Jumat, 30 Juli 2010

(500) Days of Summer (2009)


Cast: Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschanel
Director: Marc Webb
Writers: Scott Neustadter, Michael H.Weber
Genre: Comedy, Drama, Romance
Rating: 8/10

Boy meets girl. Boy falls in love. Girl Doesn't. Tagline yang sederhana namun begitu mengena bagi siapapun yang membacanya khususnya laki-laki (termasuk saya) yang mungkin mengalami apa yang digambarkan lewat tagline milik film kecil mengesankan bertajuk (500) Days of Summer.

(500) Days of Summer mengisahkan tentang seorang penulis kartu ucapan Tom Hanson (Gordon-Levitt) yang menemukan keceriaan dalam hidupnya setelah bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang sekretaris ditempat perusahaannya bekerja, Summer Finn (Deschanel). Tom begitu yakin pada Summer bahwa ia adalah satu-satunya takdir dalam hidupnya sehingga ia begitu bersemangat menjadikan hubungan mereka lebih serius sementara Summer justru sebaliknya dikarenakan ia 'tak percaya akan namanya cinta ia menganggap hubungannya dengan Tom hanya sebatas teman.

Sebelumnya saya tidak begitu tertarik dengan (500) Days of Summer mengingat filmnya sendiri yang bergenre komedi romantis. Bukan apa-apa, melihat dari beberapa film yang dibuat belakangan ini dengan hasil yang mengecewakan membuat saya tidak begitu bersemangat untuk menonton film yang berada dalam genre ini. Dipakainya formula yang itu-itu saja dengan menghadirkan suatu kisah percintaan klise dimana sebesar apapun masalah yang terjadi antara pemeran utama pria dan wanita atau begitu besarnya perbedaan prinsip diantara keduanya tapi ujung-ujungnya tetap saja mereka akan bersatu juga dengan alasan saling mengisi satu sama lain.

Lain hal dengan (500) Days of Summer secara mengejutkan film ini tampil dengan begitu mengesankan dalam menghadirkan suatu tontonan yang enak untuk diikuti. Kisah yang dihadirkan begitu mengena karena apa yang tersaji didalamnya merupakan kisah keseharian yang tampak tidak dibuat-buat dan berlebih sehingga kita yang menontonnya pun serasa ikut masuk dalam cerita. Setiap scene yang ada terasa begitu romantis dengan tampilan rasa yang berbeda lewat penuturan non-linear yang tidak 'ngejelimet.

Marc Webb selaku sutradara dimana (500) Days of Summer merupakan karya perdananya dilayar lebar boleh dibilang berhasil dalam menuturkan kisah kasih 'tak sampai lewat editing yang sempurna plus musik yang terasa memorable dalam mengiringi setiap adegan yang ada. Mungkin ini juga dikarenakan Webb sendiri sebelumnya merupakan sutradara video klip sehingga film ini banyak scene yang begitu sejalan dengan musiknya. Satu lagi yang menurut saya ini adalah satu scene yang brillian dimana harapan dan kenyataan milik Tom Summer ditampilkan secara visual. Scene tersebut benar-benar menggelitik sekaligus terasa nyeuri dan mengingatkan saya akan masa lalu yang (sedikit) persis seperti itu.

Tanpa harus menempatkan bintang papan atas sebagai cast utama film ini lebih memilih bintang kurang terkenal (mungkin mengingat budget juga kali ya) guna mengisi pemeran utama. Dan walhasil film ini sukses dalam menampilkan suatu jalinan kedua tokoh dengan chemistry yang terlihat sangat pas. Itu terasa lewat dialog antara Tom dan Summer yang mengalir apa adanya. Joseph Gordon-Levitt tampil begitu polos nan ceria ketika sedang mengalami yang namanya jatuh cinta dilain sisi ia juga tampil dengan begitu merana ketika mengalami yang namanya putus cinta. Sementara Zooey Deschanel tampil dengan begitu egois namun disisi lain ia tampil dengan begitu manis sehingga kita sebagai lelaki pun 'tak kuasa untuk menghujatnya.

