Selasa, 30 November 2010

Tangled (2010)


Cast (voice): Mandy Moore, Zachary Levy, Donna Murphy
Director: Nathan Greno, Byron Howard
Genre: Animation, Comedy, Family
Overall: 7,5/10

Disney sepertinya kini harus mulai percaya diri dalam menciptakan suatu tontonan animasi menghibur sekaligus memiliki kualitas jempolan tanpa adanya campur tangan dari Pixar. Seperti kita tahu sendiri, duet Disney-Pixar boleh dibilang memiliki suatu formula yang tidak dimiliki oleh studio animasi lain sehingga rasanya sulit untuk disaingi. Dari segi cerita bolehlah produk mereka terbilang unggul dengan terdapatnya pesan moral di dalamnya. Namun jika ditilik kembali, meski pesan moral yang ada terbilang bagus rasanya jika mengingat target penontonnya adalah anak-anak, walhasil pesan moral tersebut jadinya terkesan berat. Lalu, kemanakah Disney zaman dulu yang murni menghadirkan tontonan fun bagi anak-anak tanpa adanya sisipan semacam sisi idealis ala Pixar? Terakhir produk murni dari Disney yang paling mengena ada di tahun 2008 yaitu Bolt. Kemudian tahun lalu ada proyek kuno namun dengan hasil manis, The Princess and the Frog. Dengan dua pencapaian yang memuaskan itu, pastinya harus membuat Disney bisa lebih berdiri sendiri dan mengembalikan kejayaan sebagai ahlinya studio spesial animasi.

Tahun ini, Disney kembali hadir dengan proyek animasi terbarunya mengenai kisah fairy tales yang dibalut teknologi CGI ditambah fasilitas 3D. Tangled, itulah judul animasinya. Kisahnya sendiri, bercerita mengenai seorang putri bernama Rapunzel (Mandy Moore) yang sedari kecil diculik oleh seorang wanita bernama Mother Gothel (Donna Murphy). Niat Mother Gothel sendiri adalah untuk memamfaatkan kekuatan yang dimiliki rambut Rapunzel agar dirinya tetap muda. Lalu, suatu hari Rapunzel bertemu dengan seorang pencuri bernama Flynn Rider (Zachary Levy) yang secara tidak sengaja memasuki menara tempat dikurungnya Rapunzel. Rapunzel yang sebelumnya begitu ingin melihat dunia luar, akhirnya memamfaatkan situasi ini dengan meminta si pencuri tersebut untuk menjadi pemandunya. Dari sinilah dimulai petualangannya dalam menemukan kebenaran dan cinta.

Menonton Tangled, boleh dibilang sebagai obat kerinduan bagi siapa saja yang memang menyukai kisah putri-putrian yang dulu selalu disajikan oleh Disney dengan begitu bersahaja dan mengena. Dengan balutan CGI plus 3D tentunya animasi ini akan terasa lebih up to date mengingat tema fairy tales rasanya sudah sangat terbiasa kita saksikan lewat teknik 2 dimensi. Jika sebelumnya The Princess and the Frog dengan percaya diri muncul meski teknik yang dipakai terbilang kuno, itu karena animasi tersebut memiliki modal yang bisa dijadikan sebagai sesuatu yang wajib diantisipasi. Lain hal dengan Tangled, meski animasi tetap berada dalam track cerita yang benar namun terkesan tidak adanya gebrakan baru yang cukup mengejutkan seperti yang dimiliki The Princess and the Frog. Jadi, jika Tangled tetap mengikuti cara The Princess and the Frog dalam hal teknik penyajian, rasanya akan sulit untuk membuat animasi ini dijadikan sebagai suatu tontonan yang layak tunggu.

