleh poin yang saya sebutkan tadi. Satu contoh, saat Scott bertarung seperti saling pukul, ditendang, dilempar ke atas kemudian terhempas ke bawah, tidak ada satupun cedera/luka kecil yang didapatnya. Itulah satu keanehan yang tidak bisa saya terima dari film ini.

Di luar itu, sebenarnya film garapan Edgar Wright ini adalah suatu tontonan yang unik dalam hal penyajiannya. Menonton Scott Pilgrim vs. the World layaknya kita sedang menikmati sebuah komik. Hal ini terlihat dari editingnya yang berpindah cepat khususnya ketika muncul caption sebagai penambah efek suara seperti pukulan, telepon atau bel pintu. Unik, seru dan fun mungkin dirasa oleh sebagian orang atas film ini, namun bagi saya pribadi film ini hanyalah suatu tontonan yang unik dengan daya imajinasi tinggi tanpa cerita yang berarti.