This is not a love story. This is a story about love. Ini bukan sebuah kisah cinta. Ini sebuah kisah tentang cinta. Tagline lain dari film ini. Bingung memang, tapi anda akan mengerti sendiri ketika sudah menontonnya. (500) Days of Summer saya tekankan merupakan tontonan yang wajib dicoba khususnya bagi anda yang memang sudah bosan akan tontonan komedi romantis. Tidak asal-asalan, sisi lucu sekaligus romantis ditambah musik yang manis ada pada film ini. Satu hal yang bisa dipetik...perjuangkanlah cintamu walau pahit yang 'kan terasa.

Sabtu, 24 Juli 2010

Agora (2009)


Cast: Rachel Weisz, Max Minghella, Oscar Isaac, Rupert Evans
Director: Alejandro Amenabar
Writers: Alejandro Amenabar, Mateo Gil
Genre: Drama, History, Romance
Rate: 5/10

Ada dua hal yang membuat saya tertarik untuk menonton film terbaru dari Alejandro Amenabar yang bertajuk Agora. Pertama, terpampangnya sosok Rachel Weisz dengan begitu cantik pada poster lalu cerita yang akan disajikan (katanya) mengenai seorang wanita ahli matematika, astronomi sekaligus filosofi bernama Hypatia. Nama Hypatia sendiri memang tidak begitu sering terdengar atau bahkan tidak disinggung sedikitpun dalam sejarah peradaban dunia. Padahal jasanya terhadap ilmu pengetahuan tidaklah kecil.

Dikisahkan Hypatia (Weisz) merupakan sosok wanita yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan didaerah tempat tinggalnya yang bernama Agora yang terletak didaerah Alexandria bagian utara Mesir. Keahliannya dalam bidang matematika, filosofi khususnya astronomi ia ajarkan kepada murid-muridnya. Banyak hal yang ia yakini termasuk menegaskan bahwa bentuk bumi itu bulat dan termasuk salah satu planet yang mengelilingi matahari yang menjadi pusat tata surya. Namun sayangnya apa yang ia yakini ditanggapi oleh kaum Kristen sebagai keyakinan penganut agama dewa atau paganisme dan hal itu tentu saja membuat kaum Kristen berang dan berniat memusnahkan bukan hanya Hypatia tetapi seluruh rakyat Agora.

Sebenarnya kisah mengenai sosok Hypatia merupakan premis yang menjanjikan guna menarik penonton atau bahkan masyarakat umum yang memang begitu tertarik akan sejarah seorang wanita yang disebut-sebut sebagai wanita pertama yang memberi kontribusi besar pada pengembangan matematika. Namun pada kenyataannya cerita mengenai Hypatia sangatlah minim dihadirkan dan sayangnya Amenabar selaku sutradara terlalu fokus pada pertikaian antar agama yang digambarkan begitu kacau dan ternyata hasilnya tidak begitu enak untuk diikuti. Jika anda pernah menonton satu tayangan sejarah mengenai perkembangan suatu agama seperti itulah adanya Agora tetapi apa yang dihadirkannya tidak lebih baik mengingat ini adalah sebuah film bukan suatu tayangan konsumsi televisi. Sehingga cerita inti sebenarnya yang berhubungan dengan Hypatia seperti beberapa pemikiran baru akan ilmu pengetahuan seakan mengganggu jalannya cerita. Mungkin hanya kisah cinta besama Davus-lah (budak Hypatia) yang sedikit penasaran tapi sayangnya hal itu juga tidak terarahkan dengan baik.

Melihat alur kisah seperti itu tentunya penonton dibuat kebingungan sendiri begitu usai menonton film ini. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang ingin disampaikan Amenabar lewat karya terbarunya ini. Amenabar pun selaku sutradara sekaligus penulis naskah bersama Mateo Gil terlihat seperti tidak tahu pasti hendak dibawa kemana arah dan tujuan jalan cerita yang bersetting-kan zaman Mesir kuno ini. Eksekusi yang dihadirkan pun terasa sangat kurang memuaskan. Mungkin nilai plusnya adalah setting juga kostum yang dihadirkan pas dalam menggambarkan zaman yang dimaksud. Visualisasi daerah Agora terlihat detail digambarkan terlihat dari beberapa bangunan yang berdiri cukup megah.