Efek 3D yang dipakai memang hasilnya tidak begitu mengena, namun hasil dari animasinya terbilang halus ditambah warna-warna yang memanjakan mata. Sementara dari jalinan kisahnya sendiri terbilang seru dan berhasil membuat intensitas penonton terjaga. Unsur humornya lebih berasa jika dibandingkan dengan The Princess and the Frog. Sekuens komedi yang muncul dari tiap karakter terutama saat tok tak Rapunzel dan Flynn terasa begitu segar begitu pula dengan kehadiran si kuda Maximus dan si bunglon Pascal yang benar-benar mengocok perut. Jangan lupa pula, seperti biasa animasi Disney khususnya dengan tema seperti ini selalu disuguhi oleh musikal yang easy listening. Di sini, tentu saja kredit khusus kita alamatkan pada Mandy Moore, bagi saya hal ini sedikitnya mengobati kerinduan saya akan suara manisnya ia saat bernyanyi dan itu terasa begitu pas. Tapi, jangan lupakan pula sumbang suara yang pas dari cast lain seperti Zachary Levy dan Donna Murphy yang selain berdialog merekapun turut bersenandung.

Fun itulah yang saya dapat dari Tangled. Tontonan yang pasti akan disukai oleh anak-anak dan pastinya akan diminati oleh penonton dewasa pula. Lupakan plot cerita yang terbilang biasa, yang pasti saya jamin anda beserta keluarga akan terhibur oleh keseluruhan yang terkandung didalamnya.

Rabu, 24 November 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows: Part 1


Cast: Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Helena Bonham Carter,
Director: David Yates
Genre: Action, Adventure, Fantasy
Overall: 8/10

Jika di bulan Juli lalu ada satu fenomena dimana para remaja putri dibuat klepek-klepek karena kedatangan sebuah franchise yang berisikan para vampir pucat nan charming beserta manusia serigala super keren karena perut kotak-kotaknya, di bulan ini tepatnya tanggal 19 saatnya kita menyambut kedatangan fenomena lain melalui sebuah franchise tersukses dari seri pamungkas bagian pertamanya. Mulai dari bocah, remaja hingga dewasa rasanya tersihir oleh seluruh aspek yang ada di dalamnya. Fenomena tersebut 'tak lain dan 'tak bukan adalah Harry Potter.

Seperti yang kita tahu, jilid terakhir dari petualangan Harry cs yang bertajuk Harry Potter and the Deathly Hallows, dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama dirilis bulan ini tepatnya tanggal 19 sementara bagian ke 2 dipatok untuk edar bulan Juni tahun depan. Kecewa dan ada pula yang senang. Kecewa, karena itu artinya para penonton harus rela bersabar kembali demi menyaksikan aksi Harry dan kawan-kawan dalam menuntaskan tugasnya. Tapi, di sisi lain bagi para fans berat yang tidak rela idolanya cepat berakhir di layar lebar tentunya dengan senang hati menerima kabar tersebut.

Antusias dan sedikit ragu, itu yang saya rasa dalam menanti seri ke-7 bagian pertama ini. Antusias tentunya sudah pasti, mengingat ceritanya yang makin mendekati klimaks. Namun jika mengingat hasil dari seri sebelumnya yaitu Harry Potter and the Half-Blood Prince rasanya sangsi terhadap David Yates selaku sutradara pastinya akan ada. Menuai sukses dan dibarengi oleh pujian para kritikus tidak lantas membuat saya ikut-ikutan menyanjung jilid ke-6 tersebut. Bagi saya The Half-Blood Prince adalah seri film yang paling lemah dari ke-5 jilid sebelumnya.

Bagi yang kurang puas atau sepenuhnya kecewa dengan The Half-Blood Prince, tampaknya jilid ke-7 bagian pertama ini boleh dibilang sebagai obat penghilang kekesalan dan rasanya akan melebihi ekspektasi pula. Memuaskan! Itulah yang saya sematkan untuk Deathly Hallows. Bagi saya, komentar yang dialamatkan tidaklah berlebihan. Deathly Hallows, saya anggap sebagai adaftasi Harry Potter terbaik, itu saya lihat dari berkembangnya cerita yang kini berasa dewasa dan sepenuhnya menanggalkan kesan kekanakan. Steve Kloves yang masih dipercaya sebagai penulis naskah rasanya patut diberi kredit pertama atas skrip adaftasinya yang terbilang berhasil, terlepas dari kejeniusan J.K Rowling selaku penulis novelnya. Setelah itu, David Yates lah yang bertanggung jawab penuh atas suksesnya ia dalam menangani seri ini.