Begitu minimnya porsi sosok Hypatyia untuk diceritakan menjadikan begitu sia-sia pula kehadiran Rachel Weisz disini walau tidak bisa dibilang mengecewakan juga (termasuk penampilan 'polos'nya ^^). Sehingga rasanya tidak perlu memasang aktris dengan akting berkualitas Oscar karena memang pada akhirnya perform sang aktris mudah begitu saja dilupakan saking tidak begitu istimewanya karakter yang diperankan. Sayang begi Weisz yang lagi-lagi film yang dibintanginya tidak mampu mengangkat namanya setelah The Brothers Bloom dan The Lovely Bones kurang begitu baik dalam peredarannya.

Sebagai sebuah tontonan yang berdasar pada sejarah Agora boleh dibilang berhasil dalam menyajikan visual yang megah namun sayangnya Amenabar seakan lupa akan fokus inti sang karakter utama yang seharusnya lebih banyak digali olehnya. Sehingga akhirnya penontonpun merasa tidak begitu penting terhadap sosok Hypatia yang sebenarnya memberikan pengaruh yang besar terhadap ilmu pengetahuan pada zaman peradaban manusia.

Kamis, 22 Juli 2010

NO REGRET (2006)


Cast: Young-hoon Lee, Nam-gil Kim
Director: Hee-il Leesong
Writer: Hee-il Leesong
Genre: Drama
Country: South Korea
Duration: 113 min

Masalah homoseksual memang selalu jadi bahasan yang tabu. Banyak kontroversi tentang keberadaran mereka yang (memang) dianggap sebagai sesuatu yang salah dan selalu tidak diterima dengan kehidupan yang mereka jalani. Kontroversi inilah yang kemudian memunculkan perlakuan masyarakat yang kurang wajar dilingkungannya karena memang apa yang mereka jalani berada diruang lingkup yang tidak wajar pula. Konsekuensi yang mereka terima pun sangatlah besar. Bukan hanya perseorangan saja yang selalu mendapat perlakuan tidak adil tapi tampaknya dalam bidang bentuk apapun yang berhubungan dengan kata homoseksualitas atau bahasa kerennya 'gay' pastinya tidak akan mendapat tempat termasuk didunia perfilman. Brokeback Mountain dan Milk contohnya meski kedua film tersebut memiliki kualitas yang jempolan lewat jalan cerita juga performa akting brilian dari para pemainnya dan masuk dalam jajaran terbaik dalam setiap ajang festival tapi kenyataannya dua film itu tidak mendapat tempat dihati penonton umum yang menganggap Brokeback Mountain dan Milk suatu film yang 'tak layak tonton. Tidak adil memang.

Ditahun 2006 ada dua film yang bertemakan gay yang bisa dibilang mewakili Asia dalam menyajikan tontonan drama bermutu, Eternal Summer dari Taiwan dan No Regret dari Korea Selatan. Khusus kali ini saya akan membahas No Regret karena memang film ini tampil dengan begitu 'terbuka' dan 'mengejutkan' untuk ukuran film Asia.

No Regret mengisahkan seorang pemuda bernama Su-min (Young-hoon Lee) yang mengadu nasib ke ibu kota (Seoul) dengan pengharapan memperoleh kehidupan yang lebih baik. Berbagai macam pekerjaan mulai ia ambil sebagai buruh pabrik, sopir paruh waktu hingga OB disebuah restaurant. Tapi nyatanya usaha keras yang ia kerjakan tidaklah membawa hasil yang baik mengingat biaya hidup dikota besar amatlah tinggi. Lalu sebuah tawaran datang dari bar khusus kaum gay untuk menjadi seorang gigolo. Awalnya tawaran tersebut tidak membuatnya tertarik namun karena desakan keuangan yang makin sulit ditambah ia baru kehilangan pekerjaan akhirnya ia pun menerimanya. Perubahan mulai ia rasakan khususnya dalam hal materi yang begitu mudahnya ia dapatkan tanpa harus bekerja keras. Kini apa yang ia dapatkan jauh melebihi apa yang ia dapat sebelumnya. Hingga suatu hari munculah Jae-min (Nam-gil Kim) yang pernah ia jumpai dimasa lalu dan menaruh harapan padanya tetepi ia tolak. Kini Jae-min kembali berusaha untuk mendapatkan cinta Su-min kembali. Melihat keteguhan Jae-min, Su-min mulai bimbang antara dua pilihan, cinta ataukah pekerjaan (harta)?

Hee-il Leesong selaku sutradara dimana No Regret merupakan karya pertamanya boleh dibilang berhasil dalam mengubah kisah buatannya sendiri yang memang klise dan terlihat biasa menjadi sebuah tontonan multi konflik yang menarik. Alur cerita berjalan dengan begitu baik dalam mengisahkan kehidupan Su-min dari masa kesusahan hingga masuk dalam dunia prostitusi sampai bertemu Jae-min. Kisah cinta mereka yang memang mendapat porsi banyak dikisahkan dengan berliku dan membuat penonton penasaran akan seperti apa ujung dari romansa antara Su-min dan Jae-min. Selain itu konflik Jae-min dengan keluarganya juga beberapa orang disekitar Su-min meski hadir dengan porsi sedikit tapi tidak serta merta mengganggu jalannya cerita.

Selain peran sutradara yang pandai dalam mengatur jalannya cerita penampilan para pemainnya pun menjadi poin penting guna melengkapi sempurnanya suatu film. Young-hoon Lee dan Nam-gil Kim yang tampil sebagai cast utama berhasil tampil luar biasa dalam menjiwai karakter yang mereka mainkan khususnya dalam bagian sex scene yang secara mengejutkan ditampilkan begitu eksplisit untuk ukuran film Asia bahkan melebihi Brokeback Mountain dan Milk.

No Regret memang tampil begitu terbuka dan terkesan jujur dalam bercerita dengan dipenuhi unsur ketelanjangan pria dewasa sehingga tak satupun hal-hal positif yang dapat kita ambil setelah selesai menonton. Namun terlepas dari itu semua No Regret secara keseluruhan merupakan tontonan menarik dari jalan cerita yang dipenuhi moment-moment menyentuh dan berliku yang mengisyaratkan hubungan cinta terlarang memang 'tak akan pernah berjalan mulus. Jika film-film sebelumnya yang memiliki tema sama pada sisi eksekusi selalu diakhiri dengan tragis lain halnya dengan No Regret yang tampil dengan ending yang 'mengejutkan' sekaligus 'lucu'.

Sangat susah memang bagi kita (sebagai orang normal) untuk menikmati tontonan yang memiliki tema tabu seperti ini. Tapi, sekali lagi saya katakan No Regret merupakan film yang wajib anda coba khususnya bagi anda pecinta drama bermutu. Saran saya jika ingin menikmati film ini tanggalkan sejenak atribut 'kenormalan' anda dan berlakulah layaknya seorang pecinta film sejati.

Minggu, 18 Juli 2010

INCEPTION




Inception boleh dibilang merupakan summer movies yang paling banyak ditunggu-tunggu karena faktor Christopher Nolan yang sebelumnya sukses berat lewat film superhero adaptasi komik The Dark Knight. Selain karena faktor Nolan tercatatnya nama Leonardo DiCaprio sebagai cast utama termasuk dukungan dari Joseph Gordon-Levitt, Ellen Page dan Marion Cottilard otomatis menjadikan film ini sebagai tontonan yang sangat layak tunggu. Rasa penasaran dan antusias para moviegoer semakin memuncak ketika trailer Inception muncul dimana dalam trailer tersebut ditampilkan satu scene yang mencengangkan disaat jalanan dan gedung-gedung bertingkat terlipat dengan anehnya.