Jika sebelumnya Yates dianggap sebagai orang yang beruntung karena ketidak gagalannya dalam membesut Harry Potter and the Order of the Phoenix, namun entah mengapa ketika menangani jilid berikutnya, ia seakan kurang telaten dalam menerjemahkan seri dari novel yang dianggap paling kelam menjadi suatu tontonan yang cenderung komedi dan membosankan. Menengok apa yang ditorehnya itu, wajarlah jika kemudian tidak sedikit pihak yang menyangsikan atas dipercayanya kembali Yates guna mendalangi Harry Potter the series.

Seperti sebuah penebusan, dengan dibagi duanya seri pamungkas ini, Yates begitu memamfaatkan sebaik-baiknya dengan lebih detail mengarahkan termasuk mengatur barisan cast-nya. Hal ini, tentu saja khusus kita tujukan bagi Radcliffe, Watson dan Grint yang menunjukan tajinya. Sementara yang lain, seperti dukungan dari para bintang Inggris ternama, meski rela tampil minim rasanya mereka pun tidak tampil ala kadarnya. Seperti karakter baru Rufus Scrimgeour yang dilakoni Bill Nighy, kemudian Imelda Staunton, Ralph Fiennes sampai Alan Rickman. Dan tentu saja yang paling menonjol dari jajaran tersebut adalah Helena Bonham Carter. Disini ia kembali bermain total seperti saat pertama kali ia muncul di Order of The Phoenix. Dan rasanya jika kita berbicara mengenai villain, tahun ini sudah pasti milik istri dari Tim Burton tersebut. Seperti kita tahu, tempo hari ia tampil memorable dalam Alice in Wonderland yang menutupi cast lainnya termasuk kharisma dari Johnny Depp.

Harry Potter and the Deathly Hallows bagi saya sudah jelas adalah tontonan yang mengena sebagai film hiburan. Porsi dari action, drama dan komedi hadir dengan porsi yang pas. Kehadiran tokoh Ron yang di seri sebelumnya dirasa annoying dengan kisah cinta konyolnya, kali ini munculnya ia justru menjadi sekuens komedi yang terasa cukup menggelitik. Dari segi action pun jilid ini memiliki amunisi yang cukup sehingga penonton pun tetap terjaga dan tidak dibuat terkantuk-kantuk dari durasi yang terbilang panjang. Terakhir, Deathly Hallows bagi saya adalah film terbaik dari Harry Potter the series yang pernah saya tonton. Hal ini mungkin juga dikarenakan oleh tidaknya saya membaca novelnya sebelum saya menonton filmnya sendiri. Dengan begitu kita sebagai penonton tidak akan terganggu oleh perbedaan/pembabatan plot cerita yang biasa terjadi dari sebuah film yang disadur dari media buku/novel.

Kamis, 11 November 2010

Eat Pray Love (2010)


Cast: Julia Roberts, Billy Crudup, Viola Davis, James Franco, Hadi Subiyanto, Javier Bardem, Christine Hakim
Director: Ryan Murphy
Genre: Drama, Romance
Overall: 5/10

Kegundahan hati Liz Gilbert (Julia Roberts) terhadap kelangsungan rumah tangganya bisa saja terpengaruh oleh seorang peramal Bali bernama Ketut Liyer (Hadi Subiyanto) yang menyebutkan pernikahannya tidaklah berjalan lancar, hal tersebut diperkuat oleh tidak kunjung hadirnya seorang anak di tengah-tengah kehidupan mereka. Dengan kebingungan yang makin menjadi akhirnya Liz memutuskan untuk bercerai. Pasca perceraiannya, Liz bertemu dengan sosok pemuda bernama David (James Franco) yang kemudian menjadi kekasihnya. Namun apa yang dirasa kemudian olehnya tetaplah tidak menemukan satu kepuasan dalam hidup. Dengan keadaan itu, frustasi makin melandanya dan akhirnya ia memutuskan untuk melakukan sebuah perjalanan ke luar negeri dalam mencari keceriaan yang ia lampiaskan lewat makanan di Italia kemudian dilanjutkan dalam pencarian ketenangan spiritual di India selanjutnya berakhir di Bali guna menemukan cinta sejati.