Dengan melihat beberapa trailer yang ada sebenarnya kita bisa sedikit memprediksi alur kisah film ini akan seperti apa namun seperti yang kita tahu sendiri dengan melihat kapasitas Nolan pastinya akan ada semacam gebrakan serta kejutan yang tidak menimbulkan keraguan sedikitpun.

Alur kisahnya sendiri menceritakan Dom Cobb (DiCaprio) yang memiliki kemampuan memanipulasi pikiran seseorang lewat mimpi. Dikisahkan pula bagaimana (kehidupan) keluarganya menjadi korban karena kemampuannya itu. Begitu tawaran datang dari Saito (Watanabe) yang menjanjikan kehidupan bersama keluarganya, Dom beserta rekan-rekannya (Gordon-Levitt, Hardy, Page dan Rao) akhirnya menerima tawaran tersebut meski misi yang diambilnya sangatlah sulit dengan resiko yang besar.



Dengan slot edar dimusim panas tentunya Nolan tidak ingin membuat kecewa para produser yang telah mengucurkan dana sebesar $160juta guna proyek terbarunya ini. Dengan tidak bertindak sesuka hati menerapkan rekaan alur kisah yang terasa berat, gelap dan rumit sehingga sulit untuk dinikmati oleh penonton khususnya yang hanya mencari hiburan semata Nolan tetap menerapkan sisi komersil yang terlihat dari effect yang menciptakan visualisasi megah juga suguhan aksi yang menakjubkan. Mengenai aksi meski berada dalam tema cerita yang mustahil namun aksi yang disuguhkan tidak seperti dalam film action kebanyakan yang sering berada diluar nalar. Aksi dari Dom dan kawan-kawan masih tetap berada dalam logika dan terlihat jauh lebih seru ditambah iringan score dari Hans Zimmer walau mungkin score dalam Inception terasa tidak se-menggelegar score The Dark Knight yang memang ditangani pula oleh Zimmer.

Leonardo DiCaprio sebagai cast utama tetap menampilkan aktingnya yang makin berkelas seperti yang ia tampilkan sebelumnya lewat Shutter Island. Kapasitasnya sebenarnya sama saja, coba tengok karakter yang ia mainkan dalam film besutan Martin Scorsese itu. Berperan sebagai seorang suami yang selalu dihantui oleh masa lalu dari insiden sang isteri, itulah yang ia tampilkan dalam Inception. Barisan pendukung lain juga bermain dengan pas sesuai porsinya masing-masing, mungkin Joseph Gordon-Levitt lah yang lebih mencuri perhatian dengan berhasil tampil baik dalam menerjemahkan aksi dari ide nya Nolan. Tengok saja aksi dari Arthur ketika bertarung tanpa gravitasi dikoridor hotel telihat begitu keren.

Apa yang ditampilkan Nolan lewat Inception memang berhasil membuat penonton terkagum-kagum dengan ide briliannya ditambah suguhan aksi yang seru juga effect yang megah. Ekspekstasi ketika menonton dari trailer yang menimbulkan antisipasi akan suatu tontonan yang berkualitas dan membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Mungkin kasus ini sama halnya seperti apa yang menimpa pada Shutter Island yang memang berangkat dari nama sineas yang tidak diragukan lagi kapasitasnya, Martin Scorsese. Kedua film tersebut memang berhasil menyuguhkan tontonan berkualitas dengan konsentrasi tingkat tinggi. Tapi lain halnya dari segi eksekusi jika Shutter Island memberikan kepuasan yang mencengangkan, Inception hanya terasa (cukup) puas saja. Tapi sangat tidak bisa dibilang mengecewakan juga. Itu mungkin dikarenakan begitu rajinnya saya membaca review termasuk menonton semua trailer yang ada sehingga mengganggu keasyikan menonton film ini.