Jujur, sebenarnya apa yang membuat anda tertarik untuk menyimak film terbaru dari Julia Roberts ini? Apa karena faktor Roberts kah? Atau mungkin anda termasuk yang kadung kesengsem akan kisah yang diangkat dari novel karya Elizabeth Gilbert, di mana (katanya) semua cerita di dalamnya adalah kejadian yang dialaminya sendiri. Jika ada yang berniat menonton film ini semata-mata hanya karena faktor Roberts, saya rasa hal itu pastinya sedikit. Mengapa? Karena sepertinya nama seorang Julia Roberts, kini bukanlah menjadi satu jaminan suatu film akan menarik dan bagus. Pasca kemenangannya di ajang Oscar lewat Erin Brokovich rasanya taji dari dirinya sudah mulai memudar, walhasil rata-rata dari film yang ia bintangi boleh dibilang terasa biasa dan 'tak istimewa.

Apa yang didapat dari keseluruhan film ini, bagi saya dan mungkin bagi yang sudah membaca novelnya rasanya sangatlah biasa dan tidak ada yang istimewa. Satu nilai plus hanyalah datang dari vusualisasi keindahan setting kota Italia dan panorama Bali, sementara India hanyalah kekacauan dan frustasi yang dirasa. Sejenak kita ikut terbawa oleh kepuasan Liz lewat serba-serbi makanan yang ia santap beserta tata kota Italia yang menarik, namun setelah dirasa-rasa apa yang kita simak hanyalah eat, eat and eat. Dan jika ditilik kembali sepertinya lebih asyik menonton perjalanan kulinernya Pak Bondan yang memang terasa lebih maknyus. Dilanjutkan menuju India, wisata spiritualnya sama sekali tidak mengena dan teu ngarti 'kalo kata basa sunda mah. Apa yang saya dapat lebih ke arah frustasi dan kacau. Mungkin hal ini dipengaruhi sebelumnya oleh keriangan Italia. Terakhir, inilah yang ditunggu-tunggu dan rasanya hal ini pula yang menjadi tujuan utama untuk menonton film ini yaitu Bali. Di sini, sudah jelas keindahan panorama Bali lah yang lebih banyak berbicara. Sementara segment terakhir dari petualangan Liz yang akhirnya menemukan cinta sejati sama sekali tidak berkesan. Kisah cintanya terlalu terburu-buru dan jika diperhatikan chemistry antara Roberts dan pasangan cintanya dari mulai Crudup, Franco dan Bardem tidaklah kentara.

Penampilan Julia Roberts sebenarnya tidaklah mengecewakan, akan tetapi apa yang disuguhkan lewat kemampuannya tidaklah istimewa. Hal ini dikarenakan karakter yang ia lakoni memang tidak menuntut akting yang berlebih. Sementara dukungan dari cast lain, yang namanya cukup menjual seperti Viola Davis, James Franco sampai Javier Bardem terasa tidak berarti. Satu yang mengena bagi saya, karakter Ketut Liyer yang dimainkan oleh Hadi Subiyanto. Saya suka akan senyum sumringahnya, hal itu secara tidak langsung mengingatkan saya akan sosok Mbah Kakung saya yang juga selalu memberi wejangah-wejangan yang dibarengi senyuman 'polos'nya.

Di luar serba biasanya Eat Pray Love, rasanya kita patut berbangga dengan dieksposenya Bali sebagai latar cerita. Keeksotisan pulau Dewata diperlihatkan dengan cukup baik oleh Ryan Murphy sebagai pembesut dan rasanya hal ini dipastikan akan lebih mengangkat nama Bali (Indonesia) ke tingkat dunia. Hmmmmm satu Indonesia bilang amin...AMIIINNNNN!!!!

Senin, 08 November 2010

Shutter Island (2010)


Cast: Leonardo DiCaprio, Mark Ruffalo, Ben Kingsley, Michelle Williams, Jackie Earle Haley, Patricia Clarkson, Emily Mortimer
Director: Martin Scorsese
Genre: Drama, Mystery, Thriller
Overall: 9/10

Baru-baru ini kekecewaan datang dan rasanya bukan hanya dialami oleh penonton Bandung saja melainkan di beberapa luar kota pun, terpaksa harus gigit jari dikarenakan ketidak pastian datangnya The Social Network di layar bioskop. Bukan hanya kali ini saja, di tahun ini bisa kita sebut ada beberapa film yang rentang waktu rilis boleh dibilang terlampau jauh dengan rilis wilayah Jabotabek khususnya Jakarta. Sebut saja The Lovely Bones dan Shutter Island. Dua film tersebut tentunya begitu ditunggu mengingat nama sineas yang berada di belakangnya. Jika kepenasaran akan Bones perlahan pudar disebabkan review yang kurang positif lain hal dengan Island justru sebagian besar penilaian yang ada terhadap film ini relatif bagus. Di Jakarta tertanggal 3 Maret, Island sudah mulai bisa dinikmati lain hal dengan kota-kota lainnya termasuk Bandung. Butuh waktu sekitar 5 bulan lebih penonton diharuskan sabar dengan sedikit kemungkinan tidak tergoda akan media bootleg ataupun hasil download-an. Apakah hal ini dikarenakan kesalahan teknis dalam segi pemasaran ataukah memang film ini dianggap kurang komersil hingga ditakutkan dijauhi penonton?

Shutter Island mengisahkan seputar kasus penyelidikan yang dilakukan Teddy Daniels (DiCaprio) dan partnernya Chuk Aule (Mark Ruffalo) dalam mencari hilangnya seorang pembunuh secara misterius di sebuah tempat semacam penjara namun berkesan seperti Rumah Sakit Jiwa dengan tingkat keamanan paling ketat bernama Ashecliffe Hospital. Namun setelah beberapa hari penyelidikan tersebut mulai muncul keganjilan di benak Teddy ditambah bayang-bayang kelam masa lalu sang istri yang akhirnya berujung pada sebuah fakta yang benar-benar mengejutkan.

Dengan nama Scorsese sebagai penggarap dan DiCaprio melakoni peran utama tentunya penonton mengharapkan satu tontonan dengan paket berbobot jaminan mutu. Dan dengan berbekal trailer pula rasanya penonton pun dihadapkan satu sajian yang kelak membutuhkan tingkat konsentrasi penuh saat menyimaknya. Walhasil, antisipasi yang timbul sebelumnya memang terbukti. Scorsese sekali lagi menyuguhkan satu sajian yang memuaskan, dimana ini adalah film kedua darinya yang saya tonton setelah The Departed. Meski secara keseluruhan menurut saya Island berada di bawah Departed, namun apa yang saya dapat dari film ini justru melebihi dari ekspektasi saya sebelumnya.

Keberhasilan ini tentunya tidaklah digawean Scorsese sendiri. Dimulai dari barisan cast, tercatat paling utama ada nama Leonardo DiCaprio. DiCaprio di sini sekali lagi berhasil dalam menghadirkan aktingnya yang berkelas dan jauh lebih matang dan sukses menampilkan karakter depresi Teddy. Selain DiCaprio, dukungan nama lain pun seperti Michelle Williams terutama Ben Kingsley tidak ada yang tampil secara mubazir tidak terkecuali para pendukung lain yang meski kebagian porsi yang minim sebut saja Jackie Earle Haley, Patricia Clarkson dan Emily Mortimer.

Dukungan cast memang dirasa paling penting tetapi bantuan dari orang-orang yang tidak diragukan lagi kredibilitasnya semisal penulis naskah dan sinematografer rasanya jadi poin yang wajib diperhatikan. Untuk sinematografer, Scorsese memakai jasa Robert Richardson yang pernah meraih Oscar lewat JFK dan The Aviator, dimana setiap apa yang ia tangkap berhasil dalam memberikan suasana misteri filmnya sendiri. Sementara untuk urusan naskah dipercayakan pada Laeta Kalogridis yang sukses menyadur kisah dari novel Dennis Lehane menjadi satu sajian yang penuh teka-teki beserta twist yang mantap.