Sekali lagi, meski bukan termasuk karya terbaik Nolan dan berada dibawah level The Dark Knight tetapi apa yang ditampilkan lewat Inception adalah satu idenya yang jenius. Nolan sukses memaparkan cerita dalam visualisasi yang menakjubkan dengan alur kisah yang teratur lewat scene demi scene yang sempurna dan lebih dari itu kita bisa menyikapi dan mengambil pembelajaran atas apa yang dialami sang pelaku utama Dom. Pembelajaran apa itu? Tentunya anda bisa menebaknya sendiri ketika anda siap untuk masuk didunia mimpi Nolan dan menikmatinya.

Senin, 12 Juli 2010

SHREK FOREVER AFTER

Tahun 2001 banyak orang yang jatuh cinta pada film animasi yang membuat DreamWorks Animation menjadi rival terberat Disney-Pixar, Shrek. Bagaimana tidak dengan dukungan dari Mike Myers, Cameron Diaz, Eddie Murphy dan Antonio Banderas (sekuel) sebagai pengisi suara serta sajian humor-humor segar membuat Shrek yang awalnya hanya ditujukan untuk anak-anak ternyata mampu meyedot perhatian penonton dewasa. Melihat dari sisi kualitas yang bagus dan juga hasil box-office yang tinggi para produser kemudian merilis sekuel pertama ditahun 2004 dengan kualitas yang sedikit menurun tapi menuai hasil box-office yang fantastis. Seolah ingin meraih keuntungan yang lebih besar ditahun 2007 sekuel kedua Shrek kembali dirilis dan hasilnya tetap saja menuai perolehan tinggi yang berbanding terbalik dengan kualitas yang dimiliki.

Meski rasa bosan akan penuturan yang itu-itu saja dan juga humor-humor yang mulai terasa garing tidak lantas membuat para bos besar yang berada dibelakangnya menyudahi petualangan Shrek dan kawan-kawannya. Hingga pada tahun ini dibulan Mei sekuel ketiga Shrek kembali muncul.



Bagian ke-empat mengisahkan kehidupan Shrek yang berubah total setelah berkeluarga bersama Fiona dan memiliki 3 anak dan yang paling parah dirasa olehnya adalah ia tidak ditakuti lagi malah dijadikan sebagai idola oleh rakyat Far Far Away. Ditengah kebosanannya sebagai mahluk ogre yang diidolakan kemudian ia bertemu dengan Rumpelstiltskin yang memberi janji akan mengubah kehidupan Shrek kembali kesemula sebagai mahluk ogre yang mengerikan dan juga ditakuti banyak orang dengan satu syarat yang nanti akan disesali olehnya.

Shrek Forever After sangat cocok sebagai tontonan anak-anak tapi bagaimana dengan audience dewasa? Jangan berharap kita menemukan kembali humor-humor segar seperti yang kita dapat pada jilid pertama. Pada opening scene kita sudah disuguhi candaan-candaan garing yang hanya membuat kita tersenyum sungging padahal kita hanya mengikuti para penonton bocah yang tertawa. Cerita berubah menjadi lumayan menarik ketika Shrek mulai melakukan perjanjian bersama Rumpelstiltskin. Humor-humor yang disajikanpun mulai membuat kita ikut tertawa walau tidak sampai pada tingkat terbahak-bahak itupun karena adanya Puss in Boots. Ya Puss in Boots lah yang menjadi penyelamat serial ini. Karakter yang di isi suara oleh Antonio Banderas ini memang selalu lebih menarik perhatian penonton dengan tingkahnya termasuk ketika ia mulai memasang tampang memelasnya.