Shutter Island bagi saya memang merupakan salah satu tontonan yang memberikan kepuasan dengan semua unsur yang ada di dalamnya. Cerita yang tanpa celah bagi penonton untuk menerka-nerka kira-kira apa yang tengah dan akan terjadi berikutnya bagi saya adalah sesuatu yang bisa membuat betah untuk terus menyimak, namun bagi sebagian penonton mungkin hal tersebut malah membuat rasa lelah keburu hinggap, akan tetapi rasanya kelelahan tersebut akan terbalas dengan ending mengejutkan yang bagi saya ini adalah eksekusi terbaik yang pernah saya dapat. Dengan kenyataan bahwa film ini pernah mengalami pengunduran jadwal rilis dan disinyalir merupakan awal dari kegagalan suatu film, nyatanya hal itu tidaklah terbukti. Dengan hasil box office yang tembus diatas $100juta dibarengi review yang bagus Shutter Island tentunya merupakan sebuah proyek dengan hasil yang sempurna. Sementara bagi saya, yang dibarengi penantian panjang, tentunya tidak sia-sia karena akhirnya kita diberi satu kata, MEMUASKAN!!!

Kamis, 28 Oktober 2010

How to Train Your Dragon (2010)


Cast (voice): Jay Baruchel, Gerard Butler, America Ferrera, Craig Ferguson etc
Director: Dean DeBlois, Chris Sanders
Genre: Animatoin, Adventure, Comedy, Family
Overall: 8/10

Hiccup (Jay Baruchel) adalah seorang pemuda keturunan bangsa Viking dimana sang ayah merupakan petinggi di daerahnya. Namun jika dibandingkan dengan pemuda yang lainnya, Hiccup justru terlihat paling lemah dan tidak tampak seperti seorang keturunan bangsa Viking yang tangguh khususnya dalam melawan seekor naga karena di sini diceritakan bahwa bangsa Viking selalu bertarung melawan para naga. Namun dibalik penampilannya, justru Hiccup menyimpan satu kelebihan yang 'tak dimiliki oleh yang lain. Perlakuan terhadap naga yang dianggapnya salah berhasil ia luruskan dengan menerapkan beberapa cara yang ia temukan lewat seekor naga Night Fury bernama Toothless, jenis naga paling berbahaya yang berhasil ia jinakan. Dari sinilah dimulai usaha Hiccup untuk mengubah pandangan bangsa Viking terhadap naga selama ini termasuk membuktikan kepada sang ayah yang cenderung kecewa akan pribadinya.

Rugi dan menyesal, itulah yang saya rasakan ketika selesai menonton animasi ini. Bukan karena jalan cerita ataupun animasinya tapi lebih karena saya tidak menonton film ini dari awal-awal ketika film ini baru rilis. Saya memang termasuk salah satu yang kurang begitu semangat dengan produk-produknya Dreamworks, misal sebut saja Shrek dan Kung Fu Panda. Kedua film tersebut saya tonton jauh dari waktu rilisnya. Dan walhasil sama seperti yang saya rasa ketika menikmati How to Train Your Dragon (HtTYD), merugi karena telat.

Mengagumkan, itulah yang saya sematkan akan keseluruhan film ini. Fun factor yang dimiliki mungkin masih di bawah Shrek atau Panda namun dari segi cerita justru HtTYD jauh lebih enak untuk dinikmati. Dari awal hingga akhir intensitasnya tetap terjaga. Ceritanya benar-benar menarik. Dan yang paling unggul dari segala sisi adalah hasil dari animasi yang ada. Seperti yang saya sebutkan tadi, mengagumkan dan jika boleh saya bilang HtTYD adalah animasi tahun ini yang paling bagus dalam hal visualisasi sampai saat ini. Setiap gambar yang tersaji begitu detail dan indah. Dan rasanya akan lebih luar biasa jika menikmatinya lewat suguhan format 3D.

Mungkin ada beberapa diantara anda yang sama seperti saya, masih menunda-nunda untuk menonton film ini atau bahkan ada yang tidak tertarik. Mungkin bisa saja dikarenakan anda pecinta berat produk Disney-Pixar dan rasanya sedikit tidak rela film ini menuai pujian dimana-mana, mengingat juga Dreamworks adalah rival terberat dan sepertinya harus berhati-hati juga karena bisa jadi HtTYD akan jadi saingan berat Toy Story 3 (TS3) di ajang Oscar nanti. Saya akui HtTYD memang memiliki hasil animasi yang jempolan tapi jika dibanding TS3 dalam hal kisah, saya pikir lebih mengena animasi milik Diney-Pixar itu. Itu penilaian saya pribadi, tapi yang jelas jika anda menginginkan satu tontonan keluarga yang tidak hanya masuk bagi anak-anak saja tapi juga cocok bagi penonton dewasa, anda wajib mencoba mencoba animasi yang satu ini.

Senin, 25 Oktober 2010

Eternal Summer (2006)


Cast: Bryant Chang, Hsiao-chuan Chang, Kate Yeung
Director: Leste Chen
Genre: Drama
Overall: 7/10

Unsur seksualitas, saat ini memang sangat lumrah digunakan dalam sebuah film. Baik itu hanya sekedar tempelan belaka ataupun sebagai sajian menu utama. Penyajian secara normal atau heteroseksual tentunya sudah sangat umum, namun ada pula unsur yang dihadapkan pada penonton adalah sesuatu yantg boleh dibilang menyimpang, dalam hal ini yaitu homoseksual. Sudah banyak film yang menyisipkan ataupun sepenuhnya mengangkat tema yang masih dianggap tabu ini walaupun sebenarnya keberadaan homoseksual sekarang ini sudah mulai berani secara terang-terangan muncul kepermukaan. Termasuk di dunia film yang rasanya memang begitu banyak yang sudah hadir dan secara tidak langsung memberi tahu kepada kita tentang keeksisan kaum ini. Ada yang dibuat pure sensual belaka tapi tidak sedikit pula yang hadir dengan paket bermutu. Beberapa film bisa kita sebut seperti Maurice (1987), Brokeback Mountain (2005), Milk (2008) serta wakil dari Asia, No Regret (2006) dan Eternal Summer (2006).

No Regret pernah saya review sebelumnya dengan segala keberanian dan kejujurannya. Kini giliran Eternal Summer yang hadir dengan segala kesederhanaannya namun mengena. Bercerita tentang cinta segitiga lebih tepatnya cinta segitiga 'tak normal antara tiga sahabat Jonathan, Shane dan Carrie. Jonathan dan Shane sudah bersahabat dari bangku sekolah dasar, ketika memasuki sekolah menengah munculah Carrie yang diam-diam menyukai Jonathan hingga pada suatu hari ia mengajak Jonathan untuk menyewa sebuah kamar dan mengajaknya untuk melakukan hubungan intim. Namun entah mengapa tiba-tiba Jonathan menolak dan dari sini muncul kecurigaan Carrie yang mengisyaratkan bahwa Jonathan adalah penyuka sesama jenis dan di sini mungkin saja ia menyukai sahabatnya Shane. Waktu berjalan sampai mereka memasuki bangku kuliah, ketiganya masih menjalin persahabatan hanya saja kini Carrie menjalin hubungan bersama Shane tanpa diketahui oleh Jonathan, namun lama kelamaan hubungan mereka pun diketahui juga olehnya. Sakit hati dan kecewa menyelimuti Jonathan hingga akhirnya melakukan sebuah 'kenekatan' sementara itu rasa menyesal menyelimuti Shane dan Carrie hingga berbuah 'tindakan' Shane yang semakin memperburuk jalinan persahabatan mereka.

Bagi penonton umum, khususnya yang kurang begitu suka akan genre drama apalagi jika kita mengingat tema yang ada, walhasil mungkin rasa bosanlah yang akan didapat. Mengapa demikian? Ini dikarenakan oleh alur dari film ini berjalan dengan begitu perlahan, namun justru disinilah kuncinya. Dengan tidak terburu-buru, kita sebagai penonton akan lebih merasakan sisi emosional dari cerita yang ada dan kita pun seperti ikut terbawa oleh apa yang dirasakan dari ketiga tokoh utama. Dan hasilnya disini tentu saja, cara ini berhasil dalam menggali cerita dan pengembangan karakter secara maksimal. Ketiga tokoh utama pun menyatu hingga menciptakan chemistry yang pas. Satu lagi poin plus dari film ini adalah penggambaran sosok gay di sini tidaklah stereotype seperti yang diperlihatkan di film-film sejenis.

Eternal Summer memang sebuah tontonan pure drama. Dan bagi anda pecinta drama bermutu rasanya patut untuk menjajal film yang satu ini. Memang temanya tabu, tapi disini tidaklah dijabarkan dengan begitu gamblang namun hadir dengan porsi pas sehingga menciptakan suatu cerita yang terasa real dan mampu membuat penonton dengan mudah bisa menerima. Sederhana namun mengena, itulah Eternal Summer.

Rabu, 20 Oktober 2010

Aftershock (2010)


Cast: Jingchu Zhan, Chen Li, Fan Xu
Director: Xiaogang Feng
Genre: Drama
Overall: 5,5/10

Aftershock merupakan sebuah film yang ceritanya sendiri berdasarkan kisah nyata dimana China pernah diguncang gempa terbesar di tahun 1976. Dan film ini juga di buat berdasarkan novel dengan judul yang sama karya Zhang Ling. Filmnya sendiri berkisah tentang sebuah tragedi yang menyebabkan satu kelurga terpisah karena bencana gempa. Gempa dengan kekuatan besar meluluhlantakan kota Tangshan dan memakan banyak korban termasuk keluarga Fang Qiang, dimana ketika ia hendak menyelamatkan anak kembarnya, malang ia malah tertimpa reruntuhan gedung sementara kedua anaknya pun ikut tertimbun di reruntuhan itu. Sang istri kemudian berusaha untuk menyelamatkan kedua anaknya yang didapati masih hidup, namun akhirnya ia dihadapkan pada keputusan yang teramat sulit untuk ia ambil.

Di awal film kita disuguhi oleh visualisasi gempa yang boleh dibilang cukup meyakinkan untuk ukuran film Asia. Namun jangan samakan dengan 2012 misalnya, karena memang sangat jauh (mungkin mengingat dari budget yang ada juga kali ya). Ceritanya sendiri tidak menitik beratkan pada tragedi gempa. Bencana tersebut hanyalah latar belakang untuk jalinan kisah yang akan disampaikan sepanjang film, dimana porsinya lebih banyak menyuguhkan drama keluarga sebagai sajian utama yang sayangnya hasil yang ada (bagi saya) justru membosankan.

Awal-awal film sebenarnya kita sudah disuguhi oleh kisah yang mengharu biru. Akan tetapi, setelah menuju cerita dua plot utama antara Fang Deng dan Fang Da yang beranjak dewasa, intensitas dari film ini terasa kedodoran dengan dipenuhinya durasi film oleh keseharian mereka yang sebenarnya tidaklah penting dan menarik. Film ini pun dieksekusi dengan kurang memuaskan dan itu terasa dari scene-scene yang dihadirkan dengan cepat hingga kesannya ingin segera menyudahi film yang durasinya sudah terlalu panjang itu. Hal ini semakin dibuat kecewa dengan dicomotnya tragedi lain sebagai penghubung kisah untuk membuat klimaks yang ada dan rasanya hal ini malah terkesan dipaksakan.

Aftershock bagi sebagian orang memang merupakan film yang begitu emosional namun bagi saya film ini termasuk yang mengecewakan khususnya dari segi naskah. Kendati begitu film ini masih menyimpan nilai yang cukup dari para pemainnya dalam menyampaikan emosi dari karakter yang mereka lakoni ke hadapan penonton. Menyimak Aftershock rasanya seperti menyaksikan serial drama Korea/China beberapa episode dalam satu waktu.