Secara keseluruhan Shrek bagian ke-empat ini memang tak mampu memberikan kepuasan pada penontonnya seperti pada jilid pertama bahkan pada jilid kedua sekalipun. Shrek kini hanya cocok untuk kalangan anak-anak saja. Dan sesuai judul alternatifnya yang bertajuk Shrek The Final Chapter mudah-mudahan seri yang ini memang yang terakhir dan benar-benar final. Akan tetapi jika hasil box-office yang dituai tinggi seperti para pendahulunya bukan tidak mungkin akan muncul kembali jilid ke-lima dari mahluk berwarna hijau ini.

adeeko_spears

PRINCE OF PERSIA: THE SANDS OF TIME

Prince of Persia: The Sands of Time boleh dibilang satu-satunya harapan untuk membangkitkan kembali film-film yang diadaftasi dari video game. Bagaimana tidak dibalik proyek film ini ada nama sutradara yang angkat nama lewat drama bagus Four Weddings and a Funeral, Mike Newell. Selain Newell ada nama Jerry Bruckheimer yang sebelumnya sukses lewat trilogi Pirates of the Carribean yang juga sama-sama bernaung dibawah bendera Walt Disney.



Kisah dimulai dengan asal muasal Dastan (Jake Gyllenhaal) yang awalnya hanya seorang anak yatim piatu jalanan yang kemudian diangkat sebagai keturunan kerajaan Persia. Berikutnya dimulailah kisah petualangannya hingga bertemu Putri Tamina (Gemma Arterton) yang memiliki pisau sakti berisi pasir pengembali waktu yang diincar oleh seorang pihak kerajaan Persia yang ingin mengambil alih kekuasaan yang menimbulkan fitnah terhadap Dastan. Dari sini dimulailah petualangan Dastan yang sebenarnya untuk balas dendam, melindungi pisau sakti dan cinta.

Sebagai film petualangan fantasi PoPTSoT andalan utamanya memang special effect dan juga aksi yang membuat penonton betah duduk dibangku bioskop. Jika dibandingkan dengan Clash of The Titans yang beberapa bulan lalu saya tonton PoPTSoT bisa dibilang lebih baik tapi untuk porsi aksi khususnya Dastan yang memang dalam game-nya sendiri diceritakan lihai lompat sana-lompat sini hasilnya malah terkesan lebay sehingga tidak terlalu asyik untuk ditonton.

Untuk jajaran cast-nya sendiri bagi saya tidak ada yang terlalu menonjol. Peran Dastan yang sebelumnya saya pikir cocok untuk Orlando Bloom (jika dilihat dari gambar game-nya) tapi akhirnya jatuh ke Jake Gyllenhaal terasa biasa-biasa saja tapi tidak bisa bilang buruk juga.Untuk Putri Tamina yang dikenal akan kecantikannya yang kesohor lewat Gemma Arterton terasa pas walau diawal-awal agak kurang suka. Sedang untuk Ben Kingsley yang disini berperan sebagai sosok antagonis kurang begitu terlihat sosok jahatnya mungkin dikarenakan porsinya yang memang sedikit.

Untuk Mike Newell selaku sutradara yang memang lebih banyak mengarahkan film bergenre drama sekali lagi mampu membuktikan kepiawaiannya mengarahkan film petualangan fantasi setelah sebelumnya berhasil lewat Harry Potter and the Goblet of Fire.

Secara keseluruhan PoPTSoT berhasil dalam menyajikan kebutuhan utama bagi para penikmat film yang hanya mencari hiburan semata diluar jalan ceritanya yang klise. Dan jika dibandingkan dengan film-film adaftasi game sebelumnya PoPTSoT sudah melebihi para pendahulunya terutama karya-karya buruk dari Uwe Boll. Dan apakah PoPTSoT mampu mencetak box office yang fantastis? Ketika tulisan ini saya buat untuk pemutarannya di Amerika Utara film ini hanya mampu meraup $ 59,6 juta saja. Sepertinya film-film adaftasi game memang ditakdirkan untuk tidak panen besar-besaran ya.

adeeko_spears

Minggu, 11 Juli 2010

DESPICABLE ME

Dalam urusan film animasi Disney-Pixar maupun DreamWorks boleh dibilang yang paling merajai dalam genre ini. Sudah banyaknya produk yang dihasilkan dengan perolehan box office yang tinggi ditambah kualitas animasi yang bagus membuat dua studio tersebut sukar untuk disaingi oleh studio-studio baru yang mencoba peruntungannya lewat jalur animasi. Sejauh ini mungkin Blue Sky Studios lah yang beruntung dan memantapkan diri lewat saga Ice Age juga dua karya sebelumnya seperti Horton Hears a Who! dan Robots. Dan jangan lupa ada animasi jempolan dari Sony Pictures Animation, Cluody with a Chance of Meatballs. Tahun ini kembali satu studio baru bernama Illumination Entertainment mencoba peruntungannya dengan menelurkan satu animasi perdananya bejudul Despicable Me.





Despicable Me
mengisahkan seorang pria dewasa bernama Gru yang bergelut didunia kejahatan yang pamornya tidak kunjung naik malah semakin menurun ketika penjahat baru yang lebih muda bernama Vector berhasil mencuri Piramida menggunakan alat penciut ciptaanya. Melihat berita kesuksesan si penjahat baru, Gru kemudian berniat untuk mencuri alat penciut milik Vector guna melancarkan ambisinya untuk menjadi penjahat nomor satu dengan melancarkan misi besarnya yaitu mencuri bulan. Dari sinilah dimulai adu taktik dan licik keduanya termasuk mengadopsi 3 anak yatim piatu oleh Gru yang pada akhirnya akan menyadarkannya apa sebenarnya yang dibutuhkan olehnya.

Dengan promosi yang tidak jor-joran dan penempatan jadwal rilis yang percaya diri berada diminggu-minggu demam Twilight Saga masih panas-panasnya, Despicible Me memberikan kejutan yang istimewa lewat jalinan cerita juga animasi yang jempolan.
Illumination Entertainment selaku studio animasi baru boleh dibilang berhasil dengan proyek pertamanya ini. Lupakan cerita inti yang sangat tidak mungkin karena memang begitulah adanya suatu film animasi. Lelucon-lelucon segar lewat kekonyolan dan ucap para karakter benar-benar sangat menghibur. Gru yang tampil dengan ambisi dan rencananya yang selalu gagal, Vector dengan berbagai alat super canggihnya, Dr Nefario dengan faktor usianya, 3 gadis cilik Margo, Edith terutama Agnes yang bikin gemes chiku chiku cik *cubit pipinya Agnes karena saking lucunya* dan jangan lupa para minion yang tampil dengan tingkah konyol dan bahasa anehnya juga karakter-karakter lain seperti Miss hattie, Mr Perkins dan Gru's Mom yang bukan hanya sekedar tampil dan semakin menambah kelucuan film ini.

Dari barisan cast para aktor dan aktris sukses memberikan sumbangsih suaranya yang berhasil menghidupi masing-masing karakter. Kredit khusus kita alamatkan pada Steve Carrel dengan logat anehnya berhasil membawakan Gru dan Russel Brand dengan mengejutkan mampu mengisi suara Dr. Nefario dengan sangat uzur. Selain itu yang cukup mengena ada Jason Segel yang mengisi suara Vector dan Elsie Fisher yang mengisi suara Agnes.

Dari segi cerita Despicable Me memang berada dibawah Toy Story 3 yang baru saja kita tonton. Tapi apa yang ditampilkan lewat film ini begitu mengena dihati penonton. Bukan hanya humor yang kita dapat tapi pesan yang tersampaikan lewat scene-scene sisipan kisah masa kecil Gru yang begitu menyentuh begitu jelas apa yang ingin disampaikan lewat ending animasi ini. Keluarga, yup keluarga seberapa tinggi jabatan, kekuasaan dan materi tidak akan cukup untuk menggantikan nilai yang begitu tinggi dari sebuah jalinan yang bernama keluarga.

Akhirnya secara keseluruhan Despicable Me memang suatu tontonan yang sangat menghibur dan sangat cocok untuk ditonton seluruh keluarga. Dan rasanya sangat tepat memasukan film animasi ini sebagai film yang layak tonton ditahun ini. Dari segi cerita dan animasi yang jempolan dan membuat para penonton puas tentunya memberikan kepercayaan diri bagi Illumination Entertainment untuk merilis karya-karya selanjutnya yang mungkin akan menyaingi Disney-Pixar. Let See!